Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus – Juventus scudetto lagi. Lagi..lagi dan lagi, jika perlu sebutkan kata ini sebanyak sembilan kali. Dinihari tadi waktu Indonesia meski kalah dalam pertandingan “hiburan” dari AS Roma 1-3 di J Stadium, tetapi perayaan scudetto Juventus tetap meriah. Sesusai pertandingan, satu persatu pemain Juventus yang mengenakan kostum baru untuk musim 2020/2021, diteriakan namanya oleh announcer, menuju balkon dan diberikan medali dan piala untuk perayaan scudetto ke-38 dalam sejarah klub.

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Dan ketika sang il capitano, Giorgio Chiellini mengangkat piala, para pemain tersenyum bahagia, berteriak, bernyanyi bersama merayakan gelar scudetto mereka yang diraih selama sembilan kali secara beruntun. Raihan prestasi yang menjadi rekor terbaik di lima liga top Eropa. Ah, bosan. Pasti Juventini akan klepek-klepek bahagia membaca dua tiga paragaraf di atas. Dan sebaliknya untuk Internisti, Romanisti atau Napoletano, kemenangan Juventus ibarat sebuah penyakit yang menahun dan lama sekali sembuhnya.

Akhirnya, para fans fanatik hanya menghibur diri dengan menyebutkan bahwa syukur bisa jadi runner-up, beda satu poin, syukur bisa lolos ke Eropa musim depan, ini sudah yang terbaik yang bisa dilakukan dan sebagainya. Nah, sebagai pengamat Seri A amatir, saya juga merasakan hal yang sama, lalu seperti bertanya. Akan tetapi sebagai mahkluk yang mencintai sepak bola, saya tahu bahwa jangan sampai pernah kehilangan harapan. Minimal harapan untuk melihat ada juara baru musim depan, dalam kata lain harapan itu jangan punah.

Memang akan menuju kepunahan, jikalau Juventus akhirnya kembali menjadi scudetto lagi musim depan yang berarti untuk kesepuluh kali yang beruntun, ke-39, dan mendekati gelar keempat puluh, berbintang empat di kaos mereka ketika bintang dua saja mungkin perlu dua atau tiga dekade menggapainya. Jangan pernah kehilangan harapan, karena jika kehilangan harapan maka kemungkinan Seri A akan tinggal kenangan dan berganti nama menjadi Seri J, Juventus. Lalu apa yang perlu dilakukan oleh klub pesaing agar dapat menggagalkan lahirnya Seri J untuk menggantikan Seri A.

Saya pikir langkah yang dilakukan Inter Milan musim ini patut dicontoh. Musim depan, jika tidak kehilangan para pemain bintang secara masif seperti Lautarao Martinez, Skriniar atau mungkin juga Christian Eriksen, maka Inter Milan berpeluang besar menjadi scudetto. Langkah strategis sudah dilakukan tim biru hitam musim ini. Salah satu langkah cerdik adalah dengan memboyong para persona yang memiliki darah pemenang Juventus ke Giuseppe Meazza. Diantaranya, juru transfer Beppe Marrota, dan sang allenatore, Antonio Conte.

Sang pemilik baru asal China, Steven Zhang sepertinya mengerti benar filosofi mengalahkan Juventus yaitu berpikir seperti Juventus. Berpikir mengalirkan mental pemenang ke anak-anak biru hitam agar haus dan dahaga juara seperti La Vechia Signora. Caranya adalah dengan melakukan transfer secara cerdas dengan mendatangkan pemain yang cocok dengan keinginan pelatih serta mendatangkan pelatih yang bermental pemenang seperti Antonio Conte. Hasilnya mujarab. Inter dapat dikatakan tampil luar biasa musim ini, menjadi tim yang menempel ketat Juventus di pucuk klasemen hingga giornata terakhir, serta menjadi tim yang memiliki karakter tangguh dengan pertahanan yang paling solid dan penyerang yang tajam.

Internisti sudah bermimpi agar Inter menjadi scudetto musim ini, namun menurut saya terlalu premature harapan atau mimpi itu, perlu panjang sabar. Mengalahkan superioritas Juventus yang sudah meraih gelar kedelapan kali secara beruntun tentu tidak mudah. Menurut saya, Inter butuh satu musim untuk beradaptasi menjadi pemenang, lalu musim depan menjadi scudetto. Artinya musim depan Inter scudetto? Jika arah angin tak berubah, maka sangat mungkin. Cara seperti ini sebenarnya sudah coba dilakukan oleh De Laurentius, bos besar Napoli. Dia merekrut Carlo Ancelotti sebagai pelatih Napoli ketika merasa komposisi pemainnya sudah bisa bersaing dengan Juventus.

Sayang di tengah jalan, Ancelotti dan Laurentius berseteru dan akhirnya Napoli harus seperti restart dari nol lagi ketika mendatangkan Gennaro Gattuso sebagai pelatih. De Laurentius memuja muji Gatusso tapi hati kecilnya tahu, untuk bersaing dengan Juventus, itu tak cukup. Akhirnya, Inter hanya menjadi peserta Liga Eropa musim depan, dan bersiap kehilangan pemain bintang yang ingin tampil di Liga Champions seperti Koulibaly atau Arkadiuz Milik. Soal AS Roma, ini kasusnya berat. Mereka kehilangan semangat karena belum menemukan investor yang kaya seperti Inter Milan dan Juventus. Tanpa uang yang melimpah dan berharap hanya kepada pemain muda berpotensi seperti Zaniolo.

Roma tak akan bisa berbuat banyak. Kecuali, ada pengusaha China yang mau mengakuisisi Roma. Itu tentu doa utama Romanisti menyambut musim depan. Saudar sekota Roma, yakni Lazio musim depan nampaknya akan seperti musim ini. Berlari cepat, bernafsu tetapi kehabisan bensin mendekati akhir musim. Kedalaman skuad yang tak dalam memang hanya bisa membuat mereka berjalan seperti ini dan cukup mensyukuri berada di posisi keempat di bawah tim penuh kejutan musim ini, Atalanta.

Lazio nampaknya sudah cukup bersukacita ketika Ciro Immobile berhasil meraih Golden Boot Eropa, dan berharap pemain kunci mereka seperti Milinkovic Savic, Luis Alberto tidak tergoda untuk keluar dari klub atau mengikuti jejak Immobile yang diincar Everton dengan Carlo Ancelotti-nya. Jika para pemain bintang ini hengkan, elang biru tidak akan terbang jauh lagi musim depan. Apakah ini berarti jika hal-hal yang menjadi kelemahan klub pesaing mampu diperbaiki, maka Juventus tidak akan menjadi scudetto lagi.

Ahaa, ini pertanyaan yang sulit, sangat sulit. Andrea Agnelli, presiden Juventus nampaknya bukan orang yang cepat puas, nafsunya tinggi–mungkin karena masih muda. Bagi Agnelli, scudetto sedari awal sudah masuk dalam prioritas utama, setara dengan target untuk kembali menjadi juara Liga Champions. Makanya ketika Juventus menang atas Sampdoria dan memastikan meraih gelar Scudetto mereka, Agnelli nampak melompat kegirangan dan memeluk erat direktu Pavel Nedved dan juru transfer, Fabio Paratici.

Artinya, jika masih sehaus sekarang untuk Scudetto yang sebenarnya sudah kekenyangan, Juventus tentu akan terus mengejar gelar juara dan memperkuat skuad mereka. Kecuali, jika akhirnya Agnelli musim depan menempatkan Seri A sebagai prioritas kedua, dan mengutamakan Liga Champions, artinya dia akan menginstruksikan secara khusus untuk melepas Seri A demi gelar Eropa.

Seri A musim depan patut ditunggu. Prediksi saya kompetisi akan semakin seru. Inter Milan tetap akan menjadi pesaing utama Juventus dengan gangguan signifikan dari klub seperti Napoli, Lazio dan Roma. Oh, bagaimana Atalanta? Klub ini spesial, tapi bukan klub besar. Perlu ditunggu konsistensinya di kompetisi panjang seperti Seri A, baru dapat diperhitungkan lagi.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020 – Jujur saja pertandingan ini berjalan unik. Meski tetap menyajikan kualitas, namun di beberapa momen terlihat seperti drama Korea. Dimulai dari Arsenal yang kebobolan terlebih dahulu lewat kombinasi ciamik Olivier Giroud dan Christian Pulisic. Nama terakhir berhasil menjebol gawang Emiliano Martinez. Menariknya, laga ini menjadi duel head to head antara dua penjaga gawang beda generasi dari negara yang sama, Argentina. Mereka adalah Martinez dan William Caballero.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Arsenal memasang Martinez, karena kiper utama mereka Bernd Leno cedera. Sedangkan Chelsea memasang Willy Caballero, karena kiper utama mereka Kepa Arrizabalaga seperti sedang mendapatkan mosi tidak percaya. Bukannya tanpa respek, namun keberadaan Caballero juga tak sepenuhnya akan menjamin ketenangan. Caballero terkadang terlalu irit dalam bergerak dan kurang cepat dalam merespon tendangan lawan. Namun, ada satu hal kelebihan Caballero sebagai kiper senior di Premier League, yaitu kemampuannya mengalirkan bola dari belakang ke depan. Hal ini juga diperlihatkan pada final di Wembley.

Hanya, sayangnya lini depan Chelsea kurang bagus dalam bertransisi. Termasuk kurang efektif dalam berupaya menyerang balik ke pertahanan Arsenal. Selain duel kedua kiper itu, laga ini juga dihiasi dengan duel “sang mantan”. Menariknya, dua pemain yang dimaksud juga sering berduel hingga di area tengah lapangan. Mereka adalah David Luiz dan Olivier Giroud. David Luiz adalah mantan bek andalan Chelsea yang harus tersisih dari skuad The Blues, karena faktor umur. Sedangkan Giroud tersisih karena Arsenal berhasil mendatangkan Pierre-Emerick Aubameyang.

Meski sama-sama berawal dari kisah terbuang, namun keduanya mampu memperlihatkan tren performa yang bagus menjelang akhir musim 2019/20. Giroud sering mencetak gol ketika menjadi starting eleven, sedangkan Luiz mulai mampu menjaga pertahanan Arsenal dengan lebih baik. Hasilnya pun cukup oke, karena Giroud mencetak asis sedangkan Luiz mampu mempertahankan skor tetap 2-1 sampai dirinya ditarik keluar pada menit 80-an. Secara kolektif pun Luiz dapat keluar dari Wembley Stadium dengan senyum gembira.

Juaranya Arsenal di Piala FA memang bisa dikatakan cukup mengejutkan. Karena secara statistik, performa mereka baik di liga dan Piala FA tidak begitu bagus jika dibandingkan Chelsea. Bahkan, aura kemenangan Chelsea sudah cukup terasa ketika skuad asal London Barat itu mampu memulai pertandingan dengan baik. Ditambah dengan adanya gol cepat Pulisic sebagai penegas. Hanya, yang membuat Chelsea menjadi tidak lebih baik dari Arsenal adalah mereka mudah terbawa ritme permainan lawan. Mereka tidak mampu membuat tekanan yang sama seperti yang dilakukan di 10 menit awal.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa momen ketika Arsenal keluar menyerang dan menguasai bola. Barisan pemain Chelsea menjaga pertahanan terlalu dalam, sedangkan mereka tidak memasang pemain cepat di depan. Jika dibandingkan, antara pemain Arsenal dengan Chelsea memiliki karakteristik berbeda. Arsenal memasang tiga pemain cepat dan penuh akselerasi di depan, yaitu Aubameyang, Alexandre Lacazette, dan Nicolas Pepe. Sedangkan Chelsea menaruh dua pemain cepat dengan adanya Pulisic dan Mason Mount. Namun, secara akselerasi dan intensitas, hanya Pulisic yang dapat diandalkan.

Sedangkan Mount lebih ke pengisi ruang di sayap agar dapat membongkar trio Rob Holding, Luiz, dan Kieran Tierney. Jika strategi ini berjalan lancar, maka situasinya akan menguntungkan bagi Giroud, karena ia akan hanya bertarung dengan satu atau dua pemain saja di dalam kotak penalti. Gambarannya kurang lebih seperti ketika Chelsea bisa mencetak gol. Namun, pasca Arsenal menemukan ritme, ditambah dengan keberhasilan mereka mencetak gol penyama kedudukan lewat eksekusi penalti Aubameyang. Chelsea seperti belum bisa bangkit.

Nahasnya, drama kembali muncul bagi Chelsea ketika sang kapten, Cesar Azpilicueta harus keluar karena cedera hamstring. Keluarnya sang kapten seperti membuat Chelsea bermain seperti kurang jelas, antara yakin menguasai permainan atau fokus bertahan. Mereka kurang pasokan pemain berpengalaman di posisi yang sedang ditempati oleh kekuatan terbaik Arsenal, yaitu sisi kiri lapangan. Sisi itu diisi Maitland-Niles, Kieran Tierney, dan Aubameyang. Keluarnya Azpilicueta membuat Chelsea perlu segera kembali menyerang khususnya ketika babak kedua dimulai. Namun, kesialan kembali menimpa Chelsea karena Pulisic harus mengalami nasib yang persis dengan Azpilicueta.

Cedera hamstring menimpa pemain asal Amerika Serikat itu karena diduga dia terlalu cepat untuk berakselerasi ketika otot-ototnya belum kembali siap pasca jeda babak pertama. Musibah ini jelas mengubah peruntungan bagi kedua tim, dan Arsenal menjadi semakin percaya diri. Skuad asuhan Mikel Arteta memang tidak sepenuhnya dominan, namun mereka cukup mampu memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjadi keuntungan. Satu hal yang paling penting untuk menjadi sorotan dari permainan Arsenal adalah kengototan saat membangun serangan.

Mereka benar-benar seperti badai yang cepat meruntuhkan pertahanan Chelsea yang sedang galau karena kehilangan figur leader. Praktis, pemain yang paling berusaha mengambil tanggung jawab di lini belakang adalah Andreas Christensen. Pemain yang masuk menggantikan Azpilicueta itu terus berupaya menghalau serangan sporadis Arsenal. Salah satunya adalah ketika serangan cepat The Gunners diprakarsai oleh Hector Bellerin. Pemain asal Spanyol itu berhasil menerobos pertahanan Chelsea dan membuat Christensen harus menyapu laju Bellerin. Bola sebenarnya berhasil disentuh oleh kakinya, namun bola itu masih dijangkau oleh pemain Arsenal dan sampai pula ke kaki Aubameyang.

Lewat sedikit tekukan, Auba berhasil mencetak gol keduanya sekaligus membawa Arsenal berbalik unggul. Sungguh mengecewakan bagi penggemar Chelsea jika melihat timnya terpedaya oleh strategi permainan pragmatis Arsenal. Namun, begitulah sepak bola, mereka juga memiliki dramanya di atas lapangan. Termasuk dengan adanya kartu merah yang keluar dari saku wasit Anthony Taylor. Kartu merah itu menjadi penyebab keempat bagi kenahasan Chelsea selain cederanya Azpilicueta, Pulisic, dan taktik Arsenal. Ketika kartu kuning kedua diterima Mateo Kovacic, praktis Chelsea harus mengambil banyak risiko, dan itu memang dilakukan Frank Lampard.

Manajer asal Inggris itu memasukkan banyak pemain bertipikal menyerang dengan adanya Pedro, Hudson-Odoi, Ross Barkley, dan Tammy Abraham. Namun, sayangnya Pedro juga harus mengalami cedera. Pemain asal Spanyol itu sebenarnya mampu membuat Chelsea menaruh harapan. Ditambah dengan posisi bermainnya yang cederung fleksibel, maka pemain Arsenal akan sulit menaruh fokus pada pergerakan Pedro. Walau demikian, di balik kemenangan mereka, Arsenal tetap harus sadar bahwa mereka tidak sepenuhnya bagus dalam mengorganisir permainan. Dalam beberapa momen, terlihat mereka masih kurang efektif dalam menyerang, termasuk masih adanya kegugupan ketika menguasai bola di area pertahanan sendiri.

Beruntung, mereka menghadapi Chelsea yang kurang total dalam bermain, akibat kurangnya plan termasuk ketidakberuntungan yang di luar prediksi Lampard tentunya. Namun, dengan hasil ini Arsenal berhak kembali ke pentas Liga Eropa musim depan dan berharap dapat mencapai hasil yang lebih baik dari musim ini. Sedangkan bagi Chelsea, kekalahan ini tidak sepenuhnya buruk untuk reputasi mereka dan Frank Lampard. Mereka masih mampu menguasai permainan, bahkan tidak terbantai meski kehilangan 2 pemain di lapangan.

Itu artinya jika terjadi duel di musim depan antara Lampard dengan Arteta, bisa saja hasilnya dapat berbeda. Jadi, tetap semangat Chelsea! Coba lagi musim depan. Untuk Arsenal, selamat ya sudah menyelamatkan musim yang penuh drama ini dengan trofi Piala FA yang juga diraih dengan banyak drama. Semoga musim depan bisa lebih baik lagi.

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis – Timnas Indonesia pernah mendapat julukan macan asia papada era 50 an dimana pada saat itu timnas Indonesia mendapat medali perunggu Asian Games. Sejak saat itu timnas negara lain ingin melakukan uji coba dengan Indonesia termasuk legenda-legenda dunia seperti Pele, Maradona dan lainnya. Tetapi pada saat ini timnas Indonesia mengalami penurunan prestasi terutama pada level senior serta peringkat dunia FIFA yang sekarang berada pada 173.

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Tentunya penurunan peringkat ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk PSSI agar dapat meningkatkan prestasi timnas Indonesia. Pelatih silih berganti masuk ke timnas Indonesia tetapi itu tidak lama dari asing sampai dengan lokal. Banyak program yang dilakukan oleh PSSI dalam meningkatkan kemampuan pemain muda Indonesia dari program primavera, baretti, SAD, Garuda Select dan lainnya. PSSI berharap dengan program ini timbul regenerasi pemain Indonesia yang lebih baik dan berkualitas. Dari program ini Indonesia sudah banyak mendapatkan bibit-bibit yang berkualitas dan berkompetisi di luar negeri tetapi minim mendapatkan kesempatan di level senior.

Saat ini dibawah pelatih Shin Tae Yong pemain muda diberi kesempatan unjuk kemampuan di level senior. Hal ini dapat terlihat dari pemain-pemain yang dipanggil oleh Shin Tae Yong yang rata-rata berusia muda dan meninggalkan beberapa pemain senior yang menjadi langganan timmnas Indonesia. Selain itu, Shin Tae Yong mengindikasikan bahwa fisik timnas Indonesia menjadi sumber permasalahan selama ini dan tidak cukup untuk bermain selama 90 menit. Kombinasi pemain muda dan senior ini tentunya menjadi asa bagi masyarakat Indonesia untuk berprestasi dan memberikan kejutan terhadap timnas lain seperti halnya Korea Selatan.

Untuk menjadikan timnas Indonesia yang kuat dan berprestasi tentunya tidak instan dan harus berkelanjutan. Proses ini harus ada komitmen dari PSSI dalam meningkatkan fasilitas yang memadai untuk timnas Indonesia seperti negara-negara lain. Selain itu, PSSI harus membuat aturan tentang pemberdayaan sepakbola dari umur terkecil agar mendapatkan bibit-bibit sepakbola yang berkualitas.

Pemain-pemain muda dapat menjadi motor kebangkitan timnas seperti Jerman, Prancis, Italia, Inggris dan lainnya. Semua negara ini menjadikan pemain muda sebagai pilar timnas dan di kombinasikan pemain senior walaupun pada awalnya tidak menunjukkan prestasi yang mengesankan.

Semoga kombinasi pemain muda yang menghiasi timnas Indonesia saat ini dapat menunjukkan prestasi yang lebih baik dan PSSI harus tetap mengontrak pelatih Shin Tae Yong walaupun nantinya hasil dicapai belum memuaskan. Keberhasilan dan kesuksesan tidak diraih dengan instan, sebagai contoh pelatih Jerman Joachim Low yang tetap dipertahankan walaupun pencapaian awalnya menggunakan pemain muda belum sesuai ekspektasi sebagai tim besar tetapi PSSI nya Jerman tetap mempercayai hingga kini.

Bagai Padi yang Siap Panen Begitulah Sarri Merayakan Scudetto Pertamanya

Bagai Padi yang Siap Panen Begitulah Sarri Merayakan Scudetto Pertamanya – Setelah melihat sosok Marcelo Bielsa yang mampu membawa klubnya, Leeds United kembali ke Premier League, saya kemudian melihat sosok Maurizio Sarri. Sosok yang memang nyaris 11-12 dengan Bielsa; keras kepala dan tetap menjadi diri sendiri. Entah benar atau tidak, berdasarkan kacamata publik, saya melihat Sarri seperti Bielsa yang seolah dia adalah raja bagi dirinya sendiri. Jika tidak demikian tentu sulit rasanya melihat sosok seperti Bielsa masih mau.

Bagai Padi yang Siap Panen Begitulah Sarri Merayakan Scudetto Pertamanya

Bagai Padi yang Siap Panen Begitulah Sarri Merayakan Scudetto Pertamanya

Melatih klub dari divisi kedua di liga Inggris alih-alih bertahan di Lazio. Hal ini juga cukup terlihat pada Sarri. Ketika dia masih melatih Napoli, terlihat sekali aura ambisiusnya sangat besar. Entah, apakah hal ini terbawa dengan karakter presiden klubnya, Aurelio De Laurentiis, atau memang begitulah Sarri. Ketika pindah ke Chelsea, keambisiusan Sarri lebih cenderung merasuk ke taktik di lapangan. Hal ini terbukti dengan keberaniannya memperkenalkan pakem “Sarriball”. Meski yang dia inginkan masih belum begitu meyakinkan untuk penggemar klub asal London Barat itu.

Tetapi, nyatanya dia tetap mampu membawa klub yang berjuluk The Blues itu meraih juara Liga Eropa. Juara mayor pertama Sarri sepanjang karier melatih. Setelah kesuksesan singkat itu, dia segera merapat ke Juventus, si peraih 8 gelar Serie A secara beruntun. Tantangannya pun semakin berat, karena di Juventus, Sarri dihadapkan pada banyak pemain yang berkualitas di setiap lini. Salah satunya bernama Cristiano Ronaldo. Ini adalah tantangan besar, karena sejauh ini Sarri belum pernah melatih pemain sekelas pemenang Ballon d’Or.

Dugaan awal, Sarri akan kalah pamor dengan Ronaldo di ruang ganti. Namun, pilihan Juventus terhadap Sarri sebagai pelatih sebenarnya sudah tepat. Ketepatan itu bukan berpatokan pada bagaimana Sarri dapat membawa Juventus mempertahankan gelar juara Serie A, melainkan bagaimana Sarri dapat mengajarkan kepada para pemainnya tentang arti saling menghargai. Bagi saya, sikap saling menghargai itu penting, meski itu dilakukan oleh pelatih ke pemain. Karena, biasanya ada pelatih-pelatih yang sudah telanjur memiliki reputasi maupun karakter bermain yang kuat dan kaku.

Alias tidak berkompromi dengan para pemainnya. Ketika hal itu terjadi, sulit rasanya melihat seorang pelatih dapat membuat para pemainnya nyaman. Ditambah jika gaya melatihnya masih sulit untuk diterapkan di lapangan. Di sini Sarri seperti menyadari satu permasalahan tersebut. Meski dia datang sudah sebagai seorang pemenang, tetapi dia tetap sadar bahwa dirinya tidak sebesar klub yang akan dilatih, Juventus. Hal ini selaras dengan apa yang ia sampaikan di media massa, bahwa dirinya mempercayai para pemainnya untuk menentukan hasil.

Sebagai juara di laga melawan Sampdoria akhir pekan kemarin (26/7). Dia datang bukan sepenuhnya sebagai penentu keberhasilan Juventus, tetapi juga para pemainnya. Inilah yang membuat saya respek dengannya, karena dia mampu menyeimbangkan antara karakter dengan sikap. Suatu hal yang terkadang sulit diseimbangkan, karena biasanya karakter mampu menggiring pembentukan sikap seseorang. Sedangkan Sarri seolah tahu diri dengan apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada di Juventus. Juventus memang penuh ambisi, tetapi mereka juga harus tahu bahwa kerja sama mereka dengan Sarri baru semusim.

