MU Ingin ke Liga Champions Ini Syarat di Pekan Terakhir Liga Inggris

MU Ingin ke Liga Champions Ini Syarat di Pekan Terakhir Liga Inggris – Manchester United (MU) menyulitkan diri sendiri. Mereka sebenarnya memiliki peluang besar lolos ke Liga Champions jika mengalahkan West Ham. Namun, alih-alih mengalahkan sang tamu, MU malah bermain imbang 1-1,dinihari WIB. MU hanya bisa mencetak satu gol ke gawang West Ham melalui Mason Greenwood menit 51. Sementara gol West Ham dibuat Michail Antonio menit 45. Di laga lain, pesaing MU ke Liga Champions, yakni Chelsea dikalahkan Liverpool 5-3.

MU Ingin ke Liga Champions Ini Syarat di Pekan Terakhir Liga Inggris

Gol Liverpool dibuat Naby Keita menit 23, Alexander-Arnold menit 38, Wijnaldum menit 43, Firmino menit 55, dan Chamberlain menit 84. Sementara gol Chelsea dibuat Giroud menit 45, Tammy Abraham menit 61, dan Pulisic menit 73.

Hasil dua laga di atas membuat MU berada di posisi tiga klasemen sementara Liga Inggris. MU memiliki 63 poin dari 37 laga. Chelsea juga memiliki 63 poin dari 37 laga. Namun, MU unggul selisih gol dari Chelsea. Sementara, Leicester City ada di posisi lima klasemen sementara dengan 62 poin dari 37 laga.

Seperti diketahui, empat besar klasemen akhir akan lolos ke Liga Champions musim depan. Dua tiket ke Liga Champions sudah disegel Liverpool dan Manchester City. Dua tiket yang lain inilah yang diperebutkan MU, Chelsea, dan Leicester City. Dengan satu laga sisa di Liga Inggris, maka perebutan dua tiket ke Liga Champions akan seru.

Georginio Wijnaldum (kedua dari kiri) dipeluk rekannya usai menjebol gawang Chelsea, Rabu (22/7/2020) waktu setempat. Foto: AFP/ LAURENCE GRIFFITHS dipublikasikan Kompas.com
Georginio Wijnaldum (kedua dari kiri) dipeluk rekannya usai menjebol gawang Chelsea, Rabu (22/7/2020) waktu setempat. Foto: AFP/ LAURENCE GRIFFITHS dipublikasikan Kompas.com
Pekan terakhir Liga Inggris yang dilaksanakan pada Minggu (26/7/2020) mulai pukul 22.00 WIB akan jadi penentu. Di pekan terakhir, MU akan melawat ke kandang Leicester dan Chelsea akan menjamu Wolverhampton Wanderers. Berikut hitung-hitungan dan siapa yang akan dapat dua tiket sisa Liga Champions.
MU Lolos ke Liga Champions Jika?

Mampu mengalahkan Leicester City berapapun skornya
Seri melawan Leicester City berapapun skornya
Kalah melawan Leicester City, tapi Chelsea juga kalah dari Wolverhampton, (dengan catatan selisih gol MU tetap lebih baik dari Chelsea)
Chelsea Lolos ke Liga Champions Jika?

Mampu mengalahkan Wolverhampton berapapun skornya
Seri melawan Wolverhampton berapapun skornya
Kalah dari Wolverhampton, tapi Leicester juga kalah dari MU
Leicester Lolos ke Liga Champions Jika?

Mengalahkan MU berapapun skornya
Seri melawan MU, tapi Chelsea kalah dari Wolverhampton
Dengan hitung-hitungan seperti di atas, maka laga pekan terakhir jelas akan seru. MU dan Leicester akan mati-matian di laga terakhir untuk masuk ke empat besar klasemen akhir Liga Inggris. Di sisi lain, Chelsea juga harus bertarung mati-matian melawan Wolverhampton.

Di laga pamungkas, Wolverhampton tentu tak akan mengalah begitu saja. Sebab, jika kalah mereka bisa kehilangan tiket lolos ke Liga Europa musim depan.

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli – Performa apik nan meyakinkan di 9 laga terakhir akhirnya membuahkan hasil positif bagi karier pelatih kepala AC Milan saat ini, Stefano Pioli. Pagi tadi atau Selasa (21/7) malam waktu Italia, negosiasi antara Milan dan Ralf Rangnick dikabarkan batal. Pernyataan ini keluar dari mulut penasihat Ralf Rangnick sendiri, Marc Kosicke. Harian bola asal Jerman, Kicker jadi pihak pertama yang merilis pernyataan mengejutkan tersebut.

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Selang beberapa waktu kemudian, berita tersebut diamini harian Jerman lainnya, Bild. Tak cukup sampai disitu, media-media Italia seperti Football Italia dan Sky Sports akhirnya mengeluarkan statement yang sama bahwa kedua kubu sepakat untuk membatalkan kontak kerja sama. Pernyataan ini tentu mengejutkan. Pasalnya, sejak November lalu Ralf Rangnick sudah diisukan tengah menjalin kontak dengan AC Milan untuk jadi pelatih dan direktur olahraga di klub asal Kota Milan tersebut.

Seolah tak peduli dengan kinerja pelatih Milan saat ini, kabar Rangnick yang akan membawa gerbong besar ke Milan terus berhembus. Mantan pelatih RB Leipzig itu bahkan sempat dirumorkan tengah menjalin kemungkinan datang ke Milan hanya sebagai Direktur olahraga saja dan Pioli tetap melatih musim depan. Bahkan, beberapa saat lalu AC Milan dan Rangnick dilaporkan sudah deal. Inilah yang menyebabkan kabar batalnya Rangnick ke Milan sebagai kejutan drama AC Milan musim ini.

Seperti yang sudah diprediksi dan telah dinyatakan juga oleh penasihat Rangnick, bahwa penyebab utama batalnya kontak kerja sama tersebut adalah buah dari tangan dingin Pioli. AC Milan pun mengeluarkan pernyataan resminya seusai laga melawan Sassuolo dini hari tadi. AC Milan mengumumkan penyelesaian perjanjian dengan Stefano Pioli untuk perpanjangan kontrak dua tahun dari kontraknya sebagai Pelatih Kepala yang sekarang akan berakhir pada Juni 2022.” — bunyi pernyataan resmi di laman acmilan.com

Ya, Milan akhirnya memutuskan untuk mempertahankan Pioli dan memberinya perpanjangan kontrak. Jika melihat dari hasil kinerjanya hingga dini hari tadi, maka keputusan ini rasanya tepat. Pioli tak hanya mengubah Milan di atas lapangan, namun ia juga berhasil membangun klub dan pemain secara kolektif sesuai visi dan nilai klub. Pernyataan tersebut dirilis tepat setelah Milan mengandaskan tuan rumah Sassuolo. Bermain di Mapei Stadium, Pioli membawa I Rossoneri mengandaskan tuan rumah dan memastikan Milan lolos ke Liga Europa.

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile – Sebelum kompetisi Serie A dihentikan karena pandemi Covid-19 pada bulan Maret, Lazio berada di peringkat kedua klasemen sementara menempel ketat “Si Nyonya Tua” Juventus yang berada di puncak klasemen. Perbedaan poin antara Lazio dengan “Si Nyonya Tua” pun sangat tipis, hanya satu poin saja. Akan tetapi setelah kompetisi Serie A dilanjutkan kembali pada bulan Juni, performa Lazio menurun drastis hingga terlempar ke posisi keempat.

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Top Skor Serie A Italia Cristiano Ronaldo atau Cirro Immobile

Menurunnya performa Lazio ternyata tidak terlepas dari menurunnya performa striker andalan mereka, Cirro Immobile. Setelah kompetisi Serie A dilanjutkan kembali, Immobile cenderung menjadi tumpul. Saingan Immobile dalam urusan cetak mencetak gol di Serie A adalah penyerang kawakan Juventus, Cristiano Ronaldo. Berbeda dengan Immoblie, Ronaldo tampil konsisten dan tetap produktif pasca kompetisi Serie A diputar kembali. Margin torehan gol Immobile dengan Ronaldo sebelum kompetisi Serie A dihentikan karena pandemi Covid-19, cukup jauh. Immobile telah mencetak 27 gol, sementara Ronaldo baru 21 gol.

Tetapi pasca kompetisi Serie A diputar kembali, Ronaldo mampu mengejar dan menyamai koleksi gol Immobile. Ronaldo, dari delapan pertandingan yang telah dijalani pasca pandemi Covid-19, mampu mencetak 9 gol. Artinya setiap pertandingan rata-rata Ronaldo bisa mencetak satu gol lebih. Sementara Immobile, dari delapan pertandingan hanya mampu mencetak sepertiga dari jumlah lesakan gol Ronaldo, yakni tiga gol saja. Terlihat jelas penurunan performa Immobile. Sekarang posisi pencetak gol terbanyak atau top skor sementara Serie A dipegang oleh Immobile dan Ronaldo. Keduanya sama-sama telah mengoleksi 30 gol. Siapakah diantara keduanya yang akan menjadi top skor Serie A.

Saat ini Serie A tinggal menyisakan 4 pertandingan lagi. Masih ada waktu untuk Cirro Immobile mengasah kembali ketajamannya. Sementara bagi Cristiano Ronaldo, merupakan kesempatan untuk terus tampil konsisten dan produktif. Akan tetapi melihat dari performa keduanya saat ini, Cristiano Ronaldo sepertinya berada di atas angin. Cristiano Ronaldo diperkirakan akan mampu melampaui koleksi gol Immobile dan menjadi top skor Serie A Italia. Sedangkan Immobiile yang tampil angin-anginan sepertinya berat untuk terus bersaing dengan Ronaldo.

Pada partai ke-34 yang dilangsungkan beberapa jam yang lalu, menjadi ajang pembuktian ketajaman Ronaldo kala Juventus membungkam Lazio, 2-1. Dalam pertandingan itu Ronaldo berhasil mengungguli Immobile. Ronaldo mampu memborong kedua gol bagi Juventus pada menit ke-51 dan menit ke-54, sementara Immobile hanya bisa membalas satu gol di menit-menit akhir menjelang pertandingan usai. Bagaimana pun Cristiano Ronaldo adalah penyerang kawakan produktif nan berpengalaman. Ronaldo telah terbukti mampu menaklukkan kompetisi sepakbola di empat neggara Eropa berbeda. Pertama kali Ronaldo main di Sporting Lisbon (Portugal), kemudian Manchester United (inggris), Real Madrid (Spanyol), dan saat ini Juventus (Italia).

Cristiano Ronaldo juga termasuk pemain yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Hal itu ia buktikan kala koleksi golnya tertinggal jauh dari Immobile dengan margin 6 gol. Akan tetapi perlahan tapi pasti Ronaldo kemudian mampu mengejar dan menyamai koleksi gol Immobile. Posisi Juventus saat ini yang memilki kans lebih besar dari tim lain untuk menjadi juara Serie A, bisa menjadi faktor lain yang menjadikan Ronaldo jadi top skor Serie A. Hal itu dikarenakan biasanya seorang top skor lahir dari tim juara. Walau pun hal itu tidak selalu menjadi “rumus”. Seandainya Cristiano Ronaldo mampu konsisten dan produktif mencetak gol dalam tiap pertandingan minimal satu gol, maka predikat top skor Serie A bisa dalam genggaman.

