Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018 – Hari ini, dua tahun lalu, Prancis berhasil menjadi juara Piala Dunia 2018. Di final yang dilaksanakan 15 Juli 2018 itu. Prancis juara setelah mengalahkan Kroasia 4-2. Ini adalah gelar kedua Prancis di ajang Piala Dunia. Sebelumnya, mereka menjadi juara pada Piala Dunia 1998. Ada keunikan tersendiri yang membuat saya kala itu merasa yakin Prancis juara Piala Dunia 2018. Mungkin ini hanya kebetulan yang memang berulang dalam rentang 20 tahun.

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Kebetulan yang Sama Antara Prancis 1998 dan 2018

Ada beberapa kesamaan antara Prancis 1998 dengan Prancis 2018, berikut catatannya. Pada Piala Dunia 1998 dan 2018, Prancis ada di grup C. Pada 1998, Prancis satu grup dengan Arab Saudi, Denmark, dan Afrika Selatan. Pada 2018, Prancis bersama Denmark, Peru, dan Australia. Bedanya pada 1998 Prancis berstatus sebagai tuan rumah. Uniknya, di dua piala dunia itu, Prancis lolos ke babak gugur bareng dengan Denmark. Di Piala Dunia 1998, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 9 poin dan Denmark ada di posisi dua dengan 4 poin.

Di Piala Dunia 2018, Prancis ada di posisi 1 grup C dengan 7 poin dan Denmark di posisi dua dengan 5 poin. Prancis 1998 dan 2018 sama-sama memiliki pemain nomor 9 yang tumpul. Pemain nomor 9 identik sebagai penyelesai akhir. Di Piala Dunia 1998, jersey nomor 9 Prancis dipakai oleh Stephane Guivarc’h. Di Piala Dunia 2018, jersey nomor 9 diisi Olivier Giroud. Kedua pemain itu tak mampu mencetak satu gol pun di piala dunia.

Saat 2018, ketika sampai semifinal Giroud tak mencetak gol, saya meyakini bahwa di final dia juga tak.
Pada 1998 dan 2018, Prancis sama-sama memiliki striker muda yang moncer. Di 1998 ada Thierry Henry dan 2018 ada Kylian Mbappe. Saat Piala Dunia 1998, Henry masih berusia 20 tahun. Pemain yang belakangan menjadi legenda bagi Arsenal itu mencetak tiga gol di Piala Dunia 1998.

Kylian Mbappe bermain di Piala Dunia 2018 di usia 19 tahun. Di ajang akbar itu, Mbappe membuat empat gol. Kedua pemain ini memiliki kesamaan yakni soal kecepatan dan beroperasi sebagai penyerang sayap. Hanya saja bedanya adalah Mbappe menyabet gelar pemain muda terbaik di Piala Dunia 2018 dan Henry tak mendapatkannya. Pemain muda terbaik di Piala Dunia 1998 disabet oleh Michael Owen dari Inggris yang kala Piala Dunia 1998 masih berusia 19 tahun.

Saat Prancis bisa mengalahkan Belgia dengan skor 1-0 di semifinal, saya yakin bahwa Prancis akan juara. Sebab, kemenangan Prancis atas Belgia itu ditentukan oleh gol tunggal pemain belakang mereka Samuel Umtiti. Sementara seperti diketahui Umtiti adalah pemain belakang. Keyakinan saya soal siklus 20 tahunan itu. Di 1998, pahlawan Prancis di semifinal juga seorang pemain belakang, yakni Lilian Thuram. Saat itu, Thuram membuat dua gol ke gawang Kroasia sehingga Prancis menang 2-1 dan lolos ke final.

Jika mengacu pada cerita 20 tahunan, maka bisa jadi Prancis akan juara pada Euro 2020. Tapi, kan ternyata Euro 2020 ditunda karena pandemi. Nah kita tunggu saja apakah Prancis akan juara pada Euro 2021. Diketahui, setelah juara Piala Dunia 1998, Prancis mampu juara di Euro 2000. Tulisan ini hanya hiburan saja. Tak ada niat apapun. Apalagi mengarahkan pikir bahwa hidup itu dipastikan dengan siklus. Karena tulisan ini hanya hiburan, maka jika tujuannya tercapai jika yang membaca terhibur. Tapi jika yang membaca tak terhibur, ya diikhlaskan saja dengan merasa terhibur.

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta – Manchester United (MU) gagal melanjutkan tren kemenangannya di Liga Inggris. Selasa (14/7) dini hari tadi, MU serasa “dirampok” di rumahnya sendiri oleh tamunya, Southampton. Frasa dirampok itu rasanya tidak berlebihan untuk menggambarkan pertandingan ini. Betapa tidak, kemenangan MU yang sudah di depan mata, lenyap di menit akhir.

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

MU yang di empat laga sebelumnya menang beruntun, mendapat perlawanan ketat dari Southampton yang tampil tanpa beban karena sudah aman dari degradasi dan tidak berpeluang lolos ke kompetisi Eropa. Southampton unggul lebih dulu lewat gol Stuart Amstrong di menit ke-12. MU lantas ‘terbangun’. Hanya dalam tiga menit, MU bisa membalik skor lewat gl Marcus Rashford di menit ke-20 dan Anthony Martial di menit ke-23.

Namun, petaka dialami MU di menit ke-96. Berawal dari sepak pojok, Michael Obafemi yang baru masuk ke lapangan tiga menit sebelum laga usai, berhasil meneruskan bola ke gawang MU. Laga pun berakhir 2-2. MU pun kehilangan dua poin. Hanya bisa menambah satu poin dari kemungkinan mendapat tiga poin (bila menang). Dan itu bisa jadi masalah bagi upaya mereka untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Mungkinkah pemain-pemain MU mulai merasakan ketegangan dari imbas dicabutnya sanksi Manchester City perihal larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim ke depan. Petang kemarin, media-media di Inggris kompak memberitakan kabar itu. Bahwa, sanksi UEFA untuk Manchester City dicabut setelah banding mereka dikabulkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

City ban lifted.

Begitu pengumuman yang diposting akun Instagram Sky Sports, petang kemarin. Dengan begitu, maka Manchester City dipastikan akan tampil di Liga Champions musim depan. Nah, dicabutnya sanksi untuk City itu membuat Liga Inggris semakin memanas. Perebutan empat tiket ke Liga Champions kini semakin sengit ketika Premier League tinggal menyisakan tiga pertandingan.

Gambaran panasnya begini. Sebelumnya, ketika City diasumsikan diskorsing, tim peringkat 5 bisa lolos ke Liga Champions musim depan karena menggantikan posisi City. Kini, dengan Liverpool dan City sudah pasti lolos ke Liga Champions musim depan, maka ’empat tiket’ itu kini tersisa dua. Dan itu hanya untuk tim peringkat 3-4. Sementara, sedikitnya masih ada lima (5) tim yang secara hitung-hitungan di atas kertas, masih berpeluang untuk lolos

Dari Chelsea (60 poin/peringkat 3), Leicester City (59 poin/4), Manchester United (59/4), Wolverhampton (55/6), dan Sheffield United (54/7). Mereka bakal saling “baku hantam” di tiga pertandingan terakhir. Semesta mendukung MU Merujuk gambaran tersebut, MU pasti sangat menyesali hasil imbang atas Southampton. Sebab, andai menang, Bruno Fernandes dkk pasti sudah ada di peringkat 3 dengan 61 poin.

Toh, hasil melawan The Saints–julukan Southampton itu tidak perlu terlalu diratapi. MU masih bisa move on. Terlebih, fenomena yang terlihat, semesta seolah mendukung Tim Setan Merah untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Ya, semesta seperti merestui harapan besar MU untuk kembali tampil di Liga Champions, kompetisi yang telah mereka menangi tiga kali, setelah hanya jadi penonton di musim 2019/20 ini.

Merujuk pada ujaran novelis asal Brasil, Paulo Coelho di buku The Alchemist yang terkenal itu. When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benarkah semesta memang telah ‘berkonspirasi’ membantu Manchester United untuk kembali tampil di Liga Champions musim 2020/21 depan. Bahwa, bantuan semesta itu bisa berbentuk “pertolongan” dari tim-tim lain. Bantuan semesta itu juga bisa berbentuk penampilan buruk dari tim-tim pesaing pemburu tiket ke Liga Champions.

Kekalahan bersamaan yang dialami Chelsea dan Leicester City–dua pesaing utama MU–pada akhir pekan kemarin, menjadi tanda-tanda kesekian kalinya bahwa semesta membantu Tim Setan Merah untuk mengakhiri kompetisi sebagai juara. Ya, siapa sangka, Chelsea, yang sebelumnya meraih kemenangan beruntun, malah babak belur di markas Sheffield United

Sehari kemudian, MU kembali mendapat kabar bagus ketika Leicester City justru hancur lebur di markas Bournemouth. Ya, Leicester yang sempat unggul lebih dulu, justru kalah 4-1 dari tim ‘pejuang degradasi’ itu. Padahal, sebelum laga, Leicester diprediksi akan menang di markas Bournemouth. Begitu juga Chelsea yang diyakini bisa setidaknya mendapatkan poin di markas Sheffield. Yang terjadi, semesta rupanya tidak menghendaki prediksi itu.

Memang, kemenangan West Ham dan Bournemouth itu sangat penting bagi diri mereka sendiri demi menjaga asa tetap bertahan di Premier League alias tidak terdegradasi. Tapi, kemenangan mereka juga menjadi pertolongan bagi MU dalam upaya lolos ke Liga Champions. Keputusan wasit yang debatable
Sebelum Chelsea dan Leicester kalah, MU lebih dulu meraih kemenangan di markas Aston Villa. MU menang 3-0 (9/7). Nah, kemenangan MU itu disorot oleh beberapa media. Termasuk Sky Sports.

Sorotan tertuju pada gol pertama MU yang dicetak Bruno Fernandes melalui titik penalti. Media menayangkan tayangan ulang ketika Bruno melakukan gerakan berputar untuk melindungi bola yang dikuasainya, tepat setelah memasuki batas di area dalam penalti Villa. Nah, yang menjadi sorotan, sebelum jatuh karena kontak dengan pemain Villa, kaki Bruno Fernandes justru menginjak kaki pemain Villa yang mengawalnya. Namun, wasit yang menengok Video Assistant Referee (VAR), tetap memutuskan penalti.

Beberapa media juga memunculkan data tentang tim-tim Liga Inggris yang mendapat penalti dan dihukum penalti. Dari data tersebut, MU menjadi tim yang paling banyak mendapatkan penalti (13 kali) di musim ini dan hanya sekali dihukum penalti. Sementara Chelsea dan Leicester sama-sama 7 kali pernah mendapat penalti. Toh, bagaimanapun, itulah dinamika yang terjadi. Dan, keputusan wasit yang debatable seperti di markas Aston Villa itu, juga bisa menjadi bagian dari ‘dukungan semesta’ untuk Manchester United.

Namun, sebanyak apapun bantuan semesta untuk Manchester United yang berwujud ‘pertolongan’ tim-tim lain, penampilan memble para pesaing, maupun keputusan wasit yang sumir, penentu akhir adalah MU sendiri. Ya, lolos tidaknya MU ke Liga Champions musim depan, akan bergantung dari hasil yang mereka raih di tiga laga terakhir. Bukan bergantung pada hasil dari tim-tim lain.

Memang, dengan hasil 2-2 melawan Southampton dini hari tadi, MU kini masih ada di peringkat 5. Tapi, kabar bagusnya bagi fans MU, jadwal ‘menguntungkan’ tim asuhan Ole Solskjaer ini. Ya, jadwal juga menjadi wujud lain bantuan semesta untuk MU. Sebab, MU masih akan bertemu langsung dengan salah satu pesaing, yakni Leicester City. Andai tidak ada lagi jadwal bertemu langsung, bila MU menang beruntun sementara pesaing mereka juga menang beruntun, bisa jadi ‘perjuangan’ MU akan sisa’-sia.

Di tiga laga terakhir, pesaing utama MU dalam perburuan tiket Liga Champions bukan lagi Chelsea. Sebab, MU tidak akan bertemu Chelsea. Apalagi, dengan Chelsea menjamu Norwich dan Wolverhampton, dan away ke Liverpool, The Blues berpeluang meraih 6 atau 7 poin tambahan. Pesaing langsung MU kini adalah Leicester City. Sebab, MU akan menjamu Leicester di Old Trafford pada pertandingan terakhir. Dan itu sangat mungkin akan menjadi penentuan ‘tiket terakhir’ menjadi milik siapa.

Bila begitu, dengan tambahan 6 poin, maka MU dan Leicester akan memiliki poin sama, 65 poin. Tinggal menunggu bagaimana pertemuan mereka di laga terakhir. Bagaimana jika ternyata Leicester City ‘tersandung’ sebelum bertemu MU di laga terakhir.

Semisal Leicester ditahan Sheffield United yang tengah on fire, atau juga kalah atau bermain imbang saat away ke markas Tottenham. Bila begitu, semesta memang sedang sangat baik membantu MU untuk lolos ke Liga Champions. Salam.

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris – Penggemar Manchester United pada paruh pertama Liga Inggris musim ini kerap dirundung. Maklum, performa The Red Devils sempat terjun bebas. Kontras dengan capaian Liverpool, rival abadi yang bahkan sudah ditahbiskan jadi jawara jauh sebelum liga berakhir. Uniknya, penampilan MU berubah drastis setelah bergulirnya kembali Liga Inggris yang sempat dihentikan akibat pandemi. tim asuhan Bang Ole Gunnar Solksjaer, melibas semua lawan di Liga Inggris dengan skor mencolok.

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Inilah Tiga Senjata Rahasia MU Mengejar Tiga Besar Liga Inggris

Sheffield United dicukur 3-0, Brighton and Hove Albion dihantam 0-3, Bournemouth takluk dengan skor 5-2, dan Aston Villa tunduk 0-3. Torehan ini bahkan menjadi rekor baru di Liga Inggris. MU menjadi klub pertama di Liga Inggris (Premier League) yang menang empat laga berturut-turut dengan margin kemenangan tiga gol atau lebih.

Liverpool sang jawara liga mau tak mau harus mengakui rekor MU ini. Seperti biasa, sebagian fans para klub rival MU akan tetap meragukan capaian MU ini dengan mengatakan, lawan-lawan MU belakangan ini cuma tim ayam sayur. Eits…tunggu dulu. Liga Inggris terkenal dengan kekuatan tim cenderung merata. Tidak ada jaminan klub papan bawah pasti kalah.

Buktinya, pada pekan ini, AFC Bournemouth menggulung Leicester City 4-1. Padahal, Bournemouth mengawali laga sebagai tim tiga terbawah. Kemenangan tim yang berjuang lolos dari zona degradasi ini atas Leicester, rival MU dalam merebut posisi tiga besar, jelas sangat menguntungkan tim asuhan Bang Ole.

Yuk kita tengok klasemen Liga Inggris per 12 Juli:

Saat ini MU baru memainkan 34 laga. Pada 13 Juli waktu Inggris Raya atau 14 Juli waktu Indonesia, MU akan menjamu Southampton, peringkat 12. Jika menang, tim Manchester merah ini akan mendapat tambahan tiga poin krusial sehingga poin jadi 61. Dengan prediksi ini, MU akan menyalip Leicester (59 poin) dan Chelsea (60 poin). Singkatnya, MU akan menduduki posisi ketiga jika benar mereka mampu menundukkan Southampton.

Pertanyaannya, apa senjata MU untuk mengejar posisi tiga besar Liga Inggris yang masuk fase akhir saat ini? Ada tiga senjata rahasia MU untuk meraih posisi terhormat yang jadi impian tim-tim dengan ambisi besar. Pertama, trio MMM sebagai trisula penyerang andalan

Siapa trio MMM yang jadi trisula pengoyak jala lawan? Marcus Rashford, Martial, dan Mason Greenwood. Dua nama pertama sudah banyak dikenal penikmat sepak bola dunia. Nama terakhir, Mason Greenwood, adalah anak baru yang jadi sensasi teranyar The Ole Babes.

Seperti Marcus Rashford, Mason adalah anak binaan akademi United. Sejak umur enam tahun, Mason sudah jadi bagian MU. Penampilannya di tim senior moncer akhir-akhir ini. Ia mencetak telah mencetak 9 gol di Liga Inggris. Dia telah memberikan satu asis dan menyelesaikan 399 operan atau rerata 13,76 operan per pertandingan.

Kedua, duet Pogba dan Bruno yang makin menyatu. Paul Pogba, pemain kelas dunia asal Perancis, sempat dibekap cedera. Setelah sembuh, Pogba perlahan kembali menunjukkan kualitasnya. Pogba diturunkan sebagai pemain pengganti oleh Bang Ole ketika MU tertinggal satu gol kala lawan Tottenham. Itulah kali pertama Pogba bermain bersama Bruno Fernandez dalam pertandingan sesungguhnya.

Gocekan Pogba yang merangsek ke kotak penalti lawan terpaksa dihentikan oleh pemain Spurs dengan pelanggaran keras. Siapa yang ambil penalti? Bukan Pogba yang juga pernah jadi tukang ambil penalti, melainkan Bruno Fernandes. Sang pemain yang baru didatangkan MU dari Sporting Portugal ini sukses mengeksekusi tendangan 12 pas sehingga MU terhindar dari kekalahan memalukan.

Terbaru, melawan Aston Villa, Bruno memberi asis cantik manja pada Pogba yang mampu mengonversinya jadi gol. Singkat kata, duet maut Pogda dan Bruno makin menyatu. Ketiga, kejelian Ole sebagai juru racik taktik. Sang manajer yang dijuluki “Pembunuh Berwajah Bayi” kala bermain sebagai penyerang pada era Opa Alex Ferguson kini menjelma menjadi juru racik taktik yang unggul. Sebelas pertandingan terakhir, MU tak pernah kalah.

Ole secara jeli berhasil meramu susunan pemain yang tepat dengan kombinasi senior-junior yang berimbang dalam formasi 4-2-3-1. Ada pemain muda Rashford, Daniel James, Scott McTominay, dan Aaron Wan-Bissaka. Saat MU menang 5-2 lawan Bournemouth, ada Mason Greenwood (18 tahun) yang sukses menjebol gawang lawan dua kali! Lihat juga ketajaman Martial, Bruno, dan Rashford yang cetak masing-masing satu gol dalam kemenangan 5-2 itu.

Lagi-lagi, Mason dan Bruno unjuk gigi dengan torehan masing-masing satu gol. Tambah lagi sebiji gol Pogba. Jalan terjal MU meraih tiga besar. Setelah laga lawan Southampton, MU di Liga Inggris punya agenda berikut: tandang vs Crystal Palace; kandang vs West Ham; tandang vs Leicester. Rival MU dalam usaha raih zona Liga Champions punya agenda berikut:

Chelsea-Norwich; Liverpool-Chelsea; Chelsea-Wolverhampton
Leicester-Sheffield; Tottenham-Leicester; Leicester-MU.
Seandainya MU menang lawan Southampton pun, MU masih harus lalui jalan terjal untuk mempertahankan posisi tiga besar dan juga empat besar (4 besar otomatis lolos Liga Champions musim depan). Soalnya selisih poin cuma tipis.

Kalau mau aman, MU harus menang terus, termasuk lawan si Soton dini hari nanti. Mampukah MU meraih posisi terhormat sebagai salah satu wakil Inggris di gelaran Liga Champions musim depan? Informasi terbaru, kita perlu mengikuti hasil banding Manchester City terhadap larangan ikuti kompetisi di Eropa. Keputusan itu diumumkan pada hari Senin. Jika banding City dikabulkan, posisi kelima Liga Inggris akan ikut Liga Champions musim depan.

Semoga tiga senjata rahasia MU bekerja dengan baik. Jika tidak, fans MU akan kembali jadi sasaran perundungan. Terutama dari fans Liverpool dan Manchester City, dua rival kuat yang sudah aman di dua besar. Sebagai penggemar MU, saya tidak mau dibully lagi! Mestakung. Semesta jangan menikung MU! Wahai fans rival-rival MU, setuju ga kalau MU menang terus?

Ups…ngarep banget ya? Ya udah, kalau ga setuju, musim depan Liverpool juara Liga Inggris, FA, dan Champions. Tapi bohong.

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham – Ketika pertama kali datang ke Chelsea, Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai “the Special One.” Entah apa yang melatarinya menyebut dirinya the Spesial One. Boleh saja, ini bentuk pengakuan diri atas prestasi yang telah dicapai atau juga afirmasi kepada klub yang mengontraknya. Dalam mana, klub tidak memilih orang yang salah. Titel the Special One ini pun menjadi akrab bersanding dengan pelatih asal Portugal ini.