Artinya, ukuran sukses yang dipatok oleh Juventus juga harus realistis. Mereka boleh berkaca pada keberhasilan di 8 musim sebelumnya, tetapi mereka juga harus mengingat bahwa sepak bola masih (selalu) membutuhkan proses. Sarri baru menjejakkan kaki di Turin sebagai “orang dalam” di musim 2019/20, maka apa yang dia sampaikan saat interview pasca juara itu tepat. Dan, itu membuatnya seperti “padi yang siap panen”. Merunduk.

Sebagai sosok manusia, maka gambaran yang diperlihatkan Sarri dengan ungkapan tersebut, menunjukkan bahwa dirinya juga bisa bersikap bijaksana. Tinggal, apakah Juventus akan mampu mengakhiri musim dengan kemenangan di dua laga sisa, atau malah “bagi-bagi poin” ke lawan. Hal ini biasanya terjadi pada klub yang sudah memastikan diri sebagai juara. Mereka mulai merenggangkan kaki dari pedal yang sebelumnya diinjak dengan sekuat tenaga.

Selain itu, pencapaian dan pengakuan Sarri pasca Juventus menjuarai Serie A musim ini juga menjadi tanda tanya. Apakah mereka akan mampu bersaing di Liga Champions, atau tidak. Jika merujuk pada bagaimana permainan Juventus di musim ini yang (dianggap) tidak sebagus musim-musim sebelumnya, maka kiprah mereka di Liga Champions juga tidak akan terlalu dijagokan. Namun, apabila merujuk pada bagaimana Sarri dapat memotivasi para pemainnya untuk dapat tetap fokus dalam menggapai tujuan seperti di Serie A, maka ada peluang bagi mereka untuk bersaing memperebutkan gelar juara.

Bahkan, motivasi itu juga dapat mendorong Paulo Dybala dan Cristiano Ronaldo membuktikan diri bahwa mereka adalah pemain yang dapat diandalkan oleh Juventus. Hal ini sudah dapat dilihat dari beberapa pertandingan terakhir dengan memperlihatkan peran besar keduanya dalam menjaga posisi klub di puncak klasemen.

Kini, Juventus sudah juara, dan Sarri sudah mengakhiri paceklik gelarnya di Serie A saat usianya sudah 61 tahun. Usia yang sudah sangat senior untuk ukuran pelatih klub profesional dan biasanya sudah mulai berpikir untuk pensiun. Tetapi, dengan pencapaian ini, seharusnya Sarri masih bertahan untuk beberapa musim ke depan. Entah masih dengan Juventus atau tidak. Bahkan, bisa saja karier kepelatihannya akan ditutup dengan Juventus sebagai klub terakhir yang ia asuh. Sungguh menarik untuk dinantikan kiprah selanjutnya, si tukang ngudut ini.

Frank Lampard Beri Komentar Mengenai Masa Depan Kepa Arrizabalaga di Chelsea

Frank Lampard Beri Komentar Mengenai Masa Depan Kepa Arrizabalaga di Chelsea – Datang dengan label kiper termahal di dunia membuat para publik Stamford Bridge menaruh banyak harapan kepada kiper asal Spanyol tersebut,ia mengemban tugas sebagai kiper utama the blues untuk menggantikan Thibaut Courtouis yang memilih hengkang ke Real Madrid pada musim panas 2018.

Frank Lampard Beri Komentar Mengenai Masa Depan Kepa Arrizabalaga di Chelsea

Frank Lampard Beri Komentar Mengenai Masa Depan Kepa Arrizabalaga di Chelsea

Musim perdananya mampu ia lewati, penjaga gawang yang ditebus dari Atletic Bilbao ini mampu membawa Chelsea duduk di peringkat 3 dan juga berhasil mempersembahkan trofi Liga Eropa. Namun,dimusim keduanya sang penjaga gawang mulai menunjukkan penurunan performa yang membuat dirinya beberapa kali menjadi penghangat bangku cadangan termasuk di laga pekan terakhir saat Chelsea mengalahkan Wolves.

Situasi ini membuat masadepan kiper 25 tahun tersebut menjadi tanda tanya besar,sang penjaga gawang masih terikat kontrak hingga juni 2025. Tak sedikit yang memprediksi bahwa sang penjaga gawang akan angkat kaki di musim panas ini,hal ini pun mengundang sang pelatih untuk angkar bicara.

Ya, musim ini kami memang kesulitan mencatatkan clean sheet, tetapi hal itu bukanlah refleksi dari kinerja penjaga gawang. Ada hal yang harus diperbaiki dan dikerjakan oleh tim ini. Lihat bagaimana cara Chelsea berlatih, mungkin secara umum, kami memang menggunakan strategi menyerang,” ujar Lampard seperti dilansir Evening Standard.

Saya tidak ingin menyalahkan Kepa, (pemilihan Willy Caballero) di laga kontra Wolves murni karena melihat performa dalam beberapa waktu terakhir. Situasi seperti ini merupakan hal baru baginya, saat ini Kepa tengah mengalami masa sulit, sementara Willy Caballero berada dalam kondisi yang lebih baik, terlebih setelah pertandingan melawan Manchester United di semifinal Piala FA,” tambahnya.

Peluang hengkang sang penjaga gawang masih terbilang akan terjadi,sebelumnya beredar kabar kalau klub yang bemarkas di stamford bridge tersebut akan mencari kiper baru setelah mereka merampungkan transfer Kai Havertz.

Sejauh ini klub milik Roman Abramovich ini mulai dikait-kaitkan dengan beberapa kiper seperti Jan Oblak dari Atletic Madrid dan Andre Onana Penjaga gawang Ajax Amsterdam.

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun – Setelah peluit panjang dibunyikan, Bos Juventus Andrea Agnelli langsung memeluk Pavel Nedved dan Fabio Paratici ,mereka tertawa bahagia dan sesekali menggempalkan tangan tanda lega dan puas. Di lapangan, sang Kapten Leonardo Bonnuci menginisiasi untuk membuat lingkaran, berpegangan tangan dengan pemain Juventus lainnya, bernyanyi dan melompat kegirangan. Setelah kurang lebih semenit melakukan hal itu, mereka berpelukan satu sama lain.

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Meski aneh karena tanpa teriakan penonton, anthem yang dinyanyikan bersama dengan puluhan ribu Juventini, namun Juventus pantas gembira. Raihan ini adalah gelar scudetto La Vechia Signora yang ke-36 dan juga adalah raihan kesembilan secara beruntun, sebuah rekor fantastis di Italia dan rasanya akan sulit dipecahkan minimal dalam satu dekade ke depan. Namun, meski mengunci gelar dengan pekan masih tersisa dua pertandingan, harus diakui jalan menuju scudetto musim ini terlihat tak mudah bagi Juventus.

Dimulai dari transisi pergantian pelatih dari Massimiliano Allegri ke Maurizio Sarri yang tak berjalan mulus. Alasan utama pergantian allenatore ini bagi bos Agnelli adalah membuat Juventus tampil lebih menghibur dengan Sarriball yang mirip gaya Pep Guardiola. Persoalan besar muncul, mulai dari pemain Juventus yang masih kaku dalam beradaptasi dengan gaya menyerang ini, yagn akhirnya menimbulkan ketidakseimbangan dalam tim. Juventus selalu kesulitan menghadapi serangan balik lawan, dan akhirnya kebobolan.

Ini tentu saja berbeda dengan gaya Max Allegri yang dapat dibilang sedikit pragamtis, bertahan tetapi lebih aman dari segi permainan. Akibatnya Juventus terengah-engah dan membuat klub rival seperti Inter Milan atau Lazio sempat mengejar dan bahkan sementara menduduki singasana klasemen.

Syukur bagi Juventus, di tengah kesulitan itu, klub rival juga mengalami masalahnya sendiri. Ketika Juventus kalah, rival juga kalah, jika Juventus seri, rival bahkan mengalami kekalahan. Ada apa dengan para rival? Antonio Conte sebagai pelatih baru Inter Milan memang mampu membuat Inter tampil lebih baik dari musim lalu, tetapi tak cukup untuk membuat Inter menjadi juara. Pemain baru, strategi baru membuat Inter juga harus beradaptasi. Inter musim ini berhasil menggantikan Napoli sebagai rival terberat Juventus, hanya seperti Napoli di era Sarri, runner-up sudah lebih dari cukup setelah penyakit lama tetap muncul terjegal kalah dari klub-klub lebih kecil.

Lazio juga demikian, meski sakitnya sedikit berbeda. Tampil apik, rehat karena Covid-19 membuat Lazio kembali seperti menjadi anak baru. Kepercayaan diri Elang Biru seperti memudar dan Inzaghi yang sempat dipuja-puji sebagai pelatih jenius juga tak mampu membuat Lazio tampil dengan energi lagi. Apalagi Lazio harus diakui tidak memiliki kedalaman skuad yang cukup seperti Inter ataupun Juventus. Jika kehilangan Immobile atau Luis Alberto, Lazio seperti ayam sakit, jalan tertatih-tatih, dan mengantuk, tanpa arah.

Berjuang, bersaing dengan Inter dan Atalanta untuk memperebutkan posisi dua adalah iklim kompetitif mereka di akhir musim. Scudetto masih hanyalah mimpi. Soal Atalanta, ya begitulah. Mimpi mereka sekarang adalah menjuarai Liga Champions, setelah energy Ajax Amsterdam musim lalu seperti pindah ke mereka musim ini. Di Seri A, sudah hebat mereka bisa tampil tajam, produktif dengan matari pemain yang kalah dair klub-klub raksasa Seri A. Napoli, AC Milan dan AS Roma dibiarkan berjarak dengan mereka. Sebuah prestasi dari anak-anak asuhan Gasperini yang tetap pantas diajukan jempol.

Kembali ke Juventus. Merayakan juara dalam sepinya stadion J Stadium ada gunanya. Yaitu, memiliki kesempatan untuk merenungkan serta mempersiapkan laga ke depan dan musim depan dengan lebih baik. Laga ke depan yang dimaksud adalah laga melawan Lyon di perdepalan final Liga Champions, dimana Juve masih ketinggalan aggregat 0-1. Euforia scudetto harus berhasil dikonversi menjadi tenaga super untuk membalikkan keadaan, jika mimpi untuk menjadi juara Eropa lagi ingin diraih.

Bukankah ini yang diharapkan Agnelli sesudah merekrut sang megabintang, Christiano Ronaldo dengan banderol mahal dan mencari pelatih berstrategi menyerang seperti Sarri untuk mendukung Ronaldo. Jalan nampak masih terjal, karena klub-klub pesaing yang hebat seperti Barcelona, Mancheter City atau PSG juga masih ada di kompetisi ini, itupun jika lolos dari Lyon. Memang tak mustahil tetapi tetap berat. Untuk musim depan, Juventus juga harus segera bergerak aktif dalam bursa transfer.

Kedatangan Arthur untuk menggantikan Miralem Pjanic yang bertukar tempat ke Barcelona bukanlah jaminan. Salah satu isu yang perlu diperhitungkan adalah apakah Ronaldo akan terus prima di usia 35 tahun lagi. Lini tengah dan lini depan harus diperbaiki, demi menopang gaya bermain Sarri yang memang mengharuskan para pemain memiliki stamina yang prima sepanjang 90 menit. Ah, lini belakang juga harus melakukan transisi dengan mulus dari Chiellini, Bonnuci ke Mathis De light dan Merih Demiral. Dua bek muda yang diharapkan menjadi bek masa depan.

Usia uzur Chiellini dan Bonnuci membuat mereka mungkin hanya bisa bertahan maksimal semusim lagi, setelah itu Juventus harus memastikan tembok mereka tetap kokoh. Kunci utama mereka dalam kejayaan mereka selama bertahun-tahun. Jika gagal dalam menyiapkan komposisi pemain yang lebih baik musim depan, maka Inter Milan, Lazio ataua bahkan Atalanta rasanya akan menyodok, menggagalkan mimpi scudetto mereka ke-10 kali secara berturut musim depan.

Bukti Orang Terkaya di Indonesia Serius Bawa Balotelli ke Como

Bukti Orang Terkaya di Indonesia Serius Bawa Balotelli ke Como – Michael Essien, pesepakbola asal Ghana namanya sohor ketika dia memperkuat Chelsea pada 2005-2014. Main di tim berjuluk The Blues itu, pemain kelahiran Accra, Ghana, 3 Desember 1982 (37 tahun) itu, mencetak setidaknya 17 gol dari 168 penampilan. Tim London itu merupakan tim terlama yang dilakoni sepanjang karier profesionalnya. Essien juga tercatat pernah membela Bastia, Lyon, Milan, Panathinaikos, dan Persib Bandung.

Bukti Orang Terkaya di Indonesia Serius Bawa Balotelli ke Como

Bukti Orang Terkaya di Indonesia Serius Bawa Balotelli ke Como

Tidak lama setelah Essien berseragam Persib Bandung, dikabarkan istrinya, Akosuka Puni, membeli Como 1907 senilai 237 ribu euro atau sekitar Rp 3,3 miliar. Pada saat itu Como 1907 bermain di kasta keempat atau Serie D Italia, pada musim 2017/18. Pada saat diakusisi Puni, Como 1907 sedang dilanda krisis finansial. Puni tidak bisa mengelola tim yang bermarkas di kota Como, Lombardia itu, yang menyebabkan klub terlilit utang dan tidak mampu membayar gaji para pemainnya. Karena hal tersebut Como tidak bisa promosi ke Serie C.

Como sekarang berada di tangan asing. Orang terkaya Indonesia menjadi pemilik saham mayoritas,” Begitu tajuk berita di media lokal Como, Corriere di Como, 5 April 2019. Ya, pada April tahun lalu, SENT Entertainment Ltd mengakuisisi tim kota Como yang dijuluki Lariani itu. SENT adalah perusahaan yang berkantor pusat di London. Pemiliknya adalah dua orang bersaudara asal Indonesia, Michael dan Robert Budi Hartono. Tak berselang lama setelah Como dimiliki bos Djarum itu, Fariani naik kasta ke Serie C. Como bertengger di puncak klasemen Grup B Serie D 2018/19.

Akan tetapi setelah musim 2019/20 berakhir, Fariani cuma bisa duduk di peringkat ke 13 klasemen akhir, sehingga gagal promosi ke Serie B musim depan. Sesuai dengan namanya, Como 1907, atau lengkapnya Calcio Como, klub ini didirikan pada tahun 1907. Klub ini sempat menikmati bermain di Serie A pada musim 1949, sesudahnya belum ada lagi prestasi menonjol yang dapat diraih, baik di Italia maupun di Eropa. Mereka main lagi di Serie A pada musim 2003. Hanya satu musim, mereka turun kasta ke Serie B. Merana lagi, hanya semusim di Serie B, mereka degradasi ke Serie C.

Krisis finansial yang menggerogoti klub berakibat mereka malah terdegradasi ke Serie D. Sempat hangat diberitakan, pada tahun 2003, manajemen Como meminta aktor Hollywood George Clooney untuk berinvestasi di Como Calcio. Setelah bebenah dan ternyata berhasil mengangkat klub ke Serie C, Robert dan Budi Hartono memiliki ambisi untuk mengembalikan klub ke Serie A. Guna mewujudkan hasrat tersebut, Como merencanakan akan merekrut pesepakbola imigran asal Ghana, Mario Balotelli. Yang bersangkutan, Mario Balotelli adalah pemain Timnas Italia dan mantan pemain klub-klub raksasa seperti Liverpool, AC Milan, Inter Milan, dan Manchester City.

Klub terakhir pria berusia 29 tahun itu adalah Brescia, yang musim ini terdegradasi dari Serie A. Balotelli dikenal dan dikagumi karena memiliki kecepatan dan kemampuan teknis yang jarang dimiliki pesepakbola lainnya namun sikapnya tidak disiplin. Balotelli juga dikenal sebagai “si bengal. Satu contoh ketidakdisiplinan Balo terlihat ketika dia tidak mengikuti latihan mandiri saat lockdown bersama rekan-rekannya di Brescia. Dan ketika rekan-rekannya sudah berkumpul untuk latihan, dikabarkan Balo justru datang terlambat ke tempat latihan itu, dan Balo juga kelebihan berat badan.

Balo memutuskan tidak ingin bermain lagi di tim kota Brescia itu. Pakar bursa transfer Italia, Gianluca Di Marzio, mengatakan pendekatan Como kepada Balotelli sebagai langkah besar yang diambil Como. “Como boleh bermimpi memiliki Balotelli” katanya kepada Football Italia. Keputusan yang diambil Balo memang masuk ke telinga Michael Grandler, CEO Como. Grandler sudah melakukan pendekatan dengan pihak Balotelli yang diwakili oleh agennya agar Balo mau main di Como. Kami telah mengadakan pembicaraan dengan agen itu” kata Grandler yang mantan direktur Inter Milan itu.

Mereka duduk satu meja, mengindikasikan kalau mereka tertarik, pembicaraan berbobot” tutur Di Marzio yang dikutip La Provincia di Como. Di Marzio mengetahui kalau Balotelli mendapatkan tawaran untuk bermain di Brasil. Apakah yang bersangkutan mau menerima. Menurut Di Marzio lagi, saat ini belum ada tawaran dari tim-tim Serie A atau Serie B untuk Balotelli. Anggaplah Balo tidak ingin bermain di luar Italia lagi, karena dia ingin dekat dengan putrinya,” lanjut Di Marzio lagi.

 

Daftar Kampiun Liga Liga Elit Eropa

Daftar Kampiun Liga Liga Elit Eropa – Beberapa liga besar Eropa telah menyelesaikan musimnya diakhir bulan Juli ini. Dari lima liga besar di eropa terdapat empat liga besar yang tetap melanjutkan kompetisi di musim 2019/2020 ditengah pandemi corona yang belum usai ini yakni Liga Inggris, Liga Spanyol, Liga Italia dan Liga Jerman. Liga Jerman telah menemukan kampiun juaranya yakni Bayern Munchen. Dominasi Bayern Munchen di Bundes Liga terhadap klub-klub lainnya sangatlah luarbiasa.

Daftar Kampiun Liga Liga Elit Eropa

Daftar Kampiun Liga Liga Elit Eropa

Musim ini, Bayern Munchen telah menyegel trofi ke-30 mereka sebagai kampiun Liga Jerman. Belum ada klub lain yang bisa mengakhiri atau sekedar memutus dominasi Bayern Munich sejauh ini. Liga Jerman sendiri, telah mengakhiri musimnya ditahun ini yakni di bulan Juni yang lalu dengan hasil klasmen akhir empat besar yakni Munchen, Dortmund, Leipzig, dan Monchengladbach. Sementara itu, Liga Spanyol atau La Liga telah menyelesaikan kompetisi musim ini dengan 38 pertandingan. Real Madrid keluar sebagai juara dengan membukukan 87 point, disusul Barcelana diposisi runner up dengan koleksi 82 point.

Barcelona yang sempat memimpin klasmen hingga pertengahan musim, harus tergeser tahtanya hingga akhir klasmen karena inkonsistensi performa yang sempat mereka tunjukkan dibeberapa pertandingan terakhir dengan menelan kekalahan yang tak terduga. Kini, asa juara bagi Barcelona hanya tersisa di Liga Champion, setelah di Coppa Del Rey mereka juga kalah pada babak perempat final oleh Athletic Bilbao. Klasmen akhir empat besar di La Liga sendiri dihuni oleh Real Madrid, Bracelona, Athletico Madrid, dan Sevilla.

Liga Inggris sendiri di musim ini sepenuhnya menjadi milik Liverpool. Dominasi Liverpool di musim ini atas tim papan atas lainnya di Liga Inggris sangatlah perkasa. Bagaimana tidak, dipekan 37 liga Inggris, Liverpool sudah berhasil membukukan 96 poin dan unggul jauh dari para klub lainnya. Pesaing terdekatnya, Manchester City tertinggal jauh dari pengumpulan angka dan hanya mengkoleksi 78 poin dari total 37 laga. Sementara itu, persaingan sengit terjadi pada perebutan posisi empat besar yang mana beberapa klub papan atas seperti Chelsea, Leicester City, dan Manchester United tengah memperebutkan 2 tiket yang tersisa untuk slot Liga Champions di musim depan.

Manchester United dan Chelsea yang masing-masing berada di posisi ketiga dan keempat pada klasmen pekan ke-37, dengan sama-sama mengkoleksi 63 poin, secara ketat dibayangi oleh Leicester City di posisi kelima dengan total 62 poin. Di Liga Italia sendiri, dominasi penuh terus ditunjukkan oleh Juventus. Di musim ini, Juventus masih sulit tergoyahkan dari tangga juara di papan klasmen. Liga Italia yang hanya menyisakan tiga pertandingan lagi, berkemungkinan besar akan dilewati dengan lancar oleh Juventus. Musim ini, langkah Juventus untuk mengangkat trofi juara Liga Italia sudah semakin dekat.

Akan sangat menarik sekali tentunya untuk melihat bagaimana ending dari persaingan sengit yang terjadi antar klub papan atas diberbagai liga Eropa ini dalam memperebutkankan posisi strategis ditangga klasmen yang tengah dituju. Apalagi musim 2019/2020 akan segera berakhir dan para klub papan atas di Eropa harus segera siap untuk menatap musim 2020/2021 yang jedanya tidak lama dari musim ini.

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli – Performa apik nan meyakinkan di 9 laga terakhir akhirnya membuahkan hasil positif bagi karier pelatih kepala AC Milan saat ini, Stefano Pioli. Pagi tadi atau Selasa (21/7) malam waktu Italia, negosiasi antara Milan dan Ralf Rangnick dikabarkan batal. Pernyataan ini keluar dari mulut penasihat Ralf Rangnick sendiri, Marc Kosicke. Harian bola asal Jerman, Kicker jadi pihak pertama yang merilis pernyataan mengejutkan tersebut.

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Usai Kandaskan Sassuolo AC Milan Perpanjang Kontrak Stefano Pioli

Selang beberapa waktu kemudian, berita tersebut diamini harian Jerman lainnya, Bild. Tak cukup sampai disitu, media-media Italia seperti Football Italia dan Sky Sports akhirnya mengeluarkan statement yang sama bahwa kedua kubu sepakat untuk membatalkan kontak kerja sama. Pernyataan ini tentu mengejutkan. Pasalnya, sejak November lalu Ralf Rangnick sudah diisukan tengah menjalin kontak dengan AC Milan untuk jadi pelatih dan direktur olahraga di klub asal Kota Milan tersebut.

Seolah tak peduli dengan kinerja pelatih Milan saat ini, kabar Rangnick yang akan membawa gerbong besar ke Milan terus berhembus. Mantan pelatih RB Leipzig itu bahkan sempat dirumorkan tengah menjalin kemungkinan datang ke Milan hanya sebagai Direktur olahraga saja dan Pioli tetap melatih musim depan. Bahkan, beberapa saat lalu AC Milan dan Rangnick dilaporkan sudah deal. Inilah yang menyebabkan kabar batalnya Rangnick ke Milan sebagai kejutan drama AC Milan musim ini.

Seperti yang sudah diprediksi dan telah dinyatakan juga oleh penasihat Rangnick, bahwa penyebab utama batalnya kontak kerja sama tersebut adalah buah dari tangan dingin Pioli. AC Milan pun mengeluarkan pernyataan resminya seusai laga melawan Sassuolo dini hari tadi. AC Milan mengumumkan penyelesaian perjanjian dengan Stefano Pioli untuk perpanjangan kontrak dua tahun dari kontraknya sebagai Pelatih Kepala yang sekarang akan berakhir pada Juni 2022.” — bunyi pernyataan resmi di laman acmilan.com

Ya, Milan akhirnya memutuskan untuk mempertahankan Pioli dan memberinya perpanjangan kontrak. Jika melihat dari hasil kinerjanya hingga dini hari tadi, maka keputusan ini rasanya tepat. Pioli tak hanya mengubah Milan di atas lapangan, namun ia juga berhasil membangun klub dan pemain secara kolektif sesuai visi dan nilai klub. Pernyataan tersebut dirilis tepat setelah Milan mengandaskan tuan rumah Sassuolo. Bermain di Mapei Stadium, Pioli membawa I Rossoneri mengandaskan tuan rumah dan memastikan Milan lolos ke Liga Europa.