Tetapi dengan catatan, jika performa Immobile tidak membaik, tampil angin-anginan. Persaingan memperebutkan top skor Serie A saat ini praktis hanya antara Ronaldo dan Immobile. Pemain lain sepertinya sudah tidak akan mampu bersaing. Penyerang Internazionale Milan, Romelu Lukaku memang berada di posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sementara. Akan tetapi selisih koleksi golnya sangat jauh jika dibandingkan Ronaldo dan Immobile. Saat ini Lukaku baru menorehkan 21 gol.

Artinya dengan sisa empat pertandingan lagi, jika Lukaku ingin melampaui torehan gol Ronaldo dan Immobile, maka ia harus mampu mencetak gol paling tidak 10 gol. Itu juga dengan catatan Ronaldo dan Immobile tidak mencetak satu gol pun dalam empat pertandingan sisa. Hal itu sepertinya mission impossible bagi Lukaku. Kans pemain lain selain Ronaldo dan Immobile untuk menjadi top skor Serie A tahun ini hampir pasti tertutup. Sebab hanya Ronaldo dan Immobile lah yang masih memiliki peluang itu.

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi – Lionel Messi gagal membawa Barcelona juara Liga Spanyol musim 2019-2020. Namun, pemain berusia 33 tahun itu membuat pencapaian individu luar biasa. Messi kembali menjadi pencetak gol terbanyak Liga Spanyol. Ini jadi pencapaian ketujuh bagi Messi dan membuatnya memecahkan rekor Telmo Zarra.

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi Cetak Rekor Gelar Pichichi

Messi memastikan menyabet gelar Pichichi setelah membuat dua gol kala Barcelona mengalahkan Alaves 5-0, Minggu (19/7/2020). Gol Messi dibuat di menit 34 dan 57. Tiga gol lain Barcelona dibuat Ansu Fati menit 24, Luis Suarez menit 54, dan Nelson Semedo menit 75.

Dua gol ke gawang Alaves membuat Messi total mencetak 25 gol di LaLiga musim 2019-2020. Jumlah itu unggul empat gol dari saingan terdekatnya, striker Real Madrid Karim Benzema. Di laga terakhir LaLiga, Benzema tak mampu mencetak gol.

Pencapaian Messi membuatnya total sudah 7 kali menyabet gelar Pichichi atau pencetak gol terbanyak Liga Spanyol. Tujuh gelar itu didapatkan di musim 2009-2010, 2011-2012, 2012-2013, 2016-2017, 2017-2018, 2018-2019, 2019-2020.

Pencapaian itu melewati Telmo Zarra. Legenda Athletic Bilbao itu menyabet trofi Pichichi sebanyak enam kali pada dekade 40-an dan 50-an. Messi pun berkesempatan mempertajam rekornya jika dia masih bermain di Barcelona musim depan.

Selain melewati Zarra, Messi juga menyamai Alfredo Di Stefano dan Hugo Sanchez. Messi dan dua legenda tersebut sama-sama mampu menyabet trofi Pichichi empat musim secara beruntun. Bahkan, Messi juga bisa melewati Di Stefano dan Sanchez jika musim depan juga menyabet trofi Pichichi.

Kini Messi semakin meneguhkan dirinya sebagai raja gol di LaLiga. Total saat ini Messi telah membuat 444 gol di LaLiga. Messi menjadi pemain tersubur dalam sejarah LaLiga. Selain itu juga pencapaian di atas, yakni pemain yang paling banyak mendapatkan gelar Pichichi.

Sepatu Emas Eropa Lepas

Hanya saja, pencapaian Messi di musim ini menurun dibandingkan musim-musim sebelumnya. Sebab, dia hanya membuat 25 gol di LaLiga musim ini. Padahal, biasanya Messi sering membuat lebih dari 30 gol dalam satu musim LaLiga.

Pencapaian yang menurun ini membuat Messi dipastikan tak mendapatkan sepatu emas Eropa. Sepatu emas Eropa adalah penghargaan yang diberikan pada pemain yang bermain di Eropa dan mencetak gol terbanyak di kompetisi domestik.

Musim ini, besar kemungkinan sepatu emas Eropa akan didapatkan Robert Lewandowski. Penyerang Bayern Munchen asal Polandia itu mampu mencetak 34 gol bagi Bayern Munchen di Liga Jerman musim 2019-2020.

Namun, bisa saja gelar pencetak gol terbanyak Eropa mampir ke penyerang Lazio Ciro Immobile atau bintang Juventus Cristiano Ronaldo. Immobile kini sudah membuat 29 gol dan masih menyisakan empat laga. Ronaldo membuat 28 gol dan masih menyisakan empat laga.

Sampai saat ini, Messi adalah pemain paling sering mendapatkan sepatu emas Eropa. Penyerang asal Argentina itu telah mendapatkan enam gelar sepatu emas Eropa. Sementara di posisi kedua adalah Cristiano Ronaldo yang mendapatkan empat gelar sepatu emas Eropa.

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis – Saat ini masih banyak yang selalu memandang sebelah mata kepada Jose Mourinho. Pelatih yang sering menganggap dirinya the special one ini merasakan hal tersebut. Dia melihat fakta bahwa saat ini orang-orang memandangnya dengan mata yang berbeda. Orang-orang menatap saya dengan mata yang berbeda,” kata Mourinho kepada Sky Sports.

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Laga Spurs vs Leicester City Terbukti Mourinho Selalu Optimis

Padahal jika kita lihat kiprahnya dalam menangani Tottenham dalam sembilan bulan terakhir ini, Mourinho sangat berhasil. Mari kita lihat Spurs berada di urutan 14 di Liga Premier ketika Mourinho menggantikan Mauricio Pochettino November 2019 lalu. Lihat saat ini, Mourinho telah berhasil mengarahkan klub kembali ke posisi terhormat kompetisi Liga Eropa dengan satu pertandingan tersisa. Mourinho dan staf, selalu melakukan analisis secara internal. Mereka dengan rinci mencatat performa setiap pemain. Staf pelatih telah melakukan pekerjaan yang sangat positif.

Pengalaman ketika membesut FC Posto bisa dibandingkan dengan saat ini. Ketika dia tiba di Porto pada Januari 2002, setengah musim itu harus mengalami masa yang sangat sulit. Tetapi kemudian Mourinho menganggap betapa pentingnya persiapan semua program yang harus terukur dengan target jelas. Mungkin demikianlah yang dilakukan Mourinho terhadap Spurs. Mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman di klub untuk mempersiapkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Jose Mourinho mengatakan keyakinannya bersama Tottenham Hotspur.

Saya senang dengan globalitas tim yang saya miliki, dan saya harap kami dapat memberikan sedikit sentuhan untuk meningkatkan dan membuat kami lebih baik, lebih kompetitif, lebih beradaptasi. Dengan cara berpikir saya dan keseimbangan yang selalu saya coba temukan dalam sebuah skuad. Jika kita berhasil, maka kita akan lihat hasilnya. Filosofi sepakbola yang dimiliki Mourinho menjadi penting untuk membentuk tim dengan pola dan skema sesuai materi pemain yang ada.

Apa yang dikatakan Mourinho diatas sudah terbukti dalam setiap laga dari Spurs hingga pekan ke-37 Premier League. Terakhir dalam matchweek 37 Spurs berhasil mengkandaskan Leicester City di Stadion Tottenhamhotspur London. Harry Kane mencetak dua gol dalam tiga menit ketika Tottenham Hotspur mengalahkan Leicester City 3-0 malam itu.

Hasil ini membuka peluang untuk meraih harapan mereka diajang Liga Eropa musim depan

Spurs unggul ketika tembakan Son Heung-min dibelokkan oleh bek The Fox, James Justin di menit keenam sehinhga masuk ke gawang Leicester. Kemudian Kane mencetak gol kedua pada menit ke-37, setelah menerima umpan terobosan dari Lucas Moura. Hanya tiga menit kemudian, kembali Moura memberikan assid untuk rekan setimnya di sebelah kiri. Kane melepaskan tembakan luar biasa untuk keunggulan Spurs 3-0 Leicester. Ini adalah gol Harry Kane yang ke-16 melawan Leicester di semua kompetisi.

Walaupun Leicester mendominasi sepanjang babak kedua tetapi tidak satupun gol lahir dari skuad The Fox ini. Hasil ini membuat Leicester gagal menambah poin. Tetap berada diposisi 4 dengan 62 poin diatan Manchester United juga dengan 62 poin. Setan Merah bisa menggeser Leicester karena masih memiliki satu laga sisa melawan West Ham United. Jika United menang maka bertambah menjadi 65 poin memggeser posisi Leicester di peringkat 4.

Spurs sendiri dengan kemenangan ini naik ke urutan keenam dengan 58 poin. Mereka berpeluang ke Liga Eropa jika memenangkan laga terakhir melawan Crystal Palace. Selamat untuk Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur. Liga Eropa sudah menunggu di depan mata.

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa – Liverpool gagal membawa misi 100 poin mereka ketika dikalahkan 1-2 oleh Arsenal dalam laga yang berlangsung di Emirates Stadium London. Bagi Jurgen Klopp, kalah dari Arsenal adalah kehilangan poin untuk ketiga kalinya sejak tim asuhannya dinobatkan sebagai juara. Kekalahan Liverpool tersebut membuat mereka tetap memiliki 93 poin dan hanya bisa meraih 99 poin jika memenangkan dua sisa laga mereka.

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Usai Gagal Raih 100 Poin Guardiola Anggap Liverpool Tetap Luar Biasa

Namun bagaimanapun Liverpool adalah tim pertama yang meraih juara ketika kompetisi masih menyisakan 7 laga. Walaupun The Reds gagal mengalahkan rekor Manchester City yang meraih 100 poin saat menjuarai Liga Premier 2017/2018. Akan tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk mengurangi arti dari prestasi mereka musim ini sebagai Juara Premier League setelah menunggu selama 30 tahun.

Ketika sudah memastikan juara dan menyisakan 7 laga lagi, Liverpool tampak siap untuk merobek-robek buku catatan prestasi Manchester City dengan 100 poin mereka. Sebelum akhirnya The Reds harus kehilangan ritme permainan mereka ketika kalah 1-2 dari Arsenal di laga kemarin. Kendati demikian, Pep Guardiola berpikir dimana mereka mengambil gelar Premier League pertamanya setelah 30 tahun menunggu, adalah hal yang layak mendapat banyak pujian. Dari sudut pandang saya, itu tidak membatalkan untuk satu detik Liga Premier luar biasa yang telah dilakukan Liverpool.”

Sembilan puluh sembilan poin atau 102 poin liga primer, itu luar biasa. Kami mengucapkan selamat kepada mereka. Saya selalu berpikir bahwa catatan di sana akan rusak dan cepat atau lambat itu akan terjadi. Tetapi juga 100 poin itu tidak mudah. Kami luar biasa dua musim lalu ketika kami melakukannya, kami luar biasa ketika kami membuat 98 musim lalu. Demikian kata Guardiola dalam konferensi pers jelang semifinal Piala FA, Manchester City melawan Arsenal seperti dilansir Goal.

Wajar sekali Guardiola merasa bangga dengan apa yang pernah dicapainya bersama City dalan 1-2 musim yang lalu. Perolehan 98 poin pada kompetisi tahun lalu dan 100 poin dua musim yang lalu adalah prestasi Guardiola yang sulit bisa dipecahkan tim manapun. Hal itu menunjukkan konsistensi permainan Manchester City selama kompetisi. Liverpool masih memiliki gairah setidaknya menutup musim kompetisi ini dengan dua kemenangan melawan Chelsea dan Newcastle United.

Dua kemenangan ini menjadi penting untuk meraih 99 poin dimana mereka memperbaiki perolehan poin musim lalu ketika Liverpool menjadi runner up dengan 97 poin dibawah City dengan 98 poin. Liverpool akan mendapatkan trofi Liga Premier dalam upacara khusus yang berlangsung di Anfield setelah pertandingan kandang terakhir mereka melawan Chelsea pada. Usai kalah dari Arsenal pekan lalu, momen ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenangkan laga kandang terakhir Liverpool melawan Chelsea.
Kemenangan akan menambah suasana semakin lengkap dan sempurna bagi skuad The Reds.

Dengan pendukung yang tidak dapat menghadiri pertandingan tertutup lawan Chelsea, maka acara bersejarah tersebut akan melibatkan presentasi unik yang dirancang bagi para penggemar Liverpool. Para pemain dan staf Reds akan menerima trofi Liga Premier dan medali pemenang mereka di podium khusus dengan dikelilingi oleh spanduk penggemar The Reds. Semacam perayaan yang sangat sederhana ditengah kondisi prihatin akibat pandemi Covid-19 ini. Selamat untuk The Reds Liverpool, Sang Juara Premier Legaue, merupakan gelar mereka yang ke-19.

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi – West Ham akan menghadapi laga krusial melawan Watford. Pertandingan ini bisa jadi penentu langkah The Hammers di Liga Inggris. Di pekan ke-36 ini, Sabtu (28/7/2020) dini hari pukul 02.15 WIB, West Ham akan menjamu Watford di London Stadium. West Ham butuh kemenangan untuk menjaga jarak aman dari zona degradasi. Sementara bila kalah dari Watford akan membuat peluang West Ham makin berat.

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

West Ham vs Watford Pertemuan Hidup Mati Menjauhi Zona Degradasi

Meskipun kedua tim saat ini berada di zona aman peringkat 16 (West Ham) dan 17 (Watford) dengan koleksi poin yang sama 34 angka, namun keduanya bertekad meraih poin penuh agar posisi mereka tidak semakin memburuk. Apalagi dua tim yang berada di zona merah, Bournemouth (18) dan Aston Villa (19) memiliki poin 31 dengan menyisakan dua laga tersisa, yang artinya mereka sebisa mungkin akan memanfaatkan laga yang akan dilakoninya itu dengan meraih kemenangan.

Perlu diingat di sepak bola terkadang hadir kejutan-kejutan yang tidak terduga sama sekali. Sejauh yang saya tahu di Liga Inggris ini, tidak ada tuh soal tim pesanan atau mafiawasit untuk misi penyelamatan yang menguntungkan tim tertentu. Seperti Sudah, kita balik lagi ke pertandingan West Ham vs Watford. West Ham yang pada pertandingan sebelumnya menang telak 4-0 atas Norwich City, membuat tim besutan David Moyes ini tengah memiliki kepercayaan tinggi. Apalagi mereka punya modal kemenangan atas Watford saat pertemuan pertama kedua tim musim ini, membuat para fans yakin akan meraih 3 poin.

Memiliki keunggulan bermain di kandang, West Ham tentunya akan mengambil inisiatif menyerang pada menit-menit pertama pertandingan. Watford tentu tidak ingin kalah dalam pertandingan ini, tetapi ada fakta yang mengkhawatirkan bahwa The Hornets sering tidak mendapatkan hasil yang baik kala bertandang. Mereka mencatat 4 pertandingan tandang terakhir berakhir dengan kekalahan. Kendati mendapat hasil buruk di pertemuan pertama dan laga tandang terakhir, namun mentalitas Watford juga tengah meningkat setelah hasil memuaskan baru-baru ini.

Dua pertandingan sebelumnya mereka meraih kemenangan itu jelas merupakan dorongan mental yang besar bagi pelatih Nigel Pearson dan para pemain sebelum melakukan perjalanan ke London hari ini. Selain modal penting tersebut, Watford sendiri memiliki catatan apik kala bermain di London Stadium, dari 7 pertandingan terakhir Watford meraih 4 kemenangan dan 1 kali seri. Bahkan, musim ini West Ham juga tidak terlalu baik kala bermain di kandangnya sendiri.

Catatan West Ham di kandang hanya memenangkan 3 pertandingan dan kalah hingga 8 kali. Karena itu, bila berhitung soal statistik jelas West Ham tidak dapat diunggulkan. Faktor lain yang tidak kalah menarik adalah West Ham vs Watford dalam sejarahnya telah bertemu sebanyak 78 kali. Malahan West Ham mengantongi kemenangan 44 sedangkan Watford hanya 21 kali dan sisanya seri.

Seru juga nih jelang akhir kompetisi melihat tim papan bawah saling jungkir balik demi bertahan di kasta teratas liga dan lagi akan sangat banyak kerugian dan kesulitan yang didapat jika terdegradasi.

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona – Barcelona sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Paska mengalahkan peringkat papan tengah Granada, Real Madrid tinggal membutuhkan dua poin lagi untuk menyegel gelar juara dari dua laga akhir tersisa. Melawat ke Estadio Nuevo Los Carmenes, Selasa (14/7/2020) dinihari WIB, Real Madrid membawa pulang tiga poin penuh dari tuan rumah Granada di pekan ke 36 Liga Spanyol.

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Hanya Trofi Si Kuping Lebar yang Menyelamatkan Muka Barcelona

Real Madrid unggul 1-0 di menit ke 10 dari Ferland Mendy. Madrid menambah keunggulan menjadi 2-0 di menit ke 16 oleh Karim Benzema. Granada memperkecil ketertinggalannya di menit ke 5 babak kedua bergulir oleh Darwin Machis. Hingga wasit meniup peluit panjang tanda laga berakhir, skor 2-1 tetap bertahan milik Real Madrid. Dengan demikian Real Madrid mengumpulkan angka 83 poin, meninggalkan rival terdekatnya Barcelona dengan terpaut empat poin di peringkat ke 2.

Jika seri atau kalah, Real Madrid akan melakoni laga terakhir hari Minggu melawan Leganes. Skenario terburuk Real Madrid gagal juara adalah mereka menelan dua kali kekalahan dan Barcelona menang dua kali. Namun skenario itu akan sangat mustahil terjadi. Pasukan Zinedine Zidane mencatat 9 kali kemenangan beruntun (yang terakhir dari Granada itu).

Atau dengan kata lain Los Blancos memenangkan semua laga yang digelar sejak La Liga dimulai kembali selepas jeda karena pandemi Covid-19, Juni lalu. Padahal sebelum kompetisi dihentikan, bukan Real Madrid yang bertengger di puncak klasemen, tapi Barcelona. Kita harus kritis kepada diri sendiri, kami pasrah gelar lolos dari kami dan tidak akan mencari-cari alasan,” kata punggawa Barcelona Luis Suarez kepada Mundo Deportivo.

Apa pun yang terjadi kami harus memenangkan dua laga tersisa setelah itu kami harus fokus ke Liga Champions,” kata pemain asal Uruguay itu. Barcelona membutuhkan keajaiban dan harus memenangkan dua laga terakhir melawan Osasuna dan Alaves. Jika pun tidak ada keajaiban yang terjadi, pemain berusia 33 tahun itu mengatakan timnya akan membalasnya di Liga Champions.

Liga Champions bisa menjadi obat penawar rindu di tengah-tengah situasi pelik karena kegagalan menjadi kampiun di Liga Santander. Barcelona mengalami masa-masa gelap di musim ini. Semenjak awal musim, Blaugrana cuma memetik dua kemenangan dari enam laga. Hal tersebut lah yang menjadikan pelatihnya, Ernesto Valverde dipecat pada pertengahan bulan Januari 2020 lalu.

Jika menang, Luis Suarez dkk akan bertemu dengan pemenang antara Chelsea dan Bayern Munchen. Laga-laga Liga Champions nantinya akan digelar di satu tempat, yaitu di Lisbon, Portugal. Tertunda sejak 11 Maret karena pandemi Covid-19, keempat laga yang belum tuntas (leg kedua) 16 besar akan digelar di tempat semula. Akan tetapi laga-laga 16 besar nantinya (di antara mereka yang sudah tuntas) akan digelar di satu tempat dan berlangsung dengan format satu kali main untuk menghasilkan tim yang melangkah ke babak selanjutnya.

Akan tetapi mencari obat kelam ini yang harus diperhatikan Barcelona adalah fokus, karena tidak mudah untuk menikmati Piala Si Kuping Lebar ini.

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018 – Hari ini, dua tahun lalu, Prancis berhasil menjadi juara Piala Dunia 2018. Di final yang dilaksanakan 15 Juli 2018 itu. Prancis juara setelah mengalahkan Kroasia 4-2. Ini adalah gelar kedua Prancis di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, mereka menjadi juara pada Piala Dunia 1998. Ada keunikan tersendiri yang membuat saya kala itu merasa yakin Prancis juara Piala Dunia 2018. Mungkin ini hanya kebetulan yang memang berulang dalam rentang 20 tahun.

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Ada beberapa kesamaan antara Prancis 1998 dengan Prancis 2018, berikut catatannya. Pada Piala Dunia 1998 dan 2018, Prancis ada di grup C. Pada 1998, Prancis satu grup dengan Arab Saudi, Denmark, dan Afrika Selatan. Pada 2018, Prancis bersama Denmark, Peru, dan Australia. Bedanya pada 1998 Prancis berstatus sebagai tuan rumah. Uniknya, di dua piala dunia itu, Prancis lolos ke babak gugur bareng dengan Denmark. Di Piala Dunia 1998, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 9 poin dan Denmark ada di posisi dua dengan 4 poin.

Di Piala Dunia 2018, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 7 poin dan Denmark di posisi dua dengan 5 poin. Prancis 1998 dan 2018 sama-sama memiliki pemain nomor 9 yang tumpul. Pemain nomor 9 identik sebagai penyelesai akhir. Di Piala Dunia 1998, jersey nomor 9 Prancis dipakai oleh Stephane Guivarc’h. Di Piala Dunia 2018, jersey nomor 9 diisi Olivier Giroud. Kedua pemain itu tak mampu mencetak satu gol pun di piala dunia.

Saat 2018, ketika sampai semifinal Giroud tak mencetak gol, saya meyakini bahwa di final dia juga tak.
Pada 1998 dan 2018, Prancis sama-sama memiliki striker muda yang moncer. Di 1998 ada Thierry Henry dan 2018 ada Kylian Mbappe. Saat Piala Dunia 1998, Henry masih berusia 20 tahun. Pemain yang belakangan menjadi legenda bagi Arsenal itu mencetak tiga gol di Piala Dunia 1998.

Kylian Mbappe bermain di Piala Dunia 2018 di usia 19 tahun. Di ajang akbar itu, Mbappe membuat empat gol. Kedua pemain ini memiliki kesamaan yakni soal kecepatan dan beroperasi sebagai penyerang sayap. Hanya saja bedanya adalah Mbappe menyabet gelar pemain muda terbaik di Piala Dunia 2018 dan Henry tak mendapatkannya. Pemain muda terbaik di Piala Dunia 1998 disabet oleh Michael Owen dari Inggris yang kala Piala Dunia 1998 masih berusia 19 tahun.

Saat Prancis bisa mengalahkan Belgia dengan skor 1-0 di semifinal, saya yakin bahwa Prancis akan juara. Sebab, kemenangan Prancis atas Belgia itu ditentukan oleh gol tunggal pemain belakang mereka Samuel Umtiti. Sementara seperti diketahui Umtiti adalah pemain belakang. Keyakinan saya soal siklus 20 tahunan itu. Di 1998, pahlawan Prancis di semifinal juga seorang pemain belakang, yakni Lilian Thuram. Saat itu, Thuram membuat dua gol ke gawang Kroasia sehingga Prancis menang 2-1 dan lolos ke final.

Jika mengacu pada cerita 20 tahunan, maka bisa jadi Prancis akan juara pada Euro 2020. Tapi, kan ternyata Euro 2020 ditunda karena pandemi. Nah kita tunggu saja apakah Prancis akan juara pada Euro 2021. Diketahui, setelah juara Piala Dunia 1998, Prancis mampu juara di Euro 2000. Tulisan ini hanya hiburan saja. Tak ada niat apapun. Apalagi mengarahkan pikir bahwa hidup itu dipastikan dengan siklus. Karena tulisan ini hanya hiburan, maka jika tujuannya tercapai jika yang membaca terhibur. Tapi jika yang membaca tak terhibur, ya diikhlaskan saja dengan merasa terhibur.

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta – Manchester United (MU) gagal melanjutkan tren kemenangannya di Liga Inggris. Selasa (14/7) dini hari tadi, MU serasa “dirampok” di rumahnya sendiri oleh tamunya, Southampton. Frasa dirampok itu rasanya tidak berlebihan untuk menggambarkan pertandingan ini. Betapa tidak, kemenangan MU yang sudah di depan mata, lenyap di menit akhir.

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

MU yang di empat laga sebelumnya menang beruntun, mendapat perlawanan ketat dari Southampton yang tampil tanpa beban karena sudah aman dari degradasi dan tidak berpeluang lolos ke kompetisi Eropa. Southampton unggul lebih dulu lewat gol Stuart Amstrong di menit ke-12. MU lantas ‘terbangun’. Hanya dalam tiga menit, MU bisa membalik skor lewat gl Marcus Rashford di menit ke-20 dan Anthony Martial di menit ke-23.

Namun, petaka dialami MU di menit ke-96. Berawal dari sepak pojok, Michael Obafemi yang baru masuk ke lapangan tiga menit sebelum laga usai, berhasil meneruskan bola ke gawang MU. Laga pun berakhir 2-2. MU pun kehilangan dua poin. Hanya bisa menambah satu poin dari kemungkinan mendapat tiga poin (bila menang). Dan itu bisa jadi masalah bagi upaya mereka untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Mungkinkah pemain-pemain MU mulai merasakan ketegangan dari imbas dicabutnya sanksi Manchester City perihal larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim ke depan. Petang kemarin, media-media di Inggris kompak memberitakan kabar itu. Bahwa, sanksi UEFA untuk Manchester City dicabut setelah banding mereka dikabulkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

City ban lifted.

Begitu pengumuman yang diposting akun Instagram Sky Sports, petang kemarin. Dengan begitu, maka Manchester City dipastikan akan tampil di Liga Champions musim depan. Nah, dicabutnya sanksi untuk City itu membuat Liga Inggris semakin memanas. Perebutan empat tiket ke Liga Champions kini semakin sengit ketika Premier League tinggal menyisakan tiga pertandingan.

Gambaran panasnya begini. Sebelumnya, ketika City diasumsikan diskorsing, tim peringkat 5 bisa lolos ke Liga Champions musim depan karena menggantikan posisi City. Kini, dengan Liverpool dan City sudah pasti lolos ke Liga Champions musim depan, maka ’empat tiket’ itu kini tersisa dua. Dan itu hanya untuk tim peringkat 3-4. Sementara, sedikitnya masih ada lima (5) tim yang secara hitung-hitungan di atas kertas, masih berpeluang untuk lolos

Dari Chelsea (60 poin/peringkat 3), Leicester City (59 poin/4), Manchester United (59/4), Wolverhampton (55/6), dan Sheffield United (54/7). Mereka bakal saling “baku hantam” di tiga pertandingan terakhir. Semesta mendukung MU Merujuk gambaran tersebut, MU pasti sangat menyesali hasil imbang atas Southampton. Sebab, andai menang, Bruno Fernandes dkk pasti sudah ada di peringkat 3 dengan 61 poin.

Toh, hasil melawan The Saints–julukan Southampton itu tidak perlu terlalu diratapi. MU masih bisa move on. Terlebih, fenomena yang terlihat, semesta seolah mendukung Tim Setan Merah untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Ya, semesta seperti merestui harapan besar MU untuk kembali tampil di Liga Champions, kompetisi yang telah mereka menangi tiga kali, setelah hanya jadi penonton di musim 2019/20 ini.

Merujuk pada ujaran novelis asal Brasil, Paulo Coelho di buku The Alchemist yang terkenal itu. When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benarkah semesta memang telah ‘berkonspirasi’ membantu Manchester United untuk kembali tampil di Liga Champions musim 2020/21 depan. Bahwa, bantuan semesta itu bisa berbentuk “pertolongan” dari tim-tim lain. Bantuan semesta itu juga bisa berbentuk penampilan buruk dari tim-tim pesaing pemburu tiket ke Liga Champions.

Kekalahan bersamaan yang dialami Chelsea dan Leicester City–dua pesaing utama MU–pada akhir pekan kemarin, menjadi tanda-tanda kesekian kalinya bahwa semesta membantu Tim Setan Merah untuk mengakhiri kompetisi sebagai juara. Ya, siapa sangka, Chelsea, yang sebelumnya meraih kemenangan beruntun, malah babak belur di markas Sheffield United

Sehari kemudian, MU kembali mendapat kabar bagus ketika Leicester City justru hancur lebur di markas Bournemouth. Ya, Leicester yang sempat unggul lebih dulu, justru kalah 4-1 dari tim ‘pejuang degradasi’ itu. Padahal, sebelum laga, Leicester diprediksi akan menang di markas Bournemouth. Begitu juga Chelsea yang diyakini bisa setidaknya mendapatkan poin di markas Sheffield. Yang terjadi, semesta rupanya tidak menghendaki prediksi itu.

Memang, kemenangan West Ham dan Bournemouth itu sangat penting bagi diri mereka sendiri demi menjaga asa tetap bertahan di Premier League alias tidak terdegradasi. Tapi, kemenangan mereka juga menjadi pertolongan bagi MU dalam upaya lolos ke Liga Champions. Keputusan wasit yang debatable
Sebelum Chelsea dan Leicester kalah, MU lebih dulu meraih kemenangan di markas Aston Villa. MU menang 3-0 (9/7). Nah, kemenangan MU itu disorot oleh beberapa media. Termasuk Sky Sports.

Sorotan tertuju pada gol pertama MU yang dicetak Bruno Fernandes melalui titik penalti. Media menayangkan tayangan ulang ketika Bruno melakukan gerakan berputar untuk melindungi bola yang dikuasainya, tepat setelah memasuki batas di area dalam penalti Villa. Nah, yang menjadi sorotan, sebelum jatuh karena kontak dengan pemain Villa, kaki Bruno Fernandes justru menginjak kaki pemain Villa yang mengawalnya. Namun, wasit yang menengok Video Assistant Referee (VAR), tetap memutuskan penalti.

Beberapa media juga memunculkan data tentang tim-tim Liga Inggris yang mendapat penalti dan dihukum penalti. Dari data tersebut, MU menjadi tim yang paling banyak mendapatkan penalti (13 kali) di musim ini dan hanya sekali dihukum penalti. Sementara Chelsea dan Leicester sama-sama 7 kali pernah mendapat penalti. Toh, bagaimanapun, itulah dinamika yang terjadi. Dan, keputusan wasit yang debatable seperti di markas Aston Villa itu, juga bisa menjadi bagian dari ‘dukungan semesta’ untuk Manchester United.

Namun, sebanyak apapun bantuan semesta untuk Manchester United yang berwujud ‘pertolongan’ tim-tim lain, penampilan memble para pesaing, maupun keputusan wasit yang sumir, penentu akhir adalah MU sendiri. Ya, lolos tidaknya MU ke Liga Champions musim depan, akan bergantung dari hasil yang mereka raih di tiga laga terakhir. Bukan bergantung pada hasil dari tim-tim lain.

Memang, dengan hasil 2-2 melawan Southampton dini hari tadi, MU kini masih ada di peringkat 5. Tapi, kabar bagusnya bagi fans MU, jadwal ‘menguntungkan’ tim asuhan Ole Solskjaer ini. Ya, jadwal juga menjadi wujud lain bantuan semesta untuk MU. Sebab, MU masih akan bertemu langsung dengan salah satu pesaing, yakni Leicester City. Andai tidak ada lagi jadwal bertemu langsung, bila MU menang beruntun sementara pesaing mereka juga menang beruntun, bisa jadi ‘perjuangan’ MU akan sisa’-sia.

Di tiga laga terakhir, pesaing utama MU dalam perburuan tiket Liga Champions bukan lagi Chelsea. Sebab, MU tidak akan bertemu Chelsea. Apalagi, dengan Chelsea menjamu Norwich dan Wolverhampton, dan away ke Liverpool, The Blues berpeluang meraih 6 atau 7 poin tambahan. Pesaing langsung MU kini adalah Leicester City. Sebab, MU akan menjamu Leicester di Old Trafford pada pertandingan terakhir. Dan itu sangat mungkin akan menjadi penentuan ‘tiket terakhir’ menjadi milik siapa.

Bila begitu, dengan tambahan 6 poin, maka MU dan Leicester akan memiliki poin sama, 65 poin. Tinggal menunggu bagaimana pertemuan mereka di laga terakhir. Bagaimana jika ternyata Leicester City ‘tersandung’ sebelum bertemu MU di laga terakhir.

Semisal Leicester ditahan Sheffield United yang tengah on fire, atau juga kalah atau bermain imbang saat away ke markas Tottenham. Bila begitu, semesta memang sedang sangat baik membantu MU untuk lolos ke Liga Champions. Salam.