Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020 – Jujur saja pertandingan ini berjalan unik. Meski tetap menyajikan kualitas, namun di beberapa momen terlihat seperti drama Korea. Dimulai dari Arsenal yang kebobolan terlebih dahulu lewat kombinasi ciamik Olivier Giroud dan Christian Pulisic. Nama terakhir berhasil menjebol gawang Emiliano Martinez. Menariknya, laga ini menjadi duel head to head antara dua penjaga gawang beda generasi dari negara yang sama, Argentina. Mereka adalah Martinez dan William Caballero.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Arsenal memasang Martinez, karena kiper utama mereka Bernd Leno cedera. Sedangkan Chelsea memasang Willy Caballero, karena kiper utama mereka Kepa Arrizabalaga seperti sedang mendapatkan mosi tidak percaya. Bukannya tanpa respek, namun keberadaan Caballero juga tak sepenuhnya akan menjamin ketenangan. Caballero terkadang terlalu irit dalam bergerak dan kurang cepat dalam merespon tendangan lawan. Namun, ada satu hal kelebihan Caballero sebagai kiper senior di Premier League, yaitu kemampuannya mengalirkan bola dari belakang ke depan. Hal ini juga diperlihatkan pada final di Wembley.

Hanya, sayangnya lini depan Chelsea kurang bagus dalam bertransisi. Termasuk kurang efektif dalam berupaya menyerang balik ke pertahanan Arsenal. Selain duel kedua kiper itu, laga ini juga dihiasi dengan duel “sang mantan”. Menariknya, dua pemain yang dimaksud juga sering berduel hingga di area tengah lapangan. Mereka adalah David Luiz dan Olivier Giroud. David Luiz adalah mantan bek andalan Chelsea yang harus tersisih dari skuad The Blues, karena faktor umur. Sedangkan Giroud tersisih karena Arsenal berhasil mendatangkan Pierre-Emerick Aubameyang.

Meski sama-sama berawal dari kisah terbuang, namun keduanya mampu memperlihatkan tren performa yang bagus menjelang akhir musim 2019/20. Giroud sering mencetak gol ketika menjadi starting eleven, sedangkan Luiz mulai mampu menjaga pertahanan Arsenal dengan lebih baik. Hasilnya pun cukup oke, karena Giroud mencetak asis sedangkan Luiz mampu mempertahankan skor tetap 2-1 sampai dirinya ditarik keluar pada menit 80-an. Secara kolektif pun Luiz dapat keluar dari Wembley Stadium dengan senyum gembira.

Juaranya Arsenal di Piala FA memang bisa dikatakan cukup mengejutkan. Karena secara statistik, performa mereka baik di liga dan Piala FA tidak begitu bagus jika dibandingkan Chelsea. Bahkan, aura kemenangan Chelsea sudah cukup terasa ketika skuad asal London Barat itu mampu memulai pertandingan dengan baik. Ditambah dengan adanya gol cepat Pulisic sebagai penegas. Hanya, yang membuat Chelsea menjadi tidak lebih baik dari Arsenal adalah mereka mudah terbawa ritme permainan lawan. Mereka tidak mampu membuat tekanan yang sama seperti yang dilakukan di 10 menit awal.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa momen ketika Arsenal keluar menyerang dan menguasai bola. Barisan pemain Chelsea menjaga pertahanan terlalu dalam, sedangkan mereka tidak memasang pemain cepat di depan. Jika dibandingkan, antara pemain Arsenal dengan Chelsea memiliki karakteristik berbeda. Arsenal memasang tiga pemain cepat dan penuh akselerasi di depan, yaitu Aubameyang, Alexandre Lacazette, dan Nicolas Pepe. Sedangkan Chelsea menaruh dua pemain cepat dengan adanya Pulisic dan Mason Mount. Namun, secara akselerasi dan intensitas, hanya Pulisic yang dapat diandalkan.

Sedangkan Mount lebih ke pengisi ruang di sayap agar dapat membongkar trio Rob Holding, Luiz, dan Kieran Tierney. Jika strategi ini berjalan lancar, maka situasinya akan menguntungkan bagi Giroud, karena ia akan hanya bertarung dengan satu atau dua pemain saja di dalam kotak penalti. Gambarannya kurang lebih seperti ketika Chelsea bisa mencetak gol. Namun, pasca Arsenal menemukan ritme, ditambah dengan keberhasilan mereka mencetak gol penyama kedudukan lewat eksekusi penalti Aubameyang. Chelsea seperti belum bisa bangkit.