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Bandingkan dengan Jurgen Klopp Mourinho Optimis Raih Gelar di Tottenham

Memang tidak berlebihan untuk menyebut dirinya sebagai the Spesial One. Dalam sejarah kepelatihannya di pelbagai klub lintar liga-liga Eropa, dia berhasil meraih gelar yang berbeda-beda. Terakhir kalinya, dia meraih beberapa gelar di Manchester United.

Setelah vakum karena dipecat dari MU, Mou menghabiskan waktunya sebagai salah satu pengamat sepak bola di TV. Namun sejak tahu lalu, Mourinho kembali hadir di bangku pelatih. Dia mencoba peruntungan dan tajinya sebagai the Spesial One di klub Tottenham Hotspur. Tentunya, tugasnya kali ini rumit.

Dia datang ke klub yang sangat berbeda dengan klub-klub sebelumnya. Pada klub-klub sebelumnya, Mou mempunyai skuad mumpuni yang dibarengi dengan sejarah sebagai klub hebat. Kali ini, Mou datang ke Tottenham yang berupaya untuk menunjukkan dirinya sebagai klub hebat di Liga Inggris.

Mou datang ke Tottenham untuk membenahi keruwetan yang ditinggalkan Mauricio Pocchetino. Beberapa musim terakhir, Pocchetino berhasil mengubah Tottenham sebagai salah satu tim yang biasa menduduki top four di Liga Inggris.

Namun, pencapaian itu menumpul musim lalu. Karena ini, pihak manajemen memilih memecat pelatih asal Argentina ini dan memilih Jose Mourinho sebagai penggantinya. Mou sudah mempunyai nama di jagad sepak bola. Di balik popularitas ini, secara tidak langsung Mou memikul harapan klub. Tidak gampang bagi Mou untuk membetulkan Tottenham yang sementara timpang.

Sejauh ini, Mou berhasil membawa Tottenham di tempat ke-9 klasemen liga Inggris. Posisinya agak membaik sepeninggal Pocchetino. Sewaktu Mou masuk menjadi pelatih, Tottenham berada di posisi 14 klasemen sementara Liga Inggris.

Melihat penampilan musim ini sejauh ini, target untuk meraih tiket ke Liga Champions musim depan semakin jauh. Yang mungkin bagi Tottenham adalah berada di piala Eropa. Laga kontra Arsenal pada pekan ke-35 ini akan menjadi pertarungan dalam merebutkan tempat ke piala Eropa pada musim depan. Meski demikian, Mou tidak berpasrah pada situasi yang terjadi. Mou tetap menunjukkan optimismenya sebagai seorang pelatih.

Menurutnya, bersama dengan Tottenham dia akan meraih gelar. Bahkan Mou melihat jika Tottenham tidak perlu melakukan investasi besar guna menguatkan skuadnya di musim depan. Tidak sampai di situ, guna menguatkan optimismenya, Mou membandingkannya dengan Jurgen Klopp. Klopp sendiri berhasil mengantarkan Liverpool pada trofi Liga Inggris setelah 30 tahun penantian.

Mou melihat jika Klopp membutuhkan 4 musim untuk meraih trofi Liga Inggris. Agar bisa mendapatkan trofi itu, Klopp mendatangkan kiper dan bek terbaik. Sementara baginya, Mou akan berupaya di tiga musim kontraknya bersama Tottenham. Bagi Mou, penampilannya di musim ini tidak bisa menjadi standar dalam menilai kemampuannya. Terlebih lagi, dia tiba di Tottenham saat berada dalam situasi sulit.

Karena ini, Mou berjanji jika Tottenham bisa mengeluarkan penampilan terbaik tim di musim yang akan datang. Bahkan Mou meyakinkan fans Tottenham jika tim akan berpenampilan berbeda di musim yang akan datang.

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa – Jika membaca istilah Korea, sebagian besar orang berpikir tentang K-drama atau istilah bekennya di Indonesia adalah drakor. Maklum, sejak 2000-an masyarakat Indonesia sudah mulai menggandrungi tontonan drakor di tv nasional. Bagi yang suka kolosal, tentu serial “Jang-geum” atau “Jewel in the Palace” adalah yang favorit.

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Hwang Hee-chan Si Oppa Korea Selanjutnya di Eropa

Begitu pun bagi yang suka serial ala-ala sinetron, maka “Full House” adalah yang paling viral di kalangan ibu-ibu muda dan mbak-mbak di masa itu. Lalu, bagaimana dengan para penggemar sepak bola. Pengaruh kekoreaan bagi bapak-bapak, om-om, dan mas-mas kala itu termediasikan dengan adanya nama Park Ji-sung. Memang, ada pula nama Ahn Jung-hwan. Namun nama JS Park lebih membekas di ingatan, karena selain menjadi pemain Manchester United, dia adalah salah satu pemain inti di era kepelatihan Sir Alex Ferguson.

Tentu, ini menjadi suatu kebanggaan, khususnya bagi penggemar sepak bola Liga Inggris (Premier League) yang berasal dari Asia. Melihat pemain Asia dan menjadi bagian dari pemain utama jelas terasa spesial. Ditambah di masa itu, melihat pemain Asia di kompetisi tertinggi di Eropa masih langka, alih-alih sering dimainkan. Figur-figur pesepakbola Asia kala itu masih kalah telak dengan pesepakbola asal Afrika dan Amerika Selatan.

Bahkan, bisa saja kalah dengan Australia–masih menjadi wakil Oceania–yang seolah masih diuntungkan dengan hubungan diplomatis (kenegaraan) antara Inggris dan Australia. Itulah kenapa saat itu kita bisa mengenal pemain legendaris asal Australia seperti Mark Viduka, Harry Kewell, Tim Cahill hingga Mark Schwarzer. Bahkan, nama terakhir menjadi pemain yang sangat melekat dengan Premier League karena pernah membela banyak klub, salah satunya Chelsea.

Kembali Berbicara Tentang Pemain Korsel di Eropa

Kini ada beberapa pemain yang sudah mendapatkan perhatian dari penggemar bola, seperti Ki Sung-yueng (KISY), Hwang Ui-jo, dan Son Heung-min. Nama terakhir bahkan sangat populer dalam dua musim terakhir. Faktornya sudah sangat jelas, karena peran Son semakin vital untuk klubnya, Tottenham Hotspur. Klub asal London Utara itu dalam dua musim terakhir tak hanya bergantung dengan Harry Kane, namun juga Son.

Seolah memperbaiki generasi sebelumnya yang hanya berhasil menempatkan Ji-sung sebagai idola di Eropa, kini Korsel terlihat mampu memunculkan pemain-pemain berkualitas di Eropa. Setelah munculnya Son, kini ada nama baru yang siap meramaikan deretan oppa Korea di rumput hijau, yaitu Hwang Hee-chan. Memang, Hwang Hee-chan belum sepenuhnya menarik minat klub Premier League. Namun, secara bertahap dirinya mulai dapat memberikan pengaruh terhadap kompetisi di Eropa.

Khusus untuk musim 2019/20, pemain muda yang pernah membela Hamburg di Bundesliga 2 mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan untuk klubnya di Austria, RB Salzburg. Bahkan salah satunya dapat dilihat dari performanya saat melawan Liverpool di fase grup Liga Champions musim ini.

Karena penampilannya di laga itu, namanya juga langsung menjadi perhatian dan mengisi rubrik rumor bursa transfer. Hanya, Salzburg lebih mampu menahannya untuk bertahan dibandingkan rekannya, Takumi Minamino. Setelah sukses mengantarkan RB Salzburg sebagai jawara di Austria, Hee-chan diperkirakan sudah siap untuk membuat perjalanan baru dalam karirnya. Kiprahnya secara individu semakin memperbesar minat klub lain untuk merekrutnya, yaitu “saudara sepupunya”, RB Leipzig.

Kiprahnya Akan Mengikuti Jejak Son Yang Bisa Dikatakan Moncer Sebagai Oppa Korea

Klub asal Bundesliga itu akhirnya berhasil mendaratkan Hwang untuk kembali ke Jerman dengan memperkuat klub yang lebih baik. Bahkan, Leipzig sepertinya sangat yakin untuk menempatkan Hwang sebagai suksesor Timo Werner. Ini dapat disimbolkan dengan pemberian nomor 11 ke Hwang. Tentu bagi penonton Bundesliga, nomor itu sudah dikenali sebagai nomor Werner, si topscorer sepanjang masa Leipzig.

Mampu bermain sama baiknya ketika sebagai pembangun transisi menyerang sekaligus pencetak gol ulung. Hwang Hee-chan pun diharapkan akan seperti itu. Ditambah dengan penilaian bahwa pemain Asia itu sangat cepat dan pekerja keras, maka itu akan semakin menguntungkan jika dimiliki oleh pemain bertipikal menyerang.

Soal mengapa Hwang Hee-chan disebut–di artikel ini–sebagai Oppa Korea selanjutnya, tak lepas dari stereotip tentang oppa (kakak pria) yang identik sebagai panggilan untuk idola pria dari Korea. “Gelar” itu sebelumnya (seperti) sempat disandang oleh KISY (eks Swansea City) yang kini mulai siap dipanggil Ahjussi–untuk level usia dalam sepak bola.

Kini, Son Heung-min sudah menjadi Oppa Korea di sepak bola Eropa. Menariknya, Son juga memulai karirnya di Eropa dengan Hamburg SV. Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, jika generasi Korsel saat ini sedang sangat kompetitif di Eropa, maka Hwang Hee-chan juga harus dimasukkan sebagai (calon) Oppa Korea terbaru. Andaikata Son sudah menurun performanya, maka segera akan ada Hwang Hee-chan yang siap menggantikannya.

Presiden Barcelona daripada Kritik VAR Lebih Baik Evaluasi Ketimpangan Klub

Presiden Barcelona daripada Kritik VAR Lebih Baik Evaluasi Ketimpangan Klub – Isu Lionel Messi hengkang dari Barcelona menghangatkan dunia sepak bola. Beberapa media pun berspekulasi ke mana pemain asal Argentina itu akan pergi. Ada yang berspekulasi jika Messi akan mendarat ke Man City agar bisa bereuni dengan mantan pelatihnya di Barca, Pep Guardiola. Tidak sedikit juga yang berharap untuk pindah ke Juventus agar bisa menciptakan tandem dengan Cristiano Ronaldo. Andaikata isu itu menjadi kenyataan, rasanya bisa halo-halo.

Presiden Barcelona daripada Kritik VAR Lebih Baik Evaluasi Ketimpangan Klub

Bagi Barca sendiri, kepergian sang bintang bukan saja akhir dari sebuah era. Tetapi awal dari pembaharuan klub. Pembaharuan itu bisa saja diliputi masa-masa sulit. Apalagi tanpa persiapan khusus untuk menggantikan peran sang bintang. Tidak gampang menggantikan pemain yang berpengaruh pada penampilan tim. Messi sendiri sudah mempersembahkan banyak prestasi dan gelar selama lebih sedekade. Makanya, suporter Barca sangat menaruh respek kepada kapten tim Barca ini.

Isu kepergian dari pemain yang berjulukan “La Pulga” menyeruak saat mandeknya pembicaraan kontrak antara klub dan sang pemain. Mandeknya pembicaraan kontrak ini dikabarkan karena ketidaksenangan Messi pada manajemen klub sendiri. Manajemen klub itu tentang soal transfer dan dalam penanganan klub ini sendiri. Salah satu kekecewaan Messi saat klub gagal membawa kembali Neymar dari PSG pada awal musim ini. Ditambah lagi dengan kepergian bintang muda, Arthur Melo ke Juventus pada musim depan.

Namun, isu kepergian Messi itu ditepis oleh sang presiden klub, Josep Maria Bartomeu. Bartomeu mengatakan bahwa Messi akan tinggal di Barca hingga akhir kariernya (CNN.com 6/7/2020). Pernyataan Bartomeu ini keluar selepas Barca menang kontra Villareal 4-1. Pastinya, Bartomeu tidak ingin bintang klub itu pergi.

Bagaimana pun, Messi mempunyai kontribusi besar bagi klub hingga saat ini. Masih sangat sulit diprediksi kapan kemampuan Messi melemah. Karenanya, klub masih membutuhkan sentuhan magis dari pemain didikan La Massia ini. Selain itu, upaya mengamankan Messi adalah bagian dari upaya untuk mengamankan tempat pada pemilihan presiden klub pada Juni 2021. Mempertahankan Messi di klub bisa menjadi bekal bagi Bartomeu agar terpilih lagi pada pemilihan itu.

Bartomeu terlihat berada di posisi sulit bila menimbang penampilan Barca pada beberapa musim terakhir. Akan menjadi lebih rumit bila Bartomeu membiarkan Messi hengkan ke klub lain. Peluangnya untuk terpilih lagi menjadi presiden klub bisa saja tertutup rapat. Isu kepindahan Messi barangkali memusingkan kepala Bartomeu. Terlebih lagi, saat ini Barcelona berada di posisi ke-2. Beda 2 poin dari musuh bebuyutan, Real Madrid. Margin bisa melebar jika Real Madrid menang.

Di tengah isu seperti ini, sang presiden seyogianya melihat arti dan pesan dari isu yang beredar. Hemat saya, Messi pastinya sulit meninggalkan klub yang mempunyai keterikatan sejarah dengan dirinya. Boleh saja, Messi hanya memberikan pesan khusus lewat isu kontraknya kepada klub tentang situasi klub itu sendiri. Ketidaksenangan pemain di tim bisa saja bermuara dari manajemen klub sendiri. Ada yang tidak beres dan perlu dibenahi. Alih-alih memfokuskan pada isu yang meliputi Messi, Bartomeu seyogianya mulai berpikir untuk membenah sistem manajemen klub.

Pasalnya, penampilan Barca pada musim ini agak timpang. Di awal musim ini, Blaugrana gagal mendatangkan Neymar dari PSG. Cautinho yang berharga fantastis tetapi tidak menunjukkan performa terbaik dipinjamkan ke Bayern Munchen. Belum lagi, Dambele yang kerap cedera. Pembelian berharga mahal, tetapi mereka tidak menunjukkan kontribusi yang berarti bagi klub. Gagal memenuhi ekspetasi klub.

Belum lagi komposisi skuad Barca sendiri. Tidak sedikit pemain yang sudah berada di atas level 30-an tahun ke atas. Termasuk Messi. Para pemain ini masih mempunyai peran sentral di klub musim ini. Sebaliknya, El Real sedang memberdayakan pemain muda agar terjadi regenerasi di klub. Hasilnya cukup positif bagi El Real.

Rentetan persoalan ini adalah bagian dari manajemen klub. Klub seyogianya membenahi manajemennya agar penampilan tim kembali pada tren yang positif. Daripada berpikir tentang situasi Barca saat ini, Bartomeu malah mengeritik video assitant referee (VAR). Melansir berita dari Goal.com 6/7/20, Bartomeu mengatakan jika VAR selalu berpihak pada klub yang sama. Besar kemungkinan, kritik ini dilayangkan ke musuh bebuyutan, Real Madrid.

Entahkah sistem teknologi berpihak pada El Real ataukah tidak, Bartomeu perlu juga melihat penampilan Barca di musim ini. Tidak terlalu impresif. Pergantian pelatih di pertengahan musim tidak menjawabi persoalan. Terkesan tergesa-gesa. Barca sementara timpang. Berbeda dengan situasi El Real. Di tujuh pertandingan terakhir selepas jedah pandemi korona, El Real berhasil menyapu bersih kemenangan.

Sementara Barca hanya berhasil meraih 4 kemenangan dan 3 seri. Karena hasil ini, Barca harus merelakan posisi pertama ke tangan El Real. Dengan ini pula, El Real berpeluang menjadi juara La Liga musim ini. Barca siap gigit jari. Harapannya, kegagalan ini tidak menutup mata Bartomeu, presiden klub dalam melihat dan mencermati ketimpangan yang terjadi pada klub.

Sevilla Kandaskan Eibar Gelandang Ocampos Jadi Kiper

Sevilla Kandaskan Eibar Gelandang Ocampos Jadi Kiper – Lucas Ocampos dielu-elukan rekan-rekan setimnya sebagai pahlawan kemenangan dari Eibar. Pada laga yang digelar di Stadion Ramon Sanchez Pijuan, menjamu Eibar pekan ke 34 La Liga, Sevilla menang dengan skor 1-0, Selasa dinihari WIB. Sevilla unggul 1-0 di menit ke 56 lewat gol yang diciptakan Lucas Ocampos.

Sevilla Kandaskan Eibar Gelandang Ocampos Jadi Kiper

Sevilla Kandaskan Eibar Gelandang Ocampos Jadi Kiper

Ocampos yang berposisi sebagai gelandang, selain menciptakan gol kemenangan satu-satunya bagi timnya, ternyata dia juga sekaligus berposisi sebagai penjaga gawang di menit akhir laga. Di menit-menit akhir, penjaga gawang Sevilla, Tomas Vaclic harus ditandu keluar lapangan karena cedera. Sevilla tidak bisa menggantikan Vaclic karena sudah lima kali mengadakan pergantian pemain. Lalu posisinya lantas digantikan Lucas Ocampos sang pencetak gol tunggal. Dari seorang gelandang, kini Ocampos menjadi penjaga gawang!

Luar biasanya, Ocampos mampu mementahkan peluang yang dibuat kiper Eibar, Marko Dmitrovic. Dmitrovic sebagai kiper tapi dia ikut maju ke depan hingga mendekati gawang Sevilla. Namun Ocampos, sang kiper darurat, dengan cekatan mampu menepis peluang yang disepak Dmitrovic. Seusai laga, kontan Ocampos ditanggap pahlawan. Dia dielu-elukan rekan-rekan setimnya.

Gol yang diciptakan Ocampos di laga itu merupakan golnya yang ke 15 musim 2019-2020 ini. Berkat golnya itu, Ocampos berhasil mengokohkan timnya di posisi ke empat klasemen sementara dengan 60 poin dari 34 laga. Cuma terpaut dua poin dari Atletico Madrid di posisi ke 3 dengan 62 poin.

Di bawahnya, ada Villarreal di posisi ke 5 dengan 54 poin

Benar-benar momen yang aneh. Saya memang pernah latihan menjadi penjaga gawang. Tapi saya tidak membayangkan menjadi penjaga gawang nyata di menit-menit akhir laga,” tuturnya kepada Sportskeeda.
Gol yang diciptakan Ocampos di laga itu merupakan golnya yang ke 15 musim 2019-2020 ini.

Berkat golnya itu, Ocampos berhasil mengokohkan timnya di posisi ke empat klasemen sementara dengan 60 poin dari 34 laga. Cuma terpaut dua poin dari Atletico Madrid di posisi ke 3 dengan 62 poin.

Benar-benar momen yang aneh. Saya memang pernah latihan menjadi penjaga gawang. Tapi saya tidak membayangkan menjadi penjaga gawang nyata di menit-menit akhir laga,” tuturnya kepada Sportskeeda. Dalam kesempatan latihan menjadi kiper, Ocampos mengatakan pelatih kiper hanya memberi arahan sekedarnya. Yaitu jangan sekali-kali meninggalkan gawang, supaya tidak terjadi kesalahan. Memang bola mengarah ke saya dan saya bisa mengamankannya, tutur Ocampos.

Ocampos juga mengatakan kemenangan ini sangat penting buat timnya

Alhasil, dengan kemenangan di atas, tim asuhan Julen Lopetegui itu bermain gemilang, Sevilla mencatat 11 kali tak terkalahkan dalam laga-laga terakhirnya berturut-turut. Walau demikian, di kedepannya, Sevilla harus melewati laga-laga terjal menghadapi Real Sociedad dan Athletic Bilbao. Hingga pekan ke 34, Real dan Athletic Bilbao menduduki posisi ke 7 dan 8. Selanjutnya, dalam laga kandang, Sevilla bakal menjamu Valencia (9) dan Mallorca (18). Eibar sendiri masih rawan di zona degradasi. Saat ini di posisi ke 16 dengan 35 poin.

Uniknya, dalam dua laga ke depan di lanjutan La Liga, tim asuhan Jose Luis Mendlibar itu akan menghadapi Espanyol (posisi 20, paling buncit), dan Leganes (posisi 19, posisi kedua paling bawah). Empat laga tersisa menjelang akhir, kesempatan sangat baik bagi Eibar untuk memetik poin dari tim-tim di bawahnya dan menjauhkan diri dari zona degradasi.

Gol Bunuh Diri di Kandang Hotspur Jose Mourinho Tetap Lega

Gol Bunuh Diri di Kandang Hotspur Jose Mourinho Tetap Lega – Gol bunuh diri Michael Keane sudah cukup untuk memberi Tottenham Hotspur kemenangan kedua mereka dalam tiga pertandingan, saat mereka mengalahkan Everton 1-0. Laga mereka adalah yang ke-33, berlangsung pada Selasa dini hari WIB di Tottenhamhotspur Stadium, London.

Gol Bunuh Diri di Kandang Hotspur Jose Mourinho Tetap Lega

Gol Bunuh Diri di Kandang Hotspur Jose Mourinho Tetap Lega

Sesungguhnya laga ini sangat membosankan. Walaupun mereka bermain terbuka namun hanya sedikit terjadinya peluang mencetak gol. Mungkin lebih layak laga ini seharusnya berakhir dengan imbang. Bagi Jose Mourinho, ini adalah rekor yang menjadi kemenangannya ke 200 selama kiprahnya di Liga Premier sebagai pelatih kepala.

Sekaligus kemenangan malam ini membawa tim asuhannya berada diposisi kedelapan klasemen sementara dengan 48 poin. Posisi Hotspur hanya berbeda satu poin dengan Arsenal yang berada diperingkat ke-7 dengan 49 poin. Namun cukup jauh berjarak 9 poin dengan Chelsea diposisi 4, zona Liga Champions dengan 57 poin.

Untuk laga selanjutnya pada matchweek ke-34, Spurs akan bertandang ke Vitality Stadium, markas AFC Bournemouth, pada Kamis 9 Juli 2020 atau Jumat dini hari WIB. Catatan Premierleague.com (7/7/20), Hotspur dan Everton seimbang dalam penguasaan bola. Mereka silih berganti melakukan serangan ke gawang lawan.

Malam itu Mourinho menerapkan skema 4-3-3 dengan trio penyerang Son Heng min, Lucas Moura dan Harry Kane. Ditunjang trio lini tengah Spurs yaitu Sissoko, Harry Winks dan Giovani Lo Celso. Sementara itu di belakang ada duet bek tengah Toby dan Erik Dier yang setia mengawal kiper Hugo Lloris. Duet full beknya adalah Ben Davies dan Serge Aurier.

Gol bunuh diri itu terjadi ketika laga berjalan 24 menit. Keane, Bek tengah The Toffees ini tidak memiliki kesempatan untuk menghindar ketika tendangan keras Giovani Lo Celso memantul lalu melewati kiper Everton, Jordan Pickford yang tidak berdaya. Duet bek tengah Everton asal England, Mason Holgate dan Michael Keane yang diturunkan Carlo Ancelotti malam itu sebenarnya cukup solid menjaga Harry Kane dan Son.

Begitu juga full back mereka, Lucas Digne yang sering melakukan overlap ke area penalti Hotspur. Dia mendukung duet penyerang Everton, Richarlison dan Dominic. Peluang kedua tim juga berimbang. Hotspur memiliki 12 peluang, dua tembakan tepat sasaran. Sedangkan Everton 11 peluang dengan tiga tembakannya on target.

Tendangan penjuru mereka juga berimbang yaitu lima kali untuk Spurs dan 6 kali untuk Everton. Gambaran yang menunjukkan bahwa mereka saling melakukan serangan satu sama lain. Setelah gol bunuh diri itu, Spurs punya lagi satu peluang. Son Heung-min nyaris saja menggandakan keunggulan di awal babak kedua tetapi tembakannya melebar ke sisi gawang Pickford.

Son juga dua kali berhadapan langsung dengan kiper Everton itu namun tendangannya berhasil diredam dengan baik oleh Pickford. Sepanjang babak kedua itu, Evertonpun berjuang untuk menemukan jawaban dalam upaya menyamakan kedudukan.

Ada peluang emad beberapa saat sebelum akhir laga. Sundulan Dominic Calvert-Lewin diselamatkan oleh Hugo Lloris dan Djibril Sidibe melakukan tendangan langsung namun melebar ke sisi tiang gawang Hugo Lloris. Kedudukan tidak berubah hingga akhir, Hotspur menang 1-0 atas Everton. Kemenangan ini juga memperpanjang sejarah pertemuan mereka. Hotspur memenangkan 28 laga dari 57 pertemuan dimana terjadi 21 laga berakhir draw. Everton hanya memiliki 8 kali menang.

Selamat untuk Jose Mourinho dan jangan berkecil hati untuk Everton dibawah asuhan Carlo Ancelotti. Perjalanan kompetisi masih panjang hingga akhir Juli nanti.

Buffon Raja Serie A dan Buktikan Usia Hanya Hitungan Angka

Buffon Raja Serie A dan Buktikan Usia Hanya Hitungan Angka – BICARA tentang angka, saya jadi teringat dengan Sahabat K’ners, Bung Rudy Gunawan. Dia adalah seorang pakar Numerologi yang jelas hampir setiap aktivitasnya bergelut dengan angka-angka. Berdasarkan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari bahkan termasuk waktu zaman sekolah dulu, orang yang gemar bergelut dengan angka apalagi dibarengi dengan rumus-rumus jelimet, pastilah orang tersebut tingkat kecerdasannya di atas rata-rata.

Buffon Raja Serie A dan Buktikan Usia Hanya Hitungan Angka

Buffon Raja Serie A dan Buktikan Usia Hanya Hitungan Angka

Jamak, jika saat sekolahnya jurusan yang diambil adalah IPA kalau di SMA atau akutansi jika sekolah di SMK. Lalu bagaimana dengan Bung Rudi, apakah dia orang yang cerdas? Ya, pastilah. Kalau nggak cerdas rasanya nggak mungkin menggeluti bidang Numerologi. Kembali pada tema judul tulusan di atas. Saya ingin mengupas sedikit tentang penjaga gawang kawakan asal Klub Serie A Italia, Juventus. Dia adalah Guanluigi Buffon.

Bagi saya, penjaga gawang yang berasal dari jebolan akademi Parma ini layak dijadikan inspirasi bagi semua manusia dimanapun berada. Betapa tidak, di usianya yang sudah mendekati angka 43, masih mampu menampilkan performa menawan bersama klub asal Turin, Juventus tersebut. Jelas, saat Buffon mampu menjaga konsistensinya dalam bermain bukan didapat dengan mudah.

Itu membutuhkan pengorbanan luar biasa. Mulai dari menjaga pola hidup, gaya hidup, dan latihan yang ekstra keras. Sebab kalau tidak, mungkin mantan penjaga gawang Tim Nasional Italia ini telah kalah bersaing dengan penjaga gawang-gawang yang jauh lebih muda. Satu hal lagi yang menjadi sumber insipirasi bagi saya adalah, Buffon sangat sukses menaklukan kejenuhan atas rutinitas yang telah dia jalani puluhan tahun lamanya.

Ya, sebagai pesepak bola profesional dan terikat kontrak dengan klub, hampir pasti dalam hidup kesehariannya hanya latihan dan latihan terus bertanding. Begitu seterusnya. Namun ibarat ungkapan bahwa usaha tidak pernah menghianati hasil. Buffon pun akhirnya sukses meraih hasil itu. Pada laga lanjutan kompetisi Liga Serie A Italia pekan ke-30, saat Juventus melawan rival sekotanya Torino atau derby Della Molle, Buffon dipercaya untuk main sejak menit pertama oleh pelatih Sarri.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Allianz Stadium tersebut, Bianconeri julukan Juventus mampu menang telak dengan skor 4-1. Hasil ini mengukuhkan Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan di puncak klasemen dengan 75 poin. Tapi, bukan tentang kemenangan besar Juve yang akan dibahas. Ini tentang Buffon yang sukses memecahkan rekor sebagai pemain dengan berpenampilan paling banyak di Liga Serie A Italia.

