Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus – Juventus scudetto lagi. Lagi..lagi dan lagi, jika perlu sebutkan kata ini sebanyak sembilan kali. Dinihari tadi waktu Indonesia meski kalah dalam pertandingan “hiburan” dari AS Roma 1-3 di J Stadium, tetapi perayaan scudetto Juventus tetap meriah. Sesusai pertandingan, satu persatu pemain Juventus yang mengenakan kostum baru untuk musim 2020/2021, diteriakan namanya oleh announcer, menuju balkon dan diberikan medali dan piala untuk perayaan scudetto ke-38 dalam sejarah klub.

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Supaya Seri A Jangan Berubah Menjadi Seri J Juventus

Dan ketika sang il capitano, Giorgio Chiellini mengangkat piala, para pemain tersenyum bahagia, berteriak, bernyanyi bersama merayakan gelar scudetto mereka yang diraih selama sembilan kali secara beruntun. Raihan prestasi yang menjadi rekor terbaik di lima liga top Eropa. Ah, bosan. Pasti Juventini akan klepek-klepek bahagia membaca dua tiga paragaraf di atas. Dan sebaliknya untuk Internisti, Romanisti atau Napoletano, kemenangan Juventus ibarat sebuah penyakit yang menahun dan lama sekali sembuhnya.

Akhirnya, para fans fanatik hanya menghibur diri dengan menyebutkan bahwa syukur bisa jadi runner-up, beda satu poin, syukur bisa lolos ke Eropa musim depan, ini sudah yang terbaik yang bisa dilakukan dan sebagainya. Nah, sebagai pengamat Seri A amatir, saya juga merasakan hal yang sama, lalu seperti bertanya. Akan tetapi sebagai mahkluk yang mencintai sepak bola, saya tahu bahwa jangan sampai pernah kehilangan harapan. Minimal harapan untuk melihat ada juara baru musim depan, dalam kata lain harapan itu jangan punah.

Memang akan menuju kepunahan, jikalau Juventus akhirnya kembali menjadi scudetto lagi musim depan yang berarti untuk kesepuluh kali yang beruntun, ke-39, dan mendekati gelar keempat puluh, berbintang empat di kaos mereka ketika bintang dua saja mungkin perlu dua atau tiga dekade menggapainya. Jangan pernah kehilangan harapan, karena jika kehilangan harapan maka kemungkinan Seri A akan tinggal kenangan dan berganti nama menjadi Seri J, Juventus. Lalu apa yang perlu dilakukan oleh klub pesaing agar dapat menggagalkan lahirnya Seri J untuk menggantikan Seri A.

Saya pikir langkah yang dilakukan Inter Milan musim ini patut dicontoh. Musim depan, jika tidak kehilangan para pemain bintang secara masif seperti Lautarao Martinez, Skriniar atau mungkin juga Christian Eriksen, maka Inter Milan berpeluang besar menjadi scudetto. Langkah strategis sudah dilakukan tim biru hitam musim ini. Salah satu langkah cerdik adalah dengan memboyong para persona yang memiliki darah pemenang Juventus ke Giuseppe Meazza. Diantaranya, juru transfer Beppe Marrota, dan sang allenatore, Antonio Conte.

Sang pemilik baru asal China, Steven Zhang sepertinya mengerti benar filosofi mengalahkan Juventus yaitu berpikir seperti Juventus. Berpikir mengalirkan mental pemenang ke anak-anak biru hitam agar haus dan dahaga juara seperti La Vechia Signora. Caranya adalah dengan melakukan transfer secara cerdas dengