Sudahlah Lingard Pindah Saja ke Everton atau West Ham

Sudahlah Lingard Pindah Saja ke Everton atau West Ham – Manchester United dinilai tidak cukup layak untuk ditempati pemain sekelas Jesse Lingard. Pemain bernomor jersey 14 itupun disarankan untuk meninggalkan Old Trafford. Adalah mantan pemain sekaligus Legenda Setan Merah, Paul Scholes yang menyarankan hal ini. Menurutnya, Lingard nampak kesulitan mendapatkan kesempatan bermain pada musim lalu dan menyarankan untuk pindah ke West Ham atau Everton.

Sudahlah Lingard Pindah Saja ke Everton atau West Ham

Sudahlah Lingard Pindah Saja ke Everton atau West Ham

Lingard telah menjalani musim yang sulit di Old Trafford, meski telah mencetak dua gol dalam dua pertandingan terakhirnya, hal ini dalam rangka menemukan kembali performa terbaiknya. Salah satunya kala ia membawa United lolos ke perempat final Europa League dengan mengalahkan LASK Linz 2-1 (agregat 7-1) pada Kamis malam WIB, pada laga tersebut ia pun menyumbangkan satu gol.

Pemain berusia 27 tahun ini telah membuat 39 penampilan di semua kompetisi bersama Manchester United pada musim 2019/20, tetapi ia lebih banyak menjadi pemain pengganti, terutama sejak kedatangan Bruno Fernandes dari Sporting Lisbon pada Januari lalu. Paul Scholes, dalam komentarnya pada BT Sports usai laga Man United vs LASK, bahwa ia mempercayai Solskjaer akan mencantumkan Lingard pada bursa transfer musim ini dan berharap banyak klub yang memintanya.

Pada 28 Desember, dia harus berada di puncak karirnya. Apakah dia ingin bermain 10, 15, mungkin 20 pertandingan semusim di usianya? Saya kira tidak. Saya pikir dia masih memiliki ambisi untuk masuk ke skuad Inggris dan dia perlu menemukan beberapa performa terbaiknya itu, “kata Scholes. Lebih lanjut Paul Scholes memprediksi bahwa, bila tetap bertahan di Manchester United Lingard hanya akan menjadi pemain cadangan dan kesempatan untuk mengembalikan performa terbaiknya akan nampak sulit.

Lingard adalah anak yang baik, ada banyak kemampuan di sana. Dia hanya membutuhkan serangkaian permainan untuk melakukannya dan saya tidak berpikir dia akan mendapatkannya di United, lebih baik ia pindah ke Everton atau West Ham” sambung Scholes. Nah-nah bicara tentang West Ham, apakah Lingard akan cocok bersama Declan Rice dkk? Meskipun ia akan bereuni dengan mantan pelatihnya David Moyes? Mari kita kupas tuntas.

Lini tengah West Ham menurut kabar dari football London bukanlah area yang harus diperbaiki oleh Moyes untuk musim mendatang, mereka saat ini lebih fokus untuk memperbaiki lini pertahanan. Sebagai informasi pada kompetisi Liga Inggris musim 2019/2020 yang baru saja selesai sepekan lalu, West Ham mencatatkan total kebobolan 62 gol. Karena hal tersebut Moyes punya PR untuk mengatasi hal tersebut.

Bahkan untuk gelandang yang setipe dengan Lingard,The Hammers telah memiliki Pablo Fornals dan Jack Wilshere di bangku cadangan, ditambah Grady Diangana yang akan kembali West Ham setelah masa pinjamannya selesai di West Bromwich Albion. Sejauh ini Moyes hanya meminati seorang gelandang yang ingin dibawanya ke London Stadium adalah pemain dari klub Divisi Championship, QPR, Eberechi Eze meskipun harus bersaing dengan Crystal Palace.

Selain Eze, Moyes pun sangat memfavoritkan gelandang lainnya dari kompetisi kasta kedua Liga Inggris itu adalah sosok Said Benrahma dari Brentford juga menjadi target untuk berburu tanda tangannya. Akan tetapi niat Moyes ini belum kesampaian, pasalnya pihak klub harus menjual para pemain seperti Felipe Anderson dan Manuel Lanzini agar kas keuangan klub terisi, kedua pemain ini bila dilepas akan memberikan pemasukan antara 35 juta paun hingga 40 juta paun.

David Moyes telah mengungkapkan musim 2019/20 lalu telah menjadi salah satu yang tersulit dalam karirnya. Oleh karena itu ia ingin memastikan The Hammers bisa belajar dari kesalahan mereka dan tidak pernah berada dalam masalah degradasi lagi. Dia berniat untuk merombak skuad lebih baik lagi pada musim panas ini untuk membuat timnya lebih mobile, lebih kuat dalam bertahan dan lebih kuat dalam serangan. Lingard mungkin saja bisa menjadi alternatif untuk didatangkan oleh Moyes, dengan usianya yang terbilang memasuki masa emas pesepakbola berikut pengalamannya di timnas Inggris atau Manchester United.

Di Tengah Rumor Barcelona Bek City Ini Tolak Perpanjang Kontrak

Di Tengah Rumor Barcelona Bek City Ini Tolak Perpanjang Kontrak – Bek Manchester City, Eric Garcia, enggan memperpanjang kontraknya. Pep Guardiola meyakini Garcia ingin pindah ke klub lain. Garcia memasuki tahun terakhir dalam kontraknya di City. Kontrak bek berusia 19 tahun itu akan habis pada Juni 2021.

Di Tengah Rumor Barcelona Bek City Ini Tolak Perpanjang Kontrak

Di Tengah Rumor Barcelona Bek City Ini Tolak Perpanjang Kontrak

Meski masih belia, Garcia sudah dapat kepercayaan dari Guardiola. Pemain asal Spanyol itu tujuh kali jadi starter dalam 12 pertandingan City usai kompetisi di Inggris dilanjutkan, termasuk saat melawan Liverpool dan Arsenal di semifinal Piala FA.

City menawarkan pembaruan kontrak untuk Garcia. Namun, pemain jebolan La Masia itu menolak untuk memperpanjang kontraknya di Etihad Stadium. Keponya Para Pemain Man City dengan Timo Werner.

Kabar yang beredar menyebut Barcelona ingin membawa pulang Garcia musim panas ini. Garcia meninggalkan akademi Barcelona dan gabung City pada 2017. Dikabarkan Guardian, City tak akan melepas Garcia dengan nilai transfer tak kurang dari 30 juta paun.

Dia mengatakan kepada kami kalau dia tidak mau memperpanjang kontraknya dengan Manchester City,” ujar Guardiola seperti dilansir Sky Sports.

Dia masih punya kontrak satu tahun lagi dan setelah itu, dia tidak mau memperpanjang. Kami sih mau memperbarui kontraknya, tapi dia tidak mau, jadi saya membayangkan dia ingin main di tempat lain.”

Keputusan Garcia untuk menolak perpanjangan kontrak muncul hanya beberapa hari setelah City merekrut bek tengah lain, Nathan Ake, dari Bournemouth. The Citizens mengeluarkan dana 41 juta paun untuk merekrut bek asal Belanda itu.

Begini Cara Pemain Titipan Gerogoti Sepak Bola Indonesia

Begini Cara Pemain Titipan Gerogoti Sepak Bola Indonesia – Layaknya sel kanker, budaya pemain titipan menjadi masalah klasik yang terus-menerus menggerogoti organ tubuh sepak bola Indonesia. Fenomena itu terjadi secara menyeluruh mulai dari level grass root, amatir, hingga profesional. Situasi tersebut semakin diperburuk oleh kinerja pengurus PSSI selama ini yang tak kunjung waras. Rumor itu kini menyeruak setelah PSSI memanggil 46 pemain Timnas Indonesia U-19 dan 29 pemain Timnas senior untuk mengikuti training center (TC) bersama pelatih barunya, Shin Tae-yong.

Begini Cara Pemain Titipan Gerogoti Sepak Bola Indonesia

Begini Cara Pemain Titipan Gerogoti Sepak Bola Indonesia

Timnas senior dipersiapkan guna menghadapi 3 laga sisa Kualifikasi Piala Dunia 2022, melawan Thailand, Uni Emirat Arab, dan Vietnam. Sedangkan Timnas U-19 akan mengarungi Piala Asia U-19 2020 di Uzbekistan yang akan digelar pada 14-31 Oktober mendatang. Adanya sejumlah nama-nama baru menjadi pemicu rumor pemain titipan kembali memanas di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air. Tak lama berselang. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan menegaskan bahwa PSSI hanya memanggil pemain-pemain pilihan Shin beserta tim kepelatihannya. Termasuk pemain-pemain blasteran semisal Elkan Baggot dari klub Ipswich Town (kasta ke-3 Inggris).

Namun, Iwan Bule mengamini praktik pemain titipan tersebut memang terjadi. Lantas ia mengaku pernah ada pihak yang “menitip”, akan tetapi permintaan itu ia acuhkan karena yang menentukan bukan dirinya. Hal senada juga pernah disampaikan oleh Indra Sjafri saat mengisi sebuah seminar di kampus UNAIR Surabaya 30 November 2013 lalu. Ia membeberkan mengenai banyaknya pemain titipan yang dipaksakan masuk ke timnas meskipun secara teknis tak memadai. Dari seratusan pemain di awal masa seleksi, Indra yang saat itu menjabat sebagai pelatih Timnas U-19 mencoret semua pemain itu karena dianggap tidak layak, kecuali M. Hargianto–yang ia nilai mumpuni.

Lima tahun berselang, tepatnya pada 3 Maret 2018, Indra Sjafri yang membawahi Indra Sjafri Football Academy (ISFA) menggelar meet and greet serta coaching clinic di Stadion Surajaya Lamongan.Menurut penuturan ayah saya yang kala itu hadir sebagai tim pelatih level grass root, lagi-lagi Indra mengangkat topik yang sama, yakni terkait pemain titipan. Lantas apa yang membuat mantan pelatih Timnas U-19 begitu gemas dengan pemain titipan. Kejengkelan Indra dalam melihat fenomena pemain titipan itulah yang membuat dirinya dikenal dengan gaya “blusukannya” untuk mencari talenta muda di seluruh penjuru Indonesia. Ia memandang pemilihan pemain adalah hak prerogratifnya sebagai pelatih. Tak seorangpun–tidak pula PSSI–yang dapat mengintervensinya.

Di level setingkat lebih bawah. Pelatih Timnas U-17 Fakhri Husaini mengaku pernah dihubungi seorang penjabat yang meminta anaknya diikutsertakan di skuad Timnas. Dengan tegas Fakhri menolaknya karena ia tak mau mengakomodasi pemain titipan. Rumor tersebut rupanya tidak hanya berkembang di kalangan internal PSSI dan tim kepelatihan saja. Eks pemain Timnas medio 1998-2004, Alexander Pulalo, juga turut mengungkapkan sejumlah fakta tentang persepakbolaan Indonesia. Salah satunya ketika PSSI terlalu ikut campur dalam pemilihan pemain timnas, sehingga adanya pemain titipan tidak terhindarkan. Ketika menjadi punggawa timnas ia harus “berdarah-darah” untuk menyisihkan pamain lain agar bisa lolos, namun saat ini pengurus PSSI lah yang menentukan.

Alex menjelaskan, jika PSSI memang benar-benar serius mencari talenta muda seperti yang dilakukan oleh Indra, tidak menutup kemungkinan Indonesia bisa menembus Piala Dunia. Harapan ini agaknya sudah terwujud, meskipun hadirnya Timnas U-20 pada Piala Dunia 2021 bukan atas kehebatannya melainkan karena “tiket auto-lolos” sebagai host. Pada tataran klub. Tak jarang ditemui pejabat atau pihak-pihak yang memiliki akses dan afiliasi dengan klub meminta kerabatnya untuk diloloskan ke dalam skuad. Tentunya ada simbiosis mutualisme di sini. Praktik pemain titipan telah menjadi budaya yang sulit ditolak oleh pelatih karena bisa mengancam posisinya sebagai juru taktik. Hal ini tidak terlepas dari kedudukan sepak bola modern sebagai bisnis.

Mereka tidak memiliki kuasa untuk memilih semua pemain yang memang benar-benar murni atas dasar pilihannya sendiri. Selalu ada saja pemain-pemain yang disusupkan untuk kepentingan sponsorship. Apalagi jika pemain tersebut sudah lebih dahulu menjalin kontrak dengan sponsor, semakin sering bermain maka semakin meroket pula popularitas para pemain titipan beserta brand sponsornya. Kapitalisasi meyebabkan peran sponsor sebagai sumber dana utama organisasi sepak bola teramat vital untuk menghidupi dirinya. Tanpa sponsor, klub dan organisasi sepak bola akan limbung.

Dominasi sebuah organisasi atau perusahaan dalam ranah kapitalisme adalah profit orientied. Artinya, penetapan suatu kebijakan (bisnis) selalu mengarah pada rasionalitas untung rugi sehingga urusan sepak bola itu sendiri seringkali dikesampingkan. Bilamana budaya pemain titipan semacam ini tetap dipraktikkan. Adanya pemain titipan yang dipaksakan ke dalam skuad akan menyingkarkan pemain berbakat yang sesungguhnya. Pemain-pemain yang lebih berhak untuk lolos harus tergusur dan merelakan posisinya. Proses seleksi pemain yang didasarkan pada level permainan, intelegensia, teknik, serta kemampuan pemain dalam memahami instruksi pelatih hanya menjadi formalitas belaka.

Melalui jalur “by pass” pemain titipan “mengencingi” sportivitas. Mereka akan melenggang mulus tanpa harus bekerja keras agar namanya terpampang di papan starting line-up. Jika fenomena ini terus berlanjut, regenerasi pada level grass root pun akan mandek karena dijejali konflik kepentingan dan pemain titipan, bukan para pemain yang benar-benar memiliki talenta. Mereka yang mendapatkan tempat di skuad tanpa harus “berdarah-darah” lebih dahulu akan berdampak pada performanya saat berlaga. Naluri berkompetisi mereka sudah luntur sejak dalam tahap seleksi.

Jalur “by pass” yang mereka tempuh menandakan bahwa mereka tidak memiliki sejumlah atribut yang diperlukan sebagai pemain hebat. Imbasnya, tim yang diperkuat oleh pemain-pemain semacam ini akan kehilangan determinasi dan semangat juang. Padahal determinasi dan semangat juang itulah yang membuat sebuah tim memiliki mental juara. Hal yang sama juga mampu menyulap sebuah tim gurem menjadi kuda hitam yang menakutkan. Harmoni merupakan hal yang sangat penting untuk keseimbangan sebuah tim. Pasalnya, kekompakan antar pemain adalah modal utama bagi kesebelasan untuk mengarungi jadwal kompetisi yang ketat.

Sebagus apapun kualitas sebuah tim, tanpa harmoni kerja sama tim akan berantakan, hingga label juara pun akan sulit diraih. Setidaknya ada 2 faktor utama dalam membentuk harmoni, yakni kepercayaan dan komunikasi antar pemain. Kehadiran para pemain titipan akan membuat para pemain yang telah berjuang dari bawah kehilangan kepercayaan kepada timnya maupun kepada dirinya sendiri. Selanjutnya akan merusak komunikasi antar pemain, begitu pula dengan harmoni skuad. Menimbang sejumlah faktor di atas, tak heran jika Satgas Antimafia Bola akhirnya harus turun gunung guna melakukan pengawasan secara menyeluruh, termasuk dalam proses rekrutmen Timnas U-19 untuk persiapan Piala Dunia U-20 2021 mendatang.

Kasatgas Antimafia Bola, Brigjen Hendro Pandowo menyatakan kesiapannya untuk membantu PSSI dalam mewujudkan sepak bola Indonesia yang bersih, bermartabat dan berprestasi. Namun, semua upaya itu akan sia-sia jika PSSI dan seluruh elemen persepakbolaan Indonesia tidak melakukan hal yang sama dalam memerangi budaya pemain titipan. Kebiasaan lama yang cenderung destruktif itu sudah seharusnya ditinggalkan kemudian diganti dengan kerja keras dan semangat sportivitas. Setidaknya saat ini Timnas Indonesia sudah memiliki modal idealisme dalam diri Shin Tae-yong. Semoga Shin mampu membawa Indonesia menjadi jawara di negerinya sendiri.

Rencana PSG Ingin Menduetkan Ronaldo dengan Mbappe Gagal

Rencana PSG Ingin Menduetkan Ronaldo dengan Mbappe Gagal – Pemain bintang asal portugal ini pernah bermain di Manchester United dan Real Madrid ialah Cristiano Ronaldo. Sempat hengkang dari Real Madrid pada 2018 lalu membuat Zinedine Zidan pelatih Real Madrid juga beristirahat dari bangku pelatih di Real Madrid karna kepergian Ronaldo dari Real Madrid juga membuat zidan beristirahat sementara.

Rencana PSG Ingin Menduetkan Ronaldo dengan Mbappe Gagal

Rencana PSG Ingin Menduetkan Ronaldo dengan Mbappe Gagal

Hingga pada akhir nya dengan rasa sayang nya zidan kepada Real Madrid zidan kembali melatih hingga saat ini dan sudah membawa 2 piala bergengsi.

Cristiano Ronaldo hengkang ke Juventus dikarenakan komunikasi dengan tim nya kurang baik dan itu membuat Cristiano Ronaldo tidak nyaman dan memilih untuk hengkang.

Dan pada saat Cristiano Ronaldo tiba di Juventus dan bermain untuk Juventus untuk beberapa pekan Cristiano Ronaldo dianggap juga kurang nyaman di Juventus sehingga membuat Cristiano ingin hengkang ke PSG karna Ronaldo tertarik berduet dengan pemain muda asal Prancis Kylian Mbappe dan Neymar.

Tetapi dengan adannya pandemi Covid 19 ini membuat PSG tidak bisa merealisasikan kemauan Ronaldo untuk bermain dengan Mbappe dan Neymar dikarenakan ekonomi dari PSG yang surut dan tidak bisa untuk membeli pemain bintang asal Portugal tersebut.

Pandangan Berbeda Legenda Hidup Brazil tentang CR7 dan Neymar

Pandangan Berbeda Legenda Hidup Brazil tentang CR7 dan Neymar – Pele menyanjung Cristiano Ronaldo sebagai “atlet modern” setelah penyerang Juventus itu membawa klubnya meraih gelar Serie A musim ini. Itu merupakan kali kedua Ronaldo menjuarai kompetisi tertinggi Italia, selagi itu menjadi kali kesembilan beruntun buat Si Nyonya Tua.

Pandangan Berbeda Legenda Hidup Brazil tentang CR7 dan Neymar

Pandangan Berbeda Legenda Hidup Brazil tentang CR7 dan Neymar

Kehadiran Ronaldo pada musim panas 2018 lalu membantu klub asal Turin itu mempertahankan dominasinya, dengan pemenang Ballon d’Or lima kali itu belum menunjukkan tanda-tanda penurunan di usianya yang sudah menginjak 35 tahun.

Dia mengaku senang untuk melihat profesionalisme dan dedikasi Ronaldo yang luar biasa sebagaimana ia meraih trofi secara reguler.

Berbeda hal dengan Neymar, Pele, menyebut Neymar sebagai pemain terbaik dunia saat ini. Menurut Pele, Neymar lebih baik daripada Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.

Akan tetapi, Pele punya pandangan berbeda mengenai pemain terbaik dunia. Sang legenda menyebut nama pemain termahal dunia, Neymar, sebagai pesepak bola terbaik.

Neymar telah mengubah gaya bermain untuk timnas Brasil. Bersama klub, dia bermain di sayap kiri, sementara dia menjadi nomor 10 tradisional ketika memperkuat timnas Brasil. Hal itu sulit dilakukan,” kata Pele di situs resmi FIFA.

Apabila melihat seluruh dunia, pemain terhebat adalah Ronaldo dan Neymar, tidak ada yang lain. Neymar bermain dalam taktik berbeda bersama klub dan timnas, dia mempersiapkan diri untuk itu. Hal itu membuat Neymar menjadi pemain terbaik dunia saat ini,” lanjutnya.

Dan Pele sangat yakin kalau Neymar bisa menjadi pemain terbaik dunia setelah lepas dari bayang-bayang Lionel Messi.

Saat ini pemain terbaik di Brasil adalah Neymar dan saya pikir kepindahan sangat bagus untuk dia, karena ada kompetisi besar dengan Messi di Barcelona,” kata Pele seperti dilansir Marca.

Menurut Pele, Neymar berpotensi mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan seragam PSG. Neymar juga dianggap tidak perlu lagi berada di bawah bayang-bayang Lionel Messi, pemain terbaik dunia 6 kali.

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus – Juventus scudetto lagi. Lagi..lagi dan lagi, jika perlu sebutkan kata ini sebanyak sembilan kali. Dinihari tadi waktu Indonesia meski kalah dalam pertandingan “hiburan” dari AS Roma 1-3 di J Stadium, tetapi perayaan scudetto Juventus tetap meriah. Sesusai pertandingan, satu persatu pemain Juventus yang mengenakan kostum baru untuk musim 2020/2021, diteriakan namanya oleh announcer, menuju balkon dan diberikan medali dan piala untuk perayaan scudetto ke-38 dalam sejarah klub.

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Dan ketika sang il capitano, Giorgio Chiellini mengangkat piala, para pemain tersenyum bahagia, berteriak, bernyanyi bersama merayakan gelar scudetto mereka yang diraih selama sembilan kali secara beruntun. Raihan prestasi yang menjadi rekor terbaik di lima liga top Eropa. Ah, bosan. Pasti Juventini akan klepek-klepek bahagia membaca dua tiga paragaraf di atas. Dan sebaliknya untuk Internisti, Romanisti atau Napoletano, kemenangan Juventus ibarat sebuah penyakit yang menahun dan lama sekali sembuhnya.

Akhirnya, para fans fanatik hanya menghibur diri dengan menyebutkan bahwa syukur bisa jadi runner-up, beda satu poin, syukur bisa lolos ke Eropa musim depan, ini sudah yang terbaik yang bisa dilakukan dan sebagainya. Nah, sebagai pengamat Seri A amatir, saya juga merasakan hal yang sama, lalu seperti bertanya. Akan tetapi sebagai mahkluk yang mencintai sepak bola, saya tahu bahwa jangan sampai pernah kehilangan harapan. Minimal harapan untuk melihat ada juara baru musim depan, dalam kata lain harapan itu jangan punah.

Memang akan menuju kepunahan, jikalau Juventus akhirnya kembali menjadi scudetto lagi musim depan yang berarti untuk kesepuluh kali yang beruntun, ke-39, dan mendekati gelar keempat puluh, berbintang empat di kaos mereka ketika bintang dua saja mungkin perlu dua atau tiga dekade menggapainya. Jangan pernah kehilangan harapan, karena jika kehilangan harapan maka kemungkinan Seri A akan tinggal kenangan dan berganti nama menjadi Seri J, Juventus. Lalu apa yang perlu dilakukan oleh klub pesaing agar dapat menggagalkan lahirnya Seri J untuk menggantikan Seri A.

Saya pikir langkah yang dilakukan Inter Milan musim ini patut dicontoh. Musim depan, jika tidak kehilangan para pemain bintang secara masif seperti Lautarao Martinez, Skriniar atau mungkin juga Christian Eriksen, maka Inter Milan berpeluang besar menjadi scudetto. Langkah strategis sudah dilakukan tim biru hitam musim ini. Salah satu langkah cerdik adalah dengan memboyong para persona yang memiliki darah pemenang Juventus ke Giuseppe Meazza. Diantaranya, juru transfer Beppe Marrota, dan sang allenatore, Antonio Conte.

Sang pemilik baru asal China, Steven Zhang sepertinya mengerti benar filosofi mengalahkan Juventus yaitu berpikir seperti Juventus. Berpikir mengalirkan mental pemenang ke anak-anak biru hitam agar haus dan dahaga juara seperti La Vechia Signora. Caranya adalah dengan melakukan transfer secara cerdas dengan mendatangkan pemain yang cocok dengan keinginan pelatih serta mendatangkan pelatih yang bermental pemenang seperti Antonio Conte. Hasilnya mujarab. Inter dapat dikatakan tampil luar biasa musim ini, menjadi tim yang menempel ketat Juventus di pucuk klasemen hingga giornata terakhir, serta menjadi tim yang memiliki karakter tangguh dengan pertahanan yang paling solid dan penyerang yang tajam.

Internisti sudah bermimpi agar Inter menjadi scudetto musim ini, namun menurut saya terlalu premature harapan atau mimpi itu, perlu panjang sabar. Mengalahkan superioritas Juventus yang sudah meraih gelar kedelapan kali secara beruntun tentu tidak mudah. Menurut saya, Inter butuh satu musim untuk beradaptasi menjadi pemenang, lalu musim depan menjadi scudetto. Artinya musim depan Inter scudetto? Jika arah angin tak berubah, maka sangat mungkin. Cara seperti ini sebenarnya sudah coba dilakukan oleh De Laurentius, bos besar Napoli. Dia merekrut Carlo Ancelotti sebagai pelatih Napoli ketika merasa komposisi pemainnya sudah bisa bersaing dengan Juventus.

Sayang di tengah jalan, Ancelotti dan Laurentius berseteru dan akhirnya Napoli harus seperti restart dari nol lagi ketika mendatangkan Gennaro Gattuso sebagai pelatih. De Laurentius memuja muji Gatusso tapi hati kecilnya tahu, untuk bersaing dengan Juventus, itu tak cukup. Akhirnya, Inter hanya menjadi peserta Liga Eropa musim depan, dan bersiap kehilangan pemain bintang yang ingin tampil di Liga Champions seperti Koulibaly atau Arkadiuz Milik. Soal AS Roma, ini kasusnya berat. Mereka kehilangan semangat karena belum menemukan investor yang kaya seperti Inter Milan dan Juventus. Tanpa uang yang melimpah dan berharap hanya kepada pemain muda berpotensi seperti Zaniolo.

Roma tak akan bisa berbuat banyak. Kecuali, ada pengusaha China yang mau mengakuisisi Roma. Itu tentu doa utama Romanisti menyambut musim depan. Saudar sekota Roma, yakni Lazio musim depan nampaknya akan seperti musim ini. Berlari cepat, bernafsu tetapi kehabisan bensin mendekati akhir musim. Kedalaman skuad yang tak dalam memang hanya bisa membuat mereka berjalan seperti ini dan cukup mensyukuri berada di posisi keempat di bawah tim penuh kejutan musim ini, Atalanta.

Lazio nampaknya sudah cukup bersukacita ketika Ciro Immobile berhasil meraih Golden Boot Eropa, dan berharap pemain kunci mereka seperti Milinkovic Savic, Luis Alberto tidak tergoda untuk keluar dari klub atau mengikuti jejak Immobile yang diincar Everton dengan Carlo Ancelotti-nya. Jika para pemain bintang ini hengkan, elang biru tidak akan terbang jauh lagi musim depan. Apakah ini berarti jika hal-hal yang menjadi kelemahan klub pesaing mampu diperbaiki, maka Juventus tidak akan menjadi scudetto lagi.

Ahaa, ini pertanyaan yang sulit, sangat sulit. Andrea Agnelli, presiden Juventus nampaknya bukan orang yang cepat puas, nafsunya tinggi–mungkin karena masih muda. Bagi Agnelli, scudetto sedari awal sudah masuk dalam prioritas utama, setara dengan target untuk kembali menjadi juara Liga Champions. Makanya ketika Juventus menang atas Sampdoria dan memastikan meraih gelar Scudetto mereka, Agnelli nampak melompat kegirangan dan memeluk erat direktu Pavel Nedved dan juru transfer, Fabio Paratici.

Artinya, jika masih sehaus sekarang untuk Scudetto yang sebenarnya sudah kekenyangan, Juventus tentu akan terus mengejar gelar juara dan memperkuat skuad mereka. Kecuali, jika akhirnya Agnelli musim depan menempatkan Seri A sebagai prioritas kedua, dan mengutamakan Liga Champions, artinya dia akan menginstruksikan secara khusus untuk melepas Seri A demi gelar Eropa.

Seri A musim depan patut ditunggu. Prediksi saya kompetisi akan semakin seru. Inter Milan tetap akan menjadi pesaing utama Juventus dengan gangguan signifikan dari klub seperti Napoli, Lazio dan Roma. Oh, bagaimana Atalanta? Klub ini spesial, tapi bukan klub besar. Perlu ditunggu konsistensinya di kompetisi panjang seperti Seri A, baru dapat diperhitungkan lagi.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020 – Jujur saja pertandingan ini berjalan unik. Meski tetap menyajikan kualitas, namun di beberapa momen terlihat seperti drama Korea. Dimulai dari Arsenal yang kebobolan terlebih dahulu lewat kombinasi ciamik Olivier Giroud dan Christian Pulisic. Nama terakhir berhasil menjebol gawang Emiliano Martinez. Menariknya, laga ini menjadi duel head to head antara dua penjaga gawang beda generasi dari negara yang sama, Argentina. Mereka adalah Martinez dan William Caballero.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Arsenal memasang Martinez, karena kiper utama mereka Bernd Leno cedera. Sedangkan Chelsea memasang Willy Caballero, karena kiper utama mereka Kepa Arrizabalaga seperti sedang mendapatkan mosi tidak percaya. Bukannya tanpa respek, namun keberadaan Caballero juga tak sepenuhnya akan menjamin ketenangan. Caballero terkadang terlalu irit dalam bergerak dan kurang cepat dalam merespon tendangan lawan. Namun, ada satu hal kelebihan Caballero sebagai kiper senior di Premier League, yaitu kemampuannya mengalirkan bola dari belakang ke depan. Hal ini juga diperlihatkan pada final di Wembley.

Hanya, sayangnya lini depan Chelsea kurang bagus dalam bertransisi. Termasuk kurang efektif dalam berupaya menyerang balik ke pertahanan Arsenal. Selain duel kedua kiper itu, laga ini juga dihiasi dengan duel “sang mantan”. Menariknya, dua pemain yang dimaksud juga sering berduel hingga di area tengah lapangan. Mereka adalah David Luiz dan Olivier Giroud. David Luiz adalah mantan bek andalan Chelsea yang harus tersisih dari skuad The Blues, karena faktor umur. Sedangkan Giroud tersisih karena Arsenal berhasil mendatangkan Pierre-Emerick Aubameyang.

Meski sama-sama berawal dari kisah terbuang, namun keduanya mampu memperlihatkan tren performa yang bagus menjelang akhir musim 2019/20. Giroud sering mencetak gol ketika menjadi starting eleven, sedangkan Luiz mulai mampu menjaga pertahanan Arsenal dengan lebih baik. Hasilnya pun cukup oke, karena Giroud mencetak asis sedangkan Luiz mampu mempertahankan skor tetap 2-1 sampai dirinya ditarik keluar pada menit 80-an. Secara kolektif pun Luiz dapat keluar dari Wembley Stadium dengan senyum gembira.

Juaranya Arsenal di Piala FA memang bisa dikatakan cukup mengejutkan. Karena secara statistik, performa mereka baik di liga dan Piala FA tidak begitu bagus jika dibandingkan Chelsea. Bahkan, aura kemenangan Chelsea sudah cukup terasa ketika skuad asal London Barat itu mampu memulai pertandingan dengan baik. Ditambah dengan adanya gol cepat Pulisic sebagai penegas. Hanya, yang membuat Chelsea menjadi tidak lebih baik dari Arsenal adalah mereka mudah terbawa ritme permainan lawan. Mereka tidak mampu membuat tekanan yang sama seperti yang dilakukan di 10 menit awal.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa momen ketika Arsenal keluar menyerang dan menguasai bola. Barisan pemain Chelsea menjaga pertahanan terlalu dalam, sedangkan mereka tidak memasang pemain cepat di depan. Jika dibandingkan, antara pemain Arsenal dengan Chelsea memiliki karakteristik berbeda. Arsenal memasang tiga pemain cepat dan penuh akselerasi di depan, yaitu Aubameyang, Alexandre Lacazette, dan Nicolas Pepe. Sedangkan Chelsea menaruh dua pemain cepat dengan adanya Pulisic dan Mason Mount. Namun, secara akselerasi dan intensitas, hanya Pulisic yang dapat diandalkan.

Sedangkan Mount lebih ke pengisi ruang di sayap agar dapat membongkar trio Rob Holding, Luiz, dan Kieran Tierney. Jika strategi ini berjalan lancar, maka situasinya akan menguntungkan bagi Giroud, karena ia akan hanya bertarung dengan satu atau dua pemain saja di dalam kotak penalti. Gambarannya kurang lebih seperti ketika Chelsea bisa mencetak gol. Namun, pasca Arsenal menemukan ritme, ditambah dengan keberhasilan mereka mencetak gol penyama kedudukan lewat eksekusi penalti Aubameyang. Chelsea seperti belum bisa bangkit.

Nahasnya, drama kembali muncul bagi Chelsea ketika sang kapten, Cesar Azpilicueta harus keluar karena cedera hamstring. Keluarnya sang kapten seperti membuat Chelsea bermain seperti kurang jelas, antara yakin menguasai permainan atau fokus bertahan. Mereka kurang pasokan pemain berpengalaman di posisi yang sedang ditempati oleh kekuatan terbaik Arsenal, yaitu sisi kiri lapangan. Sisi itu diisi Maitland-Niles, Kieran Tierney, dan Aubameyang. Keluarnya Azpilicueta membuat Chelsea perlu segera kembali menyerang khususnya ketika babak kedua dimulai. Namun, kesialan kembali menimpa Chelsea karena Pulisic harus mengalami nasib yang persis dengan Azpilicueta.

Cedera hamstring menimpa pemain asal Amerika Serikat itu karena diduga dia terlalu cepat untuk berakselerasi ketika otot-ototnya belum kembali siap pasca jeda babak pertama. Musibah ini jelas mengubah peruntungan bagi kedua tim, dan Arsenal menjadi semakin percaya diri. Skuad asuhan Mikel Arteta memang tidak sepenuhnya dominan, namun mereka cukup mampu memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjadi keuntungan. Satu hal yang paling penting untuk menjadi sorotan dari permainan Arsenal adalah kengototan saat membangun serangan.

Mereka benar-benar seperti badai yang cepat meruntuhkan pertahanan Chelsea yang sedang galau karena kehilangan figur leader. Praktis, pemain yang paling berusaha mengambil tanggung jawab di lini belakang adalah Andreas Christensen. Pemain yang masuk menggantikan Azpilicueta itu terus berupaya menghalau serangan sporadis Arsenal. Salah satunya adalah ketika serangan cepat The Gunners diprakarsai oleh Hector Bellerin. Pemain asal Spanyol itu berhasil menerobos pertahanan Chelsea dan membuat Christensen harus menyapu laju Bellerin. Bola sebenarnya berhasil disentuh oleh kakinya, namun bola itu masih dijangkau oleh pemain Arsenal dan sampai pula ke kaki Aubameyang.

Lewat sedikit tekukan, Auba berhasil mencetak gol keduanya sekaligus membawa Arsenal berbalik unggul. Sungguh mengecewakan bagi penggemar Chelsea jika melihat timnya terpedaya oleh strategi permainan pragmatis Arsenal. Namun, begitulah sepak bola, mereka juga memiliki dramanya di atas lapangan. Termasuk dengan adanya kartu merah yang keluar dari saku wasit Anthony Taylor. Kartu merah itu menjadi penyebab keempat bagi kenahasan Chelsea selain cederanya Azpilicueta, Pulisic, dan taktik Arsenal. Ketika kartu kuning kedua diterima Mateo Kovacic, praktis Chelsea harus mengambil banyak risiko, dan itu memang dilakukan Frank Lampard.

Manajer asal Inggris itu memasukkan banyak pemain bertipikal menyerang dengan adanya Pedro, Hudson-Odoi, Ross Barkley, dan Tammy Abraham. Namun, sayangnya Pedro juga harus mengalami cedera. Pemain asal Spanyol itu sebenarnya mampu membuat Chelsea menaruh harapan. Ditambah dengan posisi bermainnya yang cederung fleksibel, maka pemain Arsenal akan sulit menaruh fokus pada pergerakan Pedro. Walau demikian, di balik kemenangan mereka, Arsenal tetap harus sadar bahwa mereka tidak sepenuhnya bagus dalam mengorganisir permainan. Dalam beberapa momen, terlihat mereka masih kurang efektif dalam menyerang, termasuk masih adanya kegugupan ketika menguasai bola di area pertahanan sendiri.

Beruntung, mereka menghadapi Chelsea yang kurang total dalam bermain, akibat kurangnya plan termasuk ketidakberuntungan yang di luar prediksi Lampard tentunya. Namun, dengan hasil ini Arsenal berhak kembali ke pentas Liga Eropa musim depan dan berharap dapat mencapai hasil yang lebih baik dari musim ini. Sedangkan bagi Chelsea, kekalahan ini tidak sepenuhnya buruk untuk reputasi mereka dan Frank Lampard. Mereka masih mampu menguasai permainan, bahkan tidak terbantai meski kehilangan 2 pemain di lapangan.

Itu artinya jika terjadi duel di musim depan antara Lampard dengan Arteta, bisa saja hasilnya dapat berbeda. Jadi, tetap semangat Chelsea! Coba lagi musim depan. Untuk Arsenal, selamat ya sudah menyelamatkan musim yang penuh drama ini dengan trofi Piala FA yang juga diraih dengan banyak drama. Semoga musim depan bisa lebih baik lagi.

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang – Liga Spanyol musim 2019/20 sudah menyelesaikan seluruh tugasnya. Liga Santander menghasilkan Real Madrid sebagai juaranya. Ini adalah gelar ke 34 kali yang dicapai tim yang yang dijuluki Los Blancos itu di Liga Spanyol. Pasukan Zinedine Zidane itu pada akhirnya mengumpulkan 87 poin. Sedangkan tiga tim harus turun kasta ke Segunda Division yaitu Leganes, Real Mallorca, dan Espanyol.

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

Tuntasnya perhelatan itu meninggalkan sejumlah catatan menarik, di antaranya dari kiprah para pemain Asia yang berlaga di Liga Spanyol. La Liga diisi oleh sejumlah pemain “top” seperti Lionel Messi, Luis Suarez, Karim Benzema, dsb. Tiga pesepakbola yang berasal dari Asia di Liga Santander musim ini, mereka diwajibkan bersaing dengan deretan para pemain hebat tersebut. Mereka adalah Takefusa Kubo (19 tahun) yang bermain untuk RCD Mallorca, sebagai status pinjaman dari Real Madrid.

Pemain yang dijuluki “Messi Jepang” ini sebenarnya mendapatkan gemblengan di masa yuniornya di Akademi La Masia milik Barcelona pada 2011-2015. Sempat membela Barca yunior, karena aturan FIFA, Kubo tidak bisa melanjutkan kariernya di Blaugrana. Dia pun pulang ke negaranya dan bergabung dengan FC Tokyo. Sejak kecil di negeri Matador, Kubo menjadi fasih berbahasa Spanyol. Pada awal musim tahun lalu, Real Madrid membeli Kubo dan mengontraknya lima tahun.

Belum sempat bermain untuk Los Blancos, “Messi Jepang” dipinjamkan ke Real Mallorca. Di sinilah Kubo memulai debut perdananya di level senior Liga Spanyol. Messi Jepang mencetak 4 gol dan 5 assist dari 35 kali penampilan. Namun performanya yang cukup mengesankan, tak mampu menolong tim yang dibelanya. Mallorca bertengger di posisi ke 19 klasemen akhir La Liga dan degradasi ke Segunda Division. Pemain Jepang lainnya yang bermain di La Liga (Smart Bank) adalah Shinji Okazaki (34 tahun).

Okazaki sebenarnya adalah milik Leicester City. Okazaki merupakan bagian penting dari tim Liga Inggris itu ketika pada musim 2015/16, mereka secara mengejutkan keluar sebagai juara Premier League. Dari 36 kali main bersama “Si Rubah”, Okazaki mencetak lima gol. Di saat itulah, namanya muncul ke permukaan. Setelah “dibuang” Leicester ke Malaga. Hanya dua bulan di klub itu, Okazaki dipinjamkan ke SD Huesca. SD Huesca merasa beruntung karena Okazaki dipinjamkan dengan status bebas transfer.

Keuntungan lain yang diperoleh Huesca adalah kini mereka untuk kedua kalinya naik lagi ke kasta tertinggi Liga Spanyol pada musim 2020/2021. Kali pertama sejak didirikan tahun 1960, Huesca bermain di Liga Santander pada musim 2017/18. Okazaki ternyata tidak mengecewakan para pendukung Huesca. Tampil impresif, dia menjadi bintang di tim itu sekaligus menjadi top skorer dengan catatan 12 gol. Dengan demikian, Huesca bukan saja promosi ke La Liga musim depan menyusul Cadiz CF yang sudah terlebih dahulu memastikan promosi. Tetapi mereka juga juara Liga Smart Bank.

Melihat penampilan Si Mesin Gol ini, tak pelak nampaknya, Huesca akan memperpanjang kontraknya. Pemain ketiga Asia yang merumput di Liga Spanyol adalah “Maradona Cina” Wu Lei. Top skorer Liga Cina baru keluar dari “sarang naga” ketika bermain untuk Espanyol. Kontribusi Wu Lei dengan status debutan di benua biru terbilang cukup baik. Sayang, penampilan impresif nya tidak menolong timnya untuk tetap berada di La Liga musim 2020/21.

Dari 49 kali penampilannya di semua kompetisi dia menjadi top skorer klub dengan 8 gol. Espanyol berada di posisi paling bawah (20) dengan perolehan 25 poin. Wu Lei menjadi sensasional ketika dia menggagalkan kemenangan Barcelona dalam putaran pertama La Liga pada 5 Januari lalu. Barcelona nampaknya saat itu bakal memetik tiga poin penuh. Mereka sudah unggul 2-1 hingga menit-menit akhir pertandingan. Akan tetapi gol dari Wu Lei di menit terakhir (88) menggagalkan kemenangan mereka. Skor akhir menjadi imbang 2-2. Laga itu digelar di Stadion Cornella El Prat.

Wu Lei terpilih menjadi punggawa terbaik di Liga Spanyol musim 2019/20. Itulah tiga punggawa terbaik Asia yang merumput di Liga Spanyol musim yang baru saja usai, yang dirilis oleh pihak La Liga. Sejauh ini AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mencatat ada 36 punggawa Asia sepanjang sejarah yang sedang atau pernah merumput di Liga Spanyol.

Apa Arti Manager of The Year bagi Juergen Klopp pada Kompetisi Liga Inggris

Apa Arti Manager of The Year bagi Juergen Klopp pada Kompetisi Liga Inggris – Manager of The Year atau Manajer Terbaik Tahun Ini versi Asosiasi Manajer Liga Inggris (LMA) diraih oleh Jurgen Klopp, setelah ia sukses membawa Liverpool menjuarai Premier League dan berhak atas Piala Sir Alex Ferguson. Klopp berhasil mengakhiri puasa gelar Liverpool yang telah menunggu selama 30 tahun meraih Trofi Premier League.

Apa Arti Manager of The Year bagi Juergen Klopp pada Kompetisi Liga Inggris

Apa Arti Manager of The Year bagi Juergen Klopp pada Kompetisi Liga Inggris

Prestasi menjadi Manajer Terbaik Liga Inggris ini memiliki arti sangat penting baginya. Dia juga sebagai pelatih Jerman pertama yang berhasil meraih trofi juara kompetisi level atas di Inggris. Apa yang diraihnya itu juga sekaligus menjadi tantangan untuk perjalanan karirnya di masa depan. Bos Liverpool ini diumumkan sebagai penerima penghargaan bergengsi 2019-20 pada hari Senin, setelah membimbing Liverpool ke rekor klub meraih 99 poin di papan atas pada kompetisi Premier League musim ini.

Saya sangat senang mendapatkan piala yang luar biasa ini. Ini benar-benar luar biasa dan saya sudah memiliki kesempatan untuk melihat siapa yang memenangkannya sebelumnya dan jelas ada banyak nama besar Liverpool yang terlibat, “kata Klopp seperti dirilis oleh situs resmi klub, Liverpoolfc. Memang benar ada nama-nama besar lainnya yang berhasil meraih gelar ini sebelum Jurgen Klopp. Nama-nama besar di Liverpool seperti Bill Shankly, Bob Paisley, Joe Fagan, dan Kenny Dalglish yang namanya terpahat di trofi itu. Demikian pula Brendan Rodgers juga memenangkannya.

Pada kontestasi tahun ini Jurgen Klopp mengalahkan Marcelo Bielsa yang mengantar Leeds United menjuarai divisi Championship dan manajer Wycombe Gareth Ainsworth untuk mendapat anugerah pelatih terbaik versi LMA yang bertajuk nama mantan manajer Manchester United. Untuk mendapatkan penghargaan tersebut, Klopp dinilai jauh lebih fantastis dibandingkan pesaingnya, Marcelo Bielsa.

Manajer Liverpool asal Jerman ini berhasil mewujudkan penantian panjang klub selama 30 tahun sedangkan Bielsa berhasil membawa kembali Leed United ke Premier League setelah 16 tahun. Jurgen, fantastis. Kita berbicara soal Leeds berada 16 tahun di Championship, tetapi Liverpool 30 tahun setelah menjadi juara, luar biasa,” kata Alex Ferguson seperti dilansir Skysports. Menurut Sir Alex, Jurgen Klopp sangat pantas mendapatkannya, dan level performa tim asuhannya juga luar biasa.

Kepribadian Klopp terlihat jelas berpengaruh nyata terhadap klub. Itu adalah performa yang sangat bagus bagi The Reds. Mendapat penghargaan bergengsi untuk manajer di Inggris tersebut, Klopp pun mengaku senang dan sangat bangga meraih piala yang dinamakan Piala Sir Alex Ferguson. Pasti nama Alex Ferguson bukan sebagai manajer Liverpool. Tetapi Klopp tetap sangat mengaguminya. Dia adalah manajer Inggris pertama yang pernah ditemui dan melakukan sarapan bersama.

Itu sudah lama sekali dan saya tidak yakin apakah dia masih mengingatnya, tetapi saya mengingatnya selamanya karena itu untuk saya pada saat ini seperti bertemu Paus jika Anda mau.” Demikian kata Klopp seperti dilansir Liverpoolfc. Jurgen Klopp sudah menunjukkan dan menganggap begitu pentingnya arti dari keberhasilannya meraih Piala Alex Ferguson tersebut. Apalagi di sana ada nama-nama besar Liverpool seperti Bill Shankly, Bob Paisley, Joe Fagan, Kenny Dalglish dan Brendan Rodgers, yang terukir dalam piala tersebut.

Jurgen Klopp sangat berterima kasih kepada banyak orang. Terutama kepada mereka yang telah bekerja sama dengan penuh dedikasi dan professional. Pep Lijnders, Peter Krawietz, John Achterberg, Vitor Matos, dan Jack Robinson, adalah nama-nama penting bagi Jurgen Klopp di Pusat Pelatihan Melwood. Mereka adalah skuad pelatih yang luar biasa yang telah menghasilkan karya besar untuk mewujudkan impian The Reds yang tertunda selama 30 tahun. Selamat untuk Jurgen Klopp dan jajaran tim pelatih The Reds Liverpool yang luar biasa.

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis – Timnas Indonesia pernah mendapat julukan macan asia papada era 50 an dimana pada saat itu timnas Indonesia mendapat medali perunggu Asian Games. Sejak saat itu timnas negara lain ingin melakukan uji coba dengan Indonesia termasuk legenda-legenda dunia seperti Pele, Maradona dan lainnya. Tetapi pada saat ini timnas Indonesia mengalami penurunan prestasi terutama pada level senior serta peringkat dunia FIFA yang sekarang berada pada 173.

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Timnas Indonesia yang Muda dan Dinamis

Tentunya penurunan peringkat ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk PSSI agar dapat meningkatkan prestasi timnas Indonesia. Pelatih silih berganti masuk ke timnas Indonesia tetapi itu tidak lama dari asing sampai dengan lokal. Banyak program yang dilakukan oleh PSSI dalam meningkatkan kemampuan pemain muda Indonesia dari program primavera, baretti, SAD, Garuda Select dan lainnya. PSSI berharap dengan program ini timbul regenerasi pemain Indonesia yang lebih baik dan berkualitas. Dari program ini Indonesia sudah banyak mendapatkan bibit-bibit yang berkualitas dan berkompetisi di luar negeri tetapi minim mendapatkan kesempatan di level senior.

Saat ini dibawah pelatih Shin Tae Yong pemain muda diberi kesempatan unjuk kemampuan di level senior. Hal ini dapat terlihat dari pemain-pemain yang dipanggil oleh Shin Tae Yong yang rata-rata berusia muda dan meninggalkan beberapa pemain senior yang menjadi langganan timmnas Indonesia. Selain itu, Shin Tae Yong mengindikasikan bahwa fisik timnas Indonesia menjadi sumber permasalahan selama ini dan tidak cukup untuk bermain selama 90 menit. Kombinasi pemain muda dan senior ini tentunya menjadi asa bagi masyarakat Indonesia untuk berprestasi dan memberikan kejutan terhadap timnas lain seperti halnya Korea Selatan.

Untuk menjadikan timnas Indonesia yang kuat dan berprestasi tentunya tidak instan dan harus berkelanjutan. Proses ini harus ada komitmen dari PSSI dalam meningkatkan fasilitas yang memadai untuk timnas Indonesia seperti negara-negara lain. Selain itu, PSSI harus membuat aturan tentang pemberdayaan sepakbola dari umur terkecil agar mendapatkan bibit-bibit sepakbola yang berkualitas.

Pemain-pemain muda dapat menjadi motor kebangkitan timnas seperti Jerman, Prancis, Italia, Inggris dan lainnya. Semua negara ini menjadikan pemain muda sebagai pilar timnas dan di kombinasikan pemain senior walaupun pada awalnya tidak menunjukkan prestasi yang mengesankan.

Semoga kombinasi pemain muda yang menghiasi timnas Indonesia saat ini dapat menunjukkan prestasi yang lebih baik dan PSSI harus tetap mengontrak pelatih Shin Tae Yong walaupun nantinya hasil dicapai belum memuaskan. Keberhasilan dan kesuksesan tidak diraih dengan instan, sebagai contoh pelatih Jerman Joachim Low yang tetap dipertahankan walaupun pencapaian awalnya menggunakan pemain muda belum sesuai ekspektasi sebagai tim besar tetapi PSSI nya Jerman tetap mempercayai hingga kini.