Saat bermain lawan Torino, Buffon menorehkan penampilan yang ke-648 kalinya. Jumlah ini melampaui pemegang rekor sebelumnya yang dipegang atas nama bek legendaris AC Milan, Paolo Maldini. Hingga pensiunnya, putra Cesare Maldini ini membubuhkan 647 pertandingan atau selisih satu dengan Buffon.

Kendati begitu, selisih satu laga itu akan bisa lebih diperlebar, mengingat musim ini kompetisi Liga Serie A masih menyisakan delapan pertandingan. Dan, peluang Buffon untuk dimainkan jelas terbuka luas. Apalagi, menurut rumor yang berkembang, penjaga gawang gaek ini telah menandatangani perpanjangan kontrak hingga satu musim ke depan.

Perpanjangan kontraknya itu membuat Buffon bisa terus bermain. Meski sudah mencapai usia uzur, tetapi penjaga gawang yang sempat bermain untuk klub Paris Saint-Germain Prancis itu mengaku masih merasa fit dan semangat untuk terus bermain. Dengan keberhasilannya memecahkan rekor Paolo Maldini, sangat layak jika akhirnya Buffon ditasbihkan sebagai raja Serie A Italia.

Dia juga mampu membuktikan bahwa usia hanyalah hitungan angka. Selama semangat dan kemampuannya masih stabil angka-angka yang sudah di atas 40 itu bukan jadi halangan untuk terus berprestasi. Congratulazioni, Buffon.

Neco Williams Sosok Muda Pengganti Trent Alexander Arnold

Neco Williams Sosok Muda Pengganti Trent Alexander Arnold – Dalam laga melawan Crystal Palace, Kamis dini hari (25/6/20), ada sosok muda berusia 19 tahun yang diturunkan pelatih Jurgen Klopp pada 15 menit sebelum laga berakhir. Siapakah dia? Neco Williams. Benar, pemain muda Liverpool kelahiran Wrexham, Wales 13 April 2001 ini masuk dari bangku cadangan menggantikan Trent Alexander-Arnold. Ini adalah debutnya di Premier League dalam kemenangan The Reds empat gol tanpa balas atas Crystal Palace pada matchweek 31.

Neco Williams Sosok Muda Pengganti Trent Alexander Arnold

Neco Williams Sosok Muda Pengganti Trent Alexander Arnold

Menurut Alexander Arnold, ada nilai tambah dari pemain remaja ini yang membuatnya layak bermain. Sikap dan etos kerja yang membuat Neco Williams melakukan debutnya di Liga Premier untuk Liverpool.Bek sayap remaja Williams bermain sangat impresif dan mengesankan selama penampilan perdananya diajang kompetisi tertinggi di Inggris tersebut.

Alexander-Arnold sendiri menyukai apa yang dilihatnya selama laga berlangsung. Apalagi dia merasa bangga dengan pencapaian Williams sebagai sesama lulusan Akademi Liverpool.
Dalam laga melawan Crystal Palace, Kamis dini hari (25/6/20), ada sosok muda berusia 19 tahun yang diturunkan pelatih Jurgen Klopp pada 15 menit sebelum laga berakhir. Siapakah dia? Neco Williams.

Benar, pemain muda Liverpool kelahiran Wrexham, Wales 13 April 2001 ini masuk dari bangku cadangan menggantikan Trent Alexander-Arnold. Ini adalah debutnya di Premier League dalam kemenangan The Reds empat gol tanpa balas atas Crystal Palace pada matchweek 31. Menurut Alexander Arnold, ada nilai tambah dari pemain remaja ini yang membuatnya layak bermain. Sikap dan etos kerja yang membuat Neco Williams melakukan debutnya di Liga Premier untuk Liverpool.

Bek sayap remaja Williams bermain sangat impresif dan mengesankan selama penampilan perdananya diajang kompetisi tertinggi di Inggris tersebut. Alexander-Arnold sendiri menyukai apa yang dilihatnya selama laga berlangsung. Apalagi dia merasa bangga dengan pencapaian Williams sebagai sesama lulusan Akademi Liverpool. Williams selama ini telah mendapat banyak manfaat dari lingkungan elit yang dibina oleh Jurgen Klopp di Melwood, Pusat Latihan Liverpool.

Neco Williams Mengunggah Pernyataan Kegembiraannya Di Akun Medsos Miliknya

Penuh kegembiraan untuk membuat debut liga utama saya malam ini tetapi yang lebih penting untuk mendapatkan tiga poin permainan kami yang berkelas. Menurut Transfernarkt.com (25/6/20), Williams memiliki catatan bermain bersama Liverpool. Sebanyak 23 laga diajang Premier League U-18, 4 laga di FA Cup, 2 laga di EFL Trofi dan debut di Premier League kemarin.

Total bermain bersama Liverpool U-19 sebanyak 33 laga. Bersama Liverpool U-23 sebanyak 25 laga dengan torehan dua gol dan dua assis. Sedangkan bermain bersama tim utama Liverpool baru 6 laga termasuk debutnya di Premier League. Kiprah cemerlang Williams dalam debut melawan Crystal Palace disambut gembira seniornya, Trent Alexander-Arnold.

Hanya keinginan untuk belajar dan meningkatkan skill setiap hari. Anda bisa melihatnya berkembang dan mengambil hal-hal kecil setiap hari – juga dengan semua pemain muda – dan saya pikir tidak ada tempat yang lebih baik bagi pemain muda selain di Liverpool. Sebenarnya bek sayap remaja ini telah melakukan penampilan senior pertamanya untuk Liverpool di Piala Carabao Oktober tahun lalu. Saat itu The Reds menang dengan mendebarkan atas Arsenal.

Saya akan mengatakan bahwa sejak Anda masih kecil, Anda pasti bermimpi membuat debut Liga Premier. Membuatnya musim ini akan menjadi prestasi besar,” kata pemain internasional Wales U-19, Neco Williams kepada Liverpoolfc.com (29/6/20).

Debut tersebut membuat Williams bertekad untuk terus menunjukkan performanya. Kesungguhan dan fokus dalam berlatih dan menjaga dengan disiplin kebugarannya. Anak muda ini selalu berharap kepada Jurgen Klopp, agar bisa kembali mendapat kesempatan bermain dalam laga Liverpool mendatang. Neco Williams juga menganggap bahwa inilah saatnya para pemain muda Liverpool mulai beraksi. Jurgen Klopp tahu benar kapan para pemain muda ini turun ke lapangan hijau bersama Tim utama Liverpool.

Tujuh sisa laga Liverpool setelah mereka memastikan juara, merupakan kesempatan pemain muda seperti Neco William menunjukkan performanya. Penting bagi Klopp mematangkan pemain pemain mudanya untuk menyiapkan mereka sebagai pelapis yang sudah siap menghadapi kompetisi musim depan.