Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile – Sebelum kompetisi Serie A dihentikan karena pandemi Covid-19 pada bulan Maret, Lazio berada di peringkat kedua klasemen sementara menempel ketat “Si Nyonya Tua” Juventus yang berada di puncak klasemen. Perbedaan poin antara Lazio dengan “Si Nyonya Tua” pun sangat tipis, hanya satu poin saja. Akan tetapi setelah kompetisi Serie A dilanjutkan kembali pada bulan Juni, performa Lazio menurun drastis hingga terlempar ke posisi keempat.

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Menurunnya performa Lazio ternyata tidak terlepas dari menurunnya performa striker andalan mereka, Cirro Immobile. Setelah kompetisi Serie A dilanjutkan kembali, Immobile cenderung menjadi tumpul. Saingan Immobile dalam urusan cetak mencetak gol di Serie A adalah penyerang kawakan Juventus, Cristiano Ronaldo. Berbeda dengan Immoblie, Ronaldo tampil konsisten dan tetap produktif pasca kompetisi Serie A diputar kembali. Margin torehan gol Immobile dengan Ronaldo sebelum kompetisi Serie A dihentikan karena pandemi Covid-19, cukup jauh. Immobile telah mencetak 27 gol, sementara Ronaldo baru 21 gol.

Tetapi pasca kompetisi Serie A diputar kembali, Ronaldo mampu mengejar dan menyamai koleksi gol Immobile. Ronaldo, dari delapan pertandingan yang telah dijalani pasca pandemi Covid-19, mampu mencetak 9 gol. Artinya setiap pertandingan rata-rata Ronaldo bisa mencetak satu gol lebih. Sementara Immobile, dari delapan pertandingan hanya mampu mencetak sepertiga dari jumlah lesakan gol Ronaldo, yakni tiga gol saja. Terlihat jelas penurunan performa Immobile. Sekarang posisi pencetak gol terbanyak atau top skor sementara Serie A dipegang oleh Immobile dan Ronaldo. Keduanya sama-sama telah mengoleksi 30 gol. Siapakah diantara keduanya yang akan menjadi top skor Serie A.

Saat ini Serie A tinggal menyisakan 4 pertandingan lagi. Masih ada waktu untuk Cirro Immobile mengasah kembali ketajamannya. Sementara bagi Cristiano Ronaldo, merupakan kesempatan untuk terus tampil konsisten dan produktif. Akan tetapi melihat dari performa keduanya saat ini, Cristiano Ronaldo sepertinya berada di atas angin. Cristiano Ronaldo diperkirakan akan mampu melampaui koleksi gol Immobile dan menjadi top skor Serie A Italia. Sedangkan Immobiile yang tampil angin-anginan sepertinya berat untuk terus bersaing dengan Ronaldo.

Pada partai ke-34 yang dilangsungkan beberapa jam yang lalu, menjadi ajang pembuktian ketajaman Ronaldo kala Juventus membungkam Lazio, 2-1. Dalam pertandingan itu Ronaldo berhasil mengungguli Immobile. Ronaldo mampu memborong kedua gol bagi Juventus pada menit ke-51 dan menit ke-54, sementara Immobile hanya bisa membalas satu gol di menit-menit akhir menjelang pertandingan usai. Bagaimana pun Cristiano Ronaldo adalah penyerang kawakan produktif nan berpengalaman. Ronaldo telah terbukti mampu menaklukkan kompetisi sepakbola di empat neggara Eropa berbeda. Pertama kali Ronaldo main di Sporting Lisbon (Portugal), kemudian Manchester United (inggris), Real Madrid (Spanyol), dan saat ini Juventus (Italia).

Cristiano Ronaldo juga termasuk pemain yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Hal itu ia buktikan kala koleksi golnya tertinggal jauh dari Immobile dengan margin 6 gol. Akan tetapi perlahan tapi pasti Ronaldo kemudian mampu mengejar dan menyamai koleksi gol Immobile. Posisi Juventus saat ini yang memilki kans lebih besar dari tim lain untuk menjadi juara Serie A, bisa menjadi faktor lain yang menjadikan Ronaldo jadi top skor Serie A. Hal itu dikarenakan biasanya seorang top skor lahir dari tim juara. Walau pun hal itu tidak selalu menjadi “rumus”. Seandainya Cristiano Ronaldo mampu konsisten dan produktif mencetak gol dalam tiap pertandingan minimal satu gol, maka predikat top skor Serie A bisa dalam genggaman.

Tetapi dengan catatan, jika performa Immobile tidak membaik, tampil angin-anginan. Persaingan memperebutkan top skor Serie A saat ini praktis hanya antara Ronaldo dan Immobile. Pemain lain sepertinya sudah tidak akan mampu bersaing. Penyerang Internazionale Milan, Romelu Lukaku memang berada di posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sementara. Akan tetapi selisih koleksi golnya sangat jauh jika dibandingkan Ronaldo dan Immobile. Saat ini Lukaku baru menorehkan 21 gol.

Artinya dengan sisa empat pertandingan lagi, jika Lukaku ingin melampaui torehan gol Ronaldo dan Immobile, maka ia harus mampu mencetak gol paling tidak 10 gol. Itu juga dengan catatan Ronaldo dan Immobile tidak mencetak satu gol pun dalam empat pertandingan sisa. Hal itu sepertinya mission impossible bagi Lukaku. Kans pemain lain selain Ronaldo dan Immobile untuk menjadi top skor Serie A tahun ini hampir pasti tertutup. Sebab hanya Ronaldo dan Immobile lah yang masih memiliki peluang itu.

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi – Lionel Messi gagal membawa Barcelona juara Liga Spanyol musim 2019-2020. Namun, pemain berusia 33 tahun itu membuat pencapaian individu luar biasa. Messi kembali menjadi pencetak gol terbanyak Liga Spanyol. Ini jadi pencapaian ketujuh bagi Messi dan membuatnya memecahkan rekor Telmo Zarra.

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi memastikan menyabet gelar Pichichi setelah membuat dua gol kala Barcelona mengalahkan Alaves 5-0, Minggu (19/7/2020). Gol Messi dibuat di menit 34 dan 57. Tiga gol lain Barcelona dibuat Ansu Fati menit 24, Luis Suarez menit 54, dan Nelson Semedo menit 75.

Dua gol ke gawang Alaves membuat Messi total mencetak 25 gol di LaLiga musim 2019-2020. Jumlah itu unggul empat gol dari saingan terdekatnya, striker Real Madrid Karim Benzema. Di laga terakhir LaLiga, Benzema tak mampu mencetak gol.

Pencapaian Messi membuatnya total sudah 7 kali menyabet gelar Pichichi atau pencetak gol terbanyak Liga Spanyol. Tujuh gelar itu didapatkan di musim 2009-2010, 2011-2012, 2012-2013, 2016-2017, 2017-2018, 2018-2019, 2019-2020.

Pencapaian itu melewati Telmo Zarra. Legenda Athletic Bilbao itu menyabet trofi Pichichi sebanyak enam kali pada dekade 40-an dan 50-an. Messi pun berkesempatan mempertajam rekornya jika dia masih bermain di Barcelona musim depan.

Selain melewati Zarra, Messi juga menyamai Alfredo Di Stefano dan Hugo Sanchez. Messi dan dua legenda tersebut sama-sama mampu menyabet trofi Pichichi empat musim secara beruntun. Bahkan, Messi juga bisa melewati Di Stefano dan Sanchez jika musim depan juga menyabet trofi Pichichi.

Kini Messi semakin meneguhkan dirinya sebagai raja gol di LaLiga. Total saat ini Messi telah membuat 444 gol di LaLiga. Messi menjadi pemain tersubur dalam sejarah LaLiga. Selain itu juga pencapaian di atas, yakni pemain yang paling banyak mendapatkan gelar Pichichi.

Sepatu Emas Eropa Lepas

Hanya saja, pencapaian Messi di musim ini menurun dibandingkan musim-musim sebelumnya. Sebab, dia hanya membuat 25 gol di LaLiga musim ini. Padahal, biasanya Messi sering membuat lebih dari 30 gol dalam satu musim LaLiga.

Pencapaian yang menurun ini membuat Messi dipastikan tak mendapatkan sepatu emas Eropa. Sepatu emas Eropa adalah penghargaan yang diberikan pada pemain yang bermain di Eropa dan mencetak gol terbanyak di kompetisi domestik.

Musim ini, besar kemungkinan sepatu emas Eropa akan didapatkan Robert Lewandowski. Penyerang Bayern Munchen asal Polandia itu mampu mencetak 34 gol bagi Bayern Munchen di Liga Jerman musim 2019-2020.

Namun, bisa saja gelar pencetak gol terbanyak Eropa mampir ke penyerang Lazio Ciro Immobile atau bintang Juventus Cristiano Ronaldo. Immobile kini sudah membuat 29 gol dan masih menyisakan empat laga. Ronaldo membuat 28 gol dan masih menyisakan empat laga.

Sampai saat ini, Messi adalah pemain paling sering mendapatkan sepatu emas Eropa. Penyerang asal Argentina itu telah mendapatkan enam gelar sepatu emas Eropa. Sementara di posisi kedua adalah Cristiano Ronaldo yang mendapatkan empat gelar sepatu emas Eropa.

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis – Saat ini masih banyak yang selalu memandang sebelah mata kepada Jose Mourinho. Pelatih yang sering menganggap dirinya the special one ini merasakan hal tersebut. Dia melihat fakta bahwa saat ini orang-orang memandangnya dengan mata yang berbeda. Orang-orang menatap saya dengan mata yang berbeda,” kata Mourinho kepada Sky Sports.

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Padahal jika kita lihat kiprahnya dalam menangani Tottenham dalam sembilan bulan terakhir ini, Mourinho sangat berhasil. Mari kita lihat Spurs berada di urutan 14 di Liga Premier ketika Mourinho menggantikan Mauricio Pochettino November 2019 lalu. Lihat saat ini, Mourinho telah berhasil mengarahkan klub kembali ke posisi terhormat kompetisi Liga Eropa dengan satu pertandingan tersisa. Mourinho dan staf, selalu melakukan analisis secara internal. Mereka dengan rinci mencatat performa setiap pemain. Staf pelatih telah melakukan pekerjaan yang sangat positif.

Pengalaman ketika membesut FC Posto bisa dibandingkan dengan saat ini. Ketika dia tiba di Porto pada Januari 2002, setengah musim itu harus mengalami masa yang sangat sulit. Tetapi kemudian Mourinho menganggap betapa pentingnya persiapan semua program yang harus terukur dengan target jelas. Mungkin demikianlah yang dilakukan Mourinho terhadap Spurs. Mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman di klub untuk mempersiapkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Jose Mourinho mengatakan keyakinannya bersama Tottenham Hotspur.

Saya senang dengan globalitas tim yang saya miliki, dan saya harap kami dapat memberikan sedikit sentuhan untuk meningkatkan dan membuat kami lebih baik, lebih kompetitif, lebih beradaptasi. Dengan cara berpikir saya dan keseimbangan yang selalu saya coba temukan dalam sebuah skuad. Jika kita berhasil, maka kita akan lihat hasilnya. Filosofi sepakbola yang dimiliki Mourinho menjadi penting untuk membentuk tim dengan pola dan skema sesuai materi pemain yang ada.

Apa yang dikatakan Mourinho diatas sudah terbukti dalam setiap laga dari Spurs hingga pekan ke-37 Premier League. Terakhir dalam matchweek 37 Spurs berhasil mengkandaskan Leicester City di Stadion Tottenhamhotspur London. Harry Kane mencetak dua gol dalam tiga menit ketika Tottenham Hotspur mengalahkan Leicester City 3-0 malam itu.

Hasil ini membuka peluang untuk meraih harapan mereka diajang Liga Eropa musim depan

Spurs unggul ketika tembakan Son Heung-min dibelokkan oleh bek The Fox, James Justin di menit keenam sehinhga masuk ke gawang Leicester. Kemudian Kane mencetak gol kedua pada menit ke-37, setelah menerima umpan terobosan dari Lucas Moura. Hanya tiga menit kemudian, kembali Moura memberikan assid untuk rekan setimnya di sebelah kiri. Kane melepaskan tembakan luar biasa untuk keunggulan Spurs 3-0 Leicester. Ini adalah gol Harry Kane yang ke-16 melawan Leicester di semua kompetisi.

Walaupun Leicester mendominasi sepanjang babak kedua tetapi tidak satupun gol lahir dari skuad The Fox ini. Hasil ini membuat Leicester gagal menambah poin. Tetap berada diposisi 4 dengan 62 poin diatan Manchester United juga dengan 62 poin. Setan Merah bisa menggeser Leicester karena masih memiliki satu laga sisa melawan West Ham United. Jika United menang maka bertambah menjadi 65 poin memggeser posisi Leicester di peringkat 4.

Spurs sendiri dengan kemenangan ini naik ke urutan keenam dengan 58 poin. Mereka berpeluang ke Liga Eropa jika memenangkan laga terakhir melawan Crystal Palace. Selamat untuk Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur. Liga Eropa sudah menunggu di depan mata.

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa – Liverpool gagal membawa misi 100 poin mereka ketika dikalahkan 1-2 oleh Arsenal dalam laga yang berlangsung di Emirates Stadium London. Bagi Jurgen Klopp, kalah dari Arsenal adalah kehilangan poin untuk ketiga kalinya sejak tim asuhannya dinobatkan sebagai juara. Kekalahan Liverpool tersebut membuat mereka tetap memiliki 93 poin dan hanya bisa meraih 99 poin jika memenangkan dua sisa laga mereka.

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Namun bagaimanapun Liverpool adalah tim pertama yang meraih juara ketika kompetisi masih menyisakan 7 laga. Walaupun The Reds gagal mengalahkan rekor Manchester City yang meraih 100 poin saat menjuarai Liga Premier 2017/2018. Akan tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk mengurangi arti dari prestasi mereka musim ini sebagai Juara Premier League setelah menunggu selama 30 tahun.

Ketika sudah memastikan juara dan menyisakan 7 laga lagi, Liverpool tampak siap untuk merobek-robek buku catatan prestasi Manchester City dengan 100 poin mereka. Sebelum akhirnya The Reds harus kehilangan ritme permainan mereka ketika kalah 1-2 dari Arsenal di laga kemarin. Kendati demikian, Pep Guardiola berpikir dimana mereka mengambil gelar Premier League pertamanya setelah 30 tahun menunggu, adalah hal yang layak mendapat banyak pujian. Dari sudut pandang saya, itu tidak membatalkan untuk satu detik Liga Premier luar biasa yang telah dilakukan Liverpool.”

Sembilan puluh sembilan poin atau 102 poin liga primer, itu luar biasa. Kami mengucapkan selamat kepada mereka. Saya selalu berpikir bahwa catatan di sana akan rusak dan cepat atau lambat itu akan terjadi. Tetapi juga 100 poin itu tidak mudah. Kami luar biasa dua musim lalu ketika kami melakukannya, kami luar biasa ketika kami membuat 98 musim lalu. Demikian kata Guardiola dalam konferensi pers jelang semifinal Piala FA, Manchester City melawan Arsenal seperti dilansir Goal.

Wajar sekali Guardiola merasa bangga dengan apa yang pernah dicapainya bersama City dalan 1-2 musim yang lalu. Perolehan 98 poin pada kompetisi tahun lalu dan 100 poin dua musim yang lalu adalah prestasi Guardiola yang sulit bisa dipecahkan tim manapun. Hal itu menunjukkan konsistensi permainan Manchester City selama kompetisi. Liverpool masih memiliki gairah setidaknya menutup musim kompetisi ini dengan dua kemenangan melawan Chelsea dan Newcastle United.

Dua kemenangan ini menjadi penting untuk meraih 99 poin dimana mereka memperbaiki perolehan poin musim lalu ketika Liverpool menjadi runner up dengan 97 poin dibawah City dengan 98 poin. Liverpool akan mendapatkan trofi Liga Premier dalam upacara khusus yang berlangsung di Anfield setelah pertandingan kandang terakhir mereka melawan Chelsea pada. Usai kalah dari Arsenal pekan lalu, momen ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenangkan laga kandang terakhir Liverpool melawan Chelsea.
Kemenangan akan menambah suasana semakin lengkap dan sempurna bagi skuad The Reds.

Dengan pendukung yang tidak dapat menghadiri pertandingan tertutup lawan Chelsea, maka acara bersejarah tersebut akan melibatkan presentasi unik yang dirancang bagi para penggemar Liverpool. Para pemain dan staf Reds akan menerima trofi Liga Premier dan medali pemenang mereka di podium khusus dengan dikelilingi oleh spanduk penggemar The Reds. Semacam perayaan yang sangat sederhana ditengah kondisi prihatin akibat pandemi Covid-19 ini. Selamat untuk The Reds Liverpool, Sang Juara Premier Legaue, merupakan gelar mereka yang ke-19.

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi – West Ham akan menghadapi laga krusial melawan Watford. Pertandingan ini bisa jadi penentu langkah The Hammers di Liga Inggris. Di pekan ke-36 ini, Sabtu (28/7/2020) dini hari pukul 02.15 WIB, West Ham akan menjamu Watford di London Stadium. West Ham butuh kemenangan untuk menjaga jarak aman dari zona degradasi. Sementara bila kalah dari Watford akan membuat peluang West Ham makin berat.

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

Meskipun kedua tim saat ini berada di zona aman peringkat 16 (West Ham) dan 17 (Watford) dengan koleksi poin yang sama 34 angka, namun keduanya bertekad meraih poin penuh agar posisi mereka tidak semakin memburuk. Apalagi dua tim yang berada di zona merah, Bournemouth (18) dan Aston Villa (19) memiliki poin 31 dengan menyisakan dua laga tersisa, yang artinya mereka sebisa mungkin akan memanfaatkan laga yang akan dilakoninya itu dengan meraih kemenangan.

Perlu diingat di sepak bola terkadang hadir kejutan-kejutan yang tidak terduga sama sekali. Sejauh yang saya tahu di Liga Inggris ini, tidak ada tuh soal tim pesanan atau mafiawasit untuk misi penyelamatan yang menguntungkan tim tertentu. Seperti Sudah, kita balik lagi ke pertandingan West Ham vs Watford. West Ham yang pada pertandingan sebelumnya menang telak 4-0 atas Norwich City, membuat tim besutan David Moyes ini tengah memiliki kepercayaan tinggi. Apalagi mereka punya modal kemenangan atas Watford saat pertemuan pertama kedua tim musim ini, membuat para fans yakin akan meraih 3 poin.

Memiliki keunggulan bermain di kandang, West Ham tentunya akan mengambil inisiatif menyerang pada menit-menit pertama pertandingan. Watford tentu tidak ingin kalah dalam pertandingan ini, tetapi ada fakta yang mengkhawatirkan bahwa The Hornets sering tidak mendapatkan hasil yang baik kala bertandang. Mereka mencatat 4 pertandingan tandang terakhir berakhir dengan kekalahan. Kendati mendapat hasil buruk di pertemuan pertama dan laga tandang terakhir, namun mentalitas Watford juga tengah meningkat setelah hasil memuaskan baru-baru ini.

Dua pertandingan sebelumnya mereka meraih kemenangan itu jelas merupakan dorongan mental yang besar bagi pelatih Nigel Pearson dan para pemain sebelum melakukan perjalanan ke London hari ini. Selain modal penting tersebut, Watford sendiri memiliki catatan apik kala bermain di London Stadium, dari 7 pertandingan terakhir Watford meraih 4 kemenangan dan 1 kali seri. Bahkan, musim ini West Ham juga tidak terlalu baik kala bermain di kandangnya sendiri.

Catatan West Ham di kandang hanya memenangkan 3 pertandingan dan kalah hingga 8 kali. Karena itu, bila berhitung soal statistik jelas West Ham tidak dapat diunggulkan. Faktor lain yang tidak kalah menarik adalah West Ham vs Watford dalam sejarahnya telah bertemu sebanyak 78 kali. Malahan West Ham mengantongi kemenangan 44 sedangkan Watford hanya 21 kali dan sisanya seri.

Seru juga nih jelang akhir kompetisi melihat tim papan bawah saling jungkir balik demi bertahan di kasta teratas liga dan lagi akan sangat banyak kerugian dan kesulitan yang didapat jika terdegradasi.

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona – Barcelona sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Paska mengalahkan peringkat papan tengah Granada, Real Madrid tinggal membutuhkan dua poin lagi untuk menyegel gelar juara dari dua laga akhir tersisa. Melawat ke Estadio Nuevo Los Carmenes, Selasa (14/7/2020) dinihari WIB, Real Madrid membawa pulang tiga poin penuh dari tuan rumah Granada di pekan ke 36 Liga Spanyol.

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Real Madrid unggul 1-0 di menit ke 10 dari Ferland Mendy. Madrid menambah keunggulan menjadi 2-0 di menit ke 16 oleh Karim Benzema. Granada memperkecil ketertinggalannya di menit ke 5 babak kedua bergulir oleh Darwin Machis. Hingga wasit meniup peluit panjang tanda laga berakhir, skor 2-1 tetap bertahan milik Real Madrid. Dengan demikian Real Madrid mengumpulkan angka 83 poin, meninggalkan rival terdekatnya Barcelona dengan terpaut empat poin di peringkat ke 2.

Jika seri atau kalah, Real Madrid akan melakoni laga terakhir hari Minggu melawan Leganes. Skenario terburuk Real Madrid gagal juara adalah mereka menelan dua kali kekalahan dan Barcelona menang dua kali. Namun skenario itu akan sangat mustahil terjadi. Pasukan Zinedine Zidane mencatat 9 kali kemenangan beruntun (yang terakhir dari Granada itu).

Atau dengan kata lain Los Blancos memenangkan semua laga yang digelar sejak La Liga dimulai kembali selepas jeda karena pandemi Covid-19, Juni lalu. Padahal sebelum kompetisi dihentikan, bukan Real Madrid yang bertengger di puncak klasemen, tapi Barcelona. Kita harus kritis kepada diri sendiri, kami pasrah gelar lolos dari kami dan tidak akan mencari-cari alasan,” kata punggawa Barcelona Luis Suarez kepada Mundo Deportivo.

Apa pun yang terjadi kami harus memenangkan dua laga tersisa setelah itu kami harus fokus ke Liga Champions,” kata pemain asal Uruguay itu. Barcelona membutuhkan keajaiban dan harus memenangkan dua laga terakhir melawan Osasuna dan Alaves. Jika pun tidak ada keajaiban yang terjadi, pemain berusia 33 tahun itu mengatakan timnya akan membalasnya di Liga Champions.

Liga Champions bisa menjadi obat penawar rindu di tengah-tengah situasi pelik karena kegagalan menjadi kampiun di Liga Santander. Barcelona mengalami masa-masa gelap di musim ini. Semenjak awal musim, Blaugrana cuma memetik dua kemenangan dari enam laga. Hal tersebut lah yang menjadikan pelatihnya, Ernesto Valverde dipecat pada pertengahan bulan Januari 2020 lalu.

Jika menang, Luis Suarez dkk akan bertemu dengan pemenang antara Chelsea dan Bayern Munchen. Laga-laga Liga Champions nantinya akan digelar di satu tempat, yaitu di Lisbon, Portugal. Tertunda sejak 11 Maret karena pandemi Covid-19, keempat laga yang belum tuntas (leg kedua) 16 besar akan digelar di tempat semula. Akan tetapi laga-laga 16 besar nantinya (di antara mereka yang sudah tuntas) akan digelar di satu tempat dan berlangsung dengan format satu kali main untuk menghasilkan tim yang melangkah ke babak selanjutnya.

Akan tetapi mencari obat kelam ini yang harus diperhatikan Barcelona adalah fokus, karena tidak mudah untuk menikmati Piala Si Kuping Lebar ini.

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018 – Hari ini, dua tahun lalu, Prancis berhasil menjadi juara Piala Dunia 2018. Di final yang dilaksanakan 15 Juli 2018 itu. Prancis juara setelah mengalahkan Kroasia 4-2. Ini adalah gelar kedua Prancis di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, mereka menjadi juara pada Piala Dunia 1998. Ada keunikan tersendiri yang membuat saya kala itu merasa yakin Prancis juara Piala Dunia 2018. Mungkin ini hanya kebetulan yang memang berulang dalam rentang 20 tahun.

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Ada beberapa kesamaan antara Prancis 1998 dengan Prancis 2018, berikut catatannya. Pada Piala Dunia 1998 dan 2018, Prancis ada di grup C. Pada 1998, Prancis satu grup dengan Arab Saudi, Denmark, dan Afrika Selatan. Pada 2018, Prancis bersama Denmark, Peru, dan Australia. Bedanya pada 1998 Prancis berstatus sebagai tuan rumah. Uniknya, di dua piala dunia itu, Prancis lolos ke babak gugur bareng dengan Denmark. Di Piala Dunia 1998, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 9 poin dan Denmark ada di posisi dua dengan 4 poin.

Di Piala Dunia 2018, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 7 poin dan Denmark di posisi dua dengan 5 poin. Prancis 1998 dan 2018 sama-sama memiliki pemain nomor 9 yang tumpul. Pemain nomor 9 identik sebagai penyelesai akhir. Di Piala Dunia 1998, jersey nomor 9 Prancis dipakai oleh Stephane Guivarc’h. Di Piala Dunia 2018, jersey nomor 9 diisi Olivier Giroud. Kedua pemain itu tak mampu mencetak satu gol pun di piala dunia.

Saat 2018, ketika sampai semifinal Giroud tak mencetak gol, saya meyakini bahwa di final dia juga tak.
Pada 1998 dan 2018, Prancis sama-sama memiliki striker muda yang moncer. Di 1998 ada Thierry Henry dan 2018 ada Kylian Mbappe. Saat Piala Dunia 1998, Henry masih berusia 20 tahun. Pemain yang belakangan menjadi legenda bagi Arsenal itu mencetak tiga gol di Piala Dunia 1998.

Kylian Mbappe bermain di Piala Dunia 2018 di usia 19 tahun. Di ajang akbar itu, Mbappe membuat empat gol. Kedua pemain ini memiliki kesamaan yakni soal kecepatan dan beroperasi sebagai penyerang sayap. Hanya saja bedanya adalah Mbappe menyabet gelar pemain muda terbaik di Piala Dunia 2018 dan Henry tak mendapatkannya. Pemain muda terbaik di Piala Dunia 1998 disabet oleh Michael Owen dari Inggris yang kala Piala Dunia 1998 masih berusia 19 tahun.

Saat Prancis bisa mengalahkan Belgia dengan skor 1-0 di semifinal, saya yakin bahwa Prancis akan juara. Sebab, kemenangan Prancis atas Belgia itu ditentukan oleh gol tunggal pemain belakang mereka Samuel Umtiti. Sementara seperti diketahui Umtiti adalah pemain belakang. Keyakinan saya soal siklus 20 tahunan itu. Di 1998, pahlawan Prancis di semifinal juga seorang pemain belakang, yakni Lilian Thuram. Saat itu, Thuram membuat dua gol ke gawang Kroasia sehingga Prancis menang 2-1 dan lolos ke final.

Jika mengacu pada cerita 20 tahunan, maka bisa jadi Prancis akan juara pada Euro 2020. Tapi, kan ternyata Euro 2020 ditunda karena pandemi. Nah kita tunggu saja apakah Prancis akan juara pada Euro 2021. Diketahui, setelah juara Piala Dunia 1998, Prancis mampu juara di Euro 2000. Tulisan ini hanya hiburan saja. Tak ada niat apapun. Apalagi mengarahkan pikir bahwa hidup itu dipastikan dengan siklus. Karena tulisan ini hanya hiburan, maka jika tujuannya tercapai jika yang membaca terhibur. Tapi jika yang membaca tak terhibur, ya diikhlaskan saja dengan merasa terhibur.

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris – Penggemar Manchester United pada paruh pertama Liga Inggris musim ini kerap dirundung. Maklum, performa The Red Devils sempat terjun bebas. Kontras dengan capaian Liverpool, rival abadi yang bahkan sudah ditahbiskan jadi jawara jauh sebelum liga berakhir. Uniknya, penampilan MU berubah drastis setelah bergulirnya kembali Liga Inggris yang sempat dihentikan akibat pandemi. tim asuhan Bang Ole Gunnar Solksjaer, melibas semua lawan di Liga Inggris dengan skor mencolok.

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Sheffield United dicukur 3-0, Brighton and Hove Albion dihantam 0-3, Bournemouth takluk dengan skor 5-2, dan Aston Villa tunduk 0-3. Torehan ini bahkan menjadi rekor baru di Liga Inggris. MU menjadi klub pertama di Liga Inggris (Premier League) yang menang empat laga berturut-turut dengan margin kemenangan tiga gol atau lebih.

Liverpool sang jawara liga mau tak mau harus mengakui rekor MU ini. Seperti biasa, sebagian fans para klub rival MU akan tetap meragukan capaian MU ini dengan mengatakan, lawan-lawan MU belakangan ini cuma tim ayam sayur. Eits…tunggu dulu. Liga Inggris terkenal dengan kekuatan tim cenderung merata. Tidak ada jaminan klub papan bawah pasti kalah.

Buktinya, pada pekan ini, AFC Bournemouth menggulung Leicester City 4-1. Padahal, Bournemouth mengawali laga sebagai tim tiga terbawah. Kemenangan tim yang berjuang lolos dari zona degradasi ini atas Leicester, rival MU dalam merebut posisi tiga besar, jelas sangat menguntungkan tim asuhan Bang Ole.

Yuk kita tengok klasemen Liga Inggris per 12 Juli:

Saat ini MU baru memainkan 34 laga. Pada 13 Juli waktu Inggris Raya atau 14 Juli waktu Indonesia, MU akan menjamu Southampton, peringkat 12. Jika menang, tim Manchester merah ini akan mendapat tambahan tiga poin krusial sehingga poin jadi 61. Dengan prediksi ini, MU akan menyalip Leicester (59 poin) dan Chelsea (60 poin). Singkatnya, MU akan menduduki posisi ketiga jika benar mereka mampu menundukkan Southampton.

Pertanyaannya, apa senjata MU untuk mengejar posisi tiga besar Liga Inggris yang masuk fase akhir saat ini? Ada tiga senjata rahasia MU untuk meraih posisi terhormat yang jadi impian tim-tim dengan ambisi besar. Pertama, trio MMM sebagai trisula penyerang andalan

Siapa trio MMM yang jadi trisula pengoyak jala lawan? Marcus Rashford, Martial, dan Mason Greenwood. Dua nama pertama sudah banyak dikenal penikmat sepak bola dunia. Nama terakhir, Mason Greenwood, adalah anak baru yang jadi sensasi teranyar The Ole Babes.

Seperti Marcus Rashford, Mason adalah anak binaan akademi United. Sejak umur enam tahun, Mason sudah jadi bagian MU. Penampilannya di tim senior moncer akhir-akhir ini. Ia mencetak telah mencetak 9 gol di Liga Inggris. Dia telah memberikan satu asis dan menyelesaikan 399 operan atau rerata 13,76 operan per pertandingan.

Kedua, duet Pogba dan Bruno yang makin menyatu. Paul Pogba, pemain kelas dunia asal Perancis, sempat dibekap cedera. Setelah sembuh, Pogba perlahan kembali menunjukkan kualitasnya. Pogba diturunkan sebagai pemain pengganti oleh Bang Ole ketika MU tertinggal satu gol kala lawan Tottenham. Itulah kali pertama Pogba bermain bersama Bruno Fernandez dalam pertandingan sesungguhnya.

Gocekan Pogba yang merangsek ke kotak penalti lawan terpaksa dihentikan oleh pemain Spurs dengan pelanggaran keras. Siapa yang ambil penalti? Bukan Pogba yang juga pernah jadi tukang ambil penalti, melainkan Bruno Fernandes. Sang pemain yang baru didatangkan MU dari Sporting Portugal ini sukses mengeksekusi tendangan 12 pas sehingga MU terhindar dari kekalahan memalukan.

Terbaru, melawan Aston Villa, Bruno memberi asis cantik manja pada Pogba yang mampu mengonversinya jadi gol. Singkat kata, duet maut Pogda dan Bruno makin menyatu. Ketiga, kejelian Ole sebagai juru racik taktik. Sang manajer yang dijuluki “Pembunuh Berwajah Bayi” kala bermain sebagai penyerang pada era Opa Alex Ferguson kini menjelma menjadi juru racik taktik yang unggul. Sebelas pertandingan terakhir, MU tak pernah kalah.

Ole secara jeli berhasil meramu susunan pemain yang tepat dengan kombinasi senior-junior yang berimbang dalam formasi 4-2-3-1. Ada pemain muda Rashford, Daniel James, Scott McTominay, dan Aaron Wan-Bissaka. Saat MU menang 5-2 lawan Bournemouth, ada Mason Greenwood (18 tahun) yang sukses menjebol gawang lawan dua kali! Lihat juga ketajaman Martial, Bruno, dan Rashford yang cetak masing-masing satu gol dalam kemenangan 5-2 itu.

Lagi-lagi, Mason dan Bruno unjuk gigi dengan torehan masing-masing satu gol. Tambah lagi sebiji gol Pogba. Jalan terjal MU meraih tiga besar. Setelah laga lawan Southampton, MU di Liga Inggris punya agenda berikut: tandang vs Crystal Palace; kandang vs West Ham; tandang vs Leicester. Rival MU dalam usaha raih zona Liga Champions punya agenda berikut:

Chelsea-Norwich; Liverpool-Chelsea; Chelsea-Wolverhampton
Leicester-Sheffield; Tottenham-Leicester; Leicester-MU.
Seandainya MU menang lawan Southampton pun, MU masih harus lalui jalan terjal untuk mempertahankan posisi tiga besar dan juga empat besar (4 besar otomatis lolos Liga Champions musim depan). Soalnya selisih poin cuma tipis.

Kalau mau aman, MU harus menang terus, termasuk lawan si Soton dini hari nanti. Mampukah MU meraih posisi terhormat sebagai salah satu wakil Inggris di gelaran Liga Champions musim depan? Informasi terbaru, kita perlu mengikuti hasil banding Manchester City terhadap larangan ikuti kompetisi di Eropa. Keputusan itu diumumkan pada hari Senin. Jika banding City dikabulkan, posisi kelima Liga Inggris akan ikut Liga Champions musim depan.

Semoga tiga senjata rahasia MU bekerja dengan baik. Jika tidak, fans MU akan kembali jadi sasaran perundungan. Terutama dari fans Liverpool dan Manchester City, dua rival kuat yang sudah aman di dua besar. Sebagai penggemar MU, saya tidak mau dibully lagi! Mestakung. Semesta jangan menikung MU! Wahai fans rival-rival MU, setuju ga kalau MU menang terus?

Ups…ngarep banget ya? Ya udah, kalau ga setuju, musim depan Liverpool juara Liga Inggris, FA, dan Champions. Tapi bohong.

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham – Ketika pertama kali datang ke Chelsea, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai “the Special One.” Entah apa yang melatarinya menyebut dirinya the Spesial One. Boleh saja, ini bentuk pengakuan diri atas prestasi yang telah dicapai atau juga afirmasi kepada klub yang mengontraknya. Dalam mana, klub tidak memilih orang yang salah. Titel the Special One ini pun menjadi akrab bersanding dengan pelatih asal Portugal ini.

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Memang tidak berlebihan untuk menyebut dirinya sebagai the Spesial One. Dalam sejarah kepelatihannya di pelbagai klub lintar liga-liga Eropa, dia berhasil meraih gelar yang berbeda-beda. Terakhir kalinya, dia meraih beberapa gelar di Manchester United.

Setelah vakum karena dipecat dari MU, Mou menghabiskan waktunya sebagai salah satu pengamat sepak bola di TV. Namun sejak tahu lalu, Mourinho kembali hadir di bangku pelatih. Dia mencoba peruntungan dan tajinya sebagai the Spesial One di klub Tottenham Hotspur. Tentunya, tugasnya kali ini rumit.

Dia datang ke klub yang sangat berbeda dengan klub-klub sebelumnya. Pada klub-klub sebelumnya, Mou mempunyai skuad mumpuni yang dibarengi dengan sejarah sebagai klub hebat. Kali ini, Mou datang ke Tottenham yang berupaya untuk menunjukkan dirinya sebagai klub hebat di Liga Inggris.

Mou datang ke Tottenham untuk membenahi keruwetan yang ditinggalkan Mauricio Pocchetino. Beberapa musim terakhir, Pocchetino berhasil mengubah Tottenham sebagai salah satu tim yang biasa menduduki top four di Liga Inggris.

Namun, pencapaian itu menumpul musim lalu. Karena ini, pihak manajemen memilih memecat pelatih asal Argentina ini dan memilih Jose Mourinho sebagai penggantinya. Mou sudah mempunyai nama di jagad sepak bola. Di balik popularitas ini, secara tidak langsung Mou memikul harapan klub. Tidak gampang bagi Mou untuk membetulkan Tottenham yang sementara timpang.

Sejauh ini, Mou berhasil membawa Tottenham di tempat ke-9 klasemen liga Inggris. Posisinya agak membaik sepeninggal Pocchetino. Sewaktu Mou masuk menjadi pelatih, Tottenham berada di posisi 14 klasemen sementara Liga Inggris.

Melihat penampilan musim ini sejauh ini, target untuk meraih tiket ke Liga Champions musim depan semakin jauh. Yang mungkin bagi Tottenham adalah berada di piala Eropa. Laga kontra Arsenal pada pekan ke-35 ini akan menjadi pertarungan dalam merebutkan tempat ke piala Eropa pada musim depan. Meski demikian, Mou tidak berpasrah pada situasi yang terjadi. Mou tetap menunjukkan optimismenya sebagai seorang pelatih.

Menurutnya, bersama dengan Tottenham dia akan meraih gelar. Bahkan Mou melihat jika Tottenham tidak perlu melakukan investasi besar guna menguatkan skuadnya di musim depan. Tidak sampai di situ, guna menguatkan optimismenya, Mou membandingkannya dengan Jurgen Klopp. Klopp sendiri berhasil mengantarkan Liverpool pada trofi Liga Inggris setelah 30 tahun penantian.

Mou melihat jika Klopp membutuhkan 4 musim untuk meraih trofi Liga Inggris. Agar bisa mendapatkan trofi itu, Klopp mendatangkan kiper dan bek terbaik. Sementara baginya, Mou akan berupaya di tiga musim kontraknya bersama Tottenham. Bagi Mou, penampilannya di musim ini tidak bisa menjadi standar dalam menilai kemampuannya. Terlebih lagi, dia tiba di Tottenham saat berada dalam situasi sulit.

Karena ini, Mou berjanji jika Tottenham bisa mengeluarkan penampilan terbaik tim di musim yang akan datang. Bahkan Mou meyakinkan fans Tottenham jika tim akan berpenampilan berbeda di musim yang akan datang.

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa – Jika membaca istilah Korea, sebagian besar orang berpikir tentang K-drama atau istilah bekennya di Indonesia adalah drakor. Maklum, sejak 2000-an masyarakat Indonesia sudah mulai menggandrungi tontonan drakor di tv nasional. Bagi yang suka kolosal, tentu serial “Jang-geum” atau “Jewel in the Palace” adalah yang favorit.

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Begitu pun bagi yang suka serial ala-ala sinetron, maka “Full House” adalah yang paling viral di kalangan ibu-ibu muda dan mbak-mbak di masa itu. Lalu, bagaimana dengan para penggemar sepak bola. Pengaruh kekoreaan bagi bapak-bapak, om-om, dan mas-mas kala itu termediasikan dengan adanya nama Park Ji-sung. Memang, ada pula nama Ahn Jung-hwan. Namun nama JS Park lebih membekas di ingatan, karena selain menjadi pemain Manchester United, dia adalah salah satu pemain inti di era kepelatihan Sir Alex Ferguson.

Tentu, ini menjadi suatu kebanggaan, khususnya bagi penggemar sepak bola Liga Inggris (Premier League) yang berasal dari Asia. Melihat pemain Asia dan menjadi bagian dari pemain utama jelas terasa spesial. Ditambah di masa itu, melihat pemain Asia di kompetisi tertinggi di Eropa masih langka, alih-alih sering dimainkan. Figur-figur pesepakbola Asia kala itu masih kalah telak dengan pesepakbola asal Afrika dan Amerika Selatan.

Bahkan, bisa saja kalah dengan Australia–masih menjadi wakil Oceania–yang seolah masih diuntungkan dengan hubungan diplomatis (kenegaraan) antara Inggris dan Australia. Itulah kenapa saat itu kita bisa mengenal pemain legendaris asal Australia seperti Mark Viduka, Harry Kewell, Tim Cahill hingga Mark Schwarzer. Bahkan, nama terakhir menjadi pemain yang sangat melekat dengan Premier League karena pernah membela banyak klub, salah satunya Chelsea.

Kembali Berbicara Tentang Pemain Korsel di Eropa

Kini ada beberapa pemain yang sudah mendapatkan perhatian dari penggemar bola, seperti Ki Sung-yueng (KISY), Hwang Ui-jo, dan Son Heung-min. Nama terakhir bahkan sangat populer dalam dua musim terakhir. Faktornya sudah sangat jelas, karena peran Son semakin vital untuk klubnya, Tottenham Hotspur. Klub asal London Utara itu dalam dua musim terakhir tak hanya bergantung dengan Harry Kane, namun juga Son.

Seolah memperbaiki generasi sebelumnya yang hanya berhasil menempatkan Ji-sung sebagai idola di Eropa, kini Korsel terlihat mampu memunculkan pemain-pemain berkualitas di Eropa. Setelah munculnya Son, kini ada nama baru yang siap meramaikan deretan oppa Korea di rumput hijau, yaitu Hwang Hee-chan. Memang, Hwang Hee-chan belum sepenuhnya menarik minat klub Premier League. Namun, secara bertahap dirinya mulai dapat memberikan pengaruh terhadap kompetisi di Eropa.

Khusus untuk musim 2019/20, pemain muda yang pernah membela Hamburg di Bundesliga 2 mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan untuk klubnya di Austria, RB Salzburg. Bahkan salah satunya dapat dilihat dari performanya saat melawan Liverpool di fase grup Liga Champions musim ini.

Karena penampilannya di laga itu, namanya juga langsung menjadi perhatian dan mengisi rubrik rumor bursa transfer. Hanya, Salzburg lebih mampu menahannya untuk bertahan dibandingkan rekannya, Takumi Minamino. Setelah sukses mengantarkan RB Salzburg sebagai jawara di Austria, Hee-chan diperkirakan sudah siap untuk membuat perjalanan baru dalam karirnya. Kiprahnya secara individu semakin memperbesar minat klub lain untuk merekrutnya, yaitu “saudara sepupunya”, RB Leipzig.

Kiprahnya Akan Mengikuti Jejak Son Yang Bisa Dikatakan Moncer Sebagai Oppa Korea

Klub asal Bundesliga itu akhirnya berhasil mendaratkan Hwang untuk kembali ke Jerman dengan memperkuat klub yang lebih baik. Bahkan, Leipzig sepertinya sangat yakin untuk menempatkan Hwang sebagai suksesor Timo Werner. Ini dapat disimbolkan dengan pemberian nomor 11 ke Hwang. Tentu bagi penonton Bundesliga, nomor itu sudah dikenali sebagai nomor Werner, si topscorer sepanjang masa Leipzig.

Mampu bermain sama baiknya ketika sebagai pembangun transisi menyerang sekaligus pencetak gol ulung. Hwang Hee-chan pun diharapkan akan seperti itu. Ditambah dengan penilaian bahwa pemain Asia itu sangat cepat dan pekerja keras, maka itu akan semakin menguntungkan jika dimiliki oleh pemain bertipikal menyerang.

Soal mengapa Hwang Hee-chan disebut–di artikel ini–sebagai Oppa Korea selanjutnya, tak lepas dari stereotip tentang oppa (kakak pria) yang identik sebagai panggilan untuk idola pria dari Korea. “Gelar” itu sebelumnya (seperti) sempat disandang oleh KISY (eks Swansea City) yang kini mulai siap dipanggil Ahjussi–untuk level usia dalam sepak bola.

Kini, Son Heung-min sudah menjadi Oppa Korea di sepak bola Eropa. Menariknya, Son juga memulai karirnya di Eropa dengan Hamburg SV. Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, jika generasi Korsel saat ini sedang sangat kompetitif di Eropa, maka Hwang Hee-chan juga harus dimasukkan sebagai (calon) Oppa Korea terbaru. Andaikata Son sudah menurun performanya, maka segera akan ada Hwang Hee-chan yang siap menggantikannya.