Nahasnya, drama kembali muncul bagi Chelsea ketika sang kapten, Cesar Azpilicueta harus keluar karena cedera hamstring. Keluarnya sang kapten seperti membuat Chelsea bermain seperti kurang jelas, antara yakin menguasai permainan atau fokus bertahan. Mereka kurang pasokan pemain berpengalaman di posisi yang sedang ditempati oleh kekuatan terbaik Arsenal, yaitu sisi kiri lapangan. Sisi itu diisi Maitland-Niles, Kieran Tierney, dan Aubameyang. Keluarnya Azpilicueta membuat Chelsea perlu segera kembali menyerang khususnya ketika babak kedua dimulai. Namun, kesialan kembali menimpa Chelsea karena Pulisic harus mengalami nasib yang persis dengan Azpilicueta.

Cedera hamstring menimpa pemain asal Amerika Serikat itu karena diduga dia terlalu cepat untuk berakselerasi ketika otot-ototnya belum kembali siap pasca jeda babak pertama. Musibah ini jelas mengubah peruntungan bagi kedua tim, dan Arsenal menjadi semakin percaya diri. Skuad asuhan Mikel Arteta memang tidak sepenuhnya dominan, namun mereka cukup mampu memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjadi keuntungan. Satu hal yang paling penting untuk menjadi sorotan dari permainan Arsenal adalah kengototan saat membangun serangan.

Mereka benar-benar seperti badai yang cepat meruntuhkan pertahanan Chelsea yang sedang galau karena kehilangan figur leader. Praktis, pemain yang paling berusaha mengambil tanggung jawab di lini belakang adalah Andreas Christensen. Pemain yang masuk menggantikan Azpilicueta itu terus berupaya menghalau serangan sporadis Arsenal. Salah satunya adalah ketika serangan cepat The Gunners diprakarsai oleh Hector Bellerin. Pemain asal Spanyol itu berhasil menerobos pertahanan Chelsea dan membuat Christensen harus menyapu laju Bellerin. Bola sebenarnya berhasil disentuh oleh kakinya, namun bola itu masih dijangkau oleh pemain Arsenal dan sampai pula ke kaki Aubameyang.

Lewat sedikit tekukan, Auba berhasil mencetak gol keduanya sekaligus membawa Arsenal berbalik unggul. Sungguh mengecewakan bagi penggemar Chelsea jika melihat timnya terpedaya oleh strategi permainan pragmatis Arsenal. Namun, begitulah sepak bola, mereka juga memiliki dramanya di atas lapangan. Termasuk dengan adanya kartu merah yang keluar dari saku wasit Anthony Taylor. Kartu merah itu menjadi penyebab keempat bagi kenahasan Chelsea selain cederanya Azpilicueta, Pulisic, dan taktik Arsenal. Ketika kartu kuning kedua diterima Mateo Kovacic, praktis Chelsea harus mengambil banyak risiko, dan itu memang dilakukan Frank Lampard.

Manajer asal Inggris itu memasukkan banyak pemain bertipikal menyerang dengan adanya Pedro, Hudson-Odoi, Ross Barkley, dan Tammy Abraham. Namun, sayangnya Pedro juga harus mengalami cedera. Pemain asal Spanyol itu sebenarnya mampu membuat Chelsea menaruh harapan. Ditambah dengan posisi bermainnya yang cederung fleksibel, maka pemain Arsenal akan sulit menaruh fokus pada pergerakan Pedro. Walau demikian, di balik kemenangan mereka, Arsenal tetap harus sadar bahwa mereka tidak sepenuhnya bagus dalam mengorganisir permainan. Dalam beberapa momen, terlihat mereka masih kurang efektif dalam menyerang, termasuk masih adanya kegugupan ketika menguasai bola di area pertahanan sendiri.

Beruntung, mereka menghadapi Chelsea yang kurang total dalam bermain, akibat kurangnya plan termasuk ketidakberuntungan yang di luar prediksi Lampard tentunya. Namun, dengan hasil ini Arsenal berhak kembali ke pentas Liga Eropa musim depan dan berharap dapat mencapai hasil yang lebih baik dari musim ini. Sedangkan bagi Chelsea, kekalahan ini tidak sepenuhnya buruk untuk reputasi mereka dan Frank Lampard. Mereka masih mampu menguasai permainan, bahkan tidak terbantai meski kehilangan 2 pemain di lapangan.

Itu artinya jika terjadi duel di musim depan antara Lampard dengan Arteta, bisa saja hasilnya dapat berbeda. Jadi, tetap semangat Chelsea! Coba lagi musim depan. Untuk Arsenal, selamat ya sudah menyelamatkan musim yang penuh drama ini dengan trofi Piala FA yang juga diraih dengan banyak drama. Semoga musim depan bisa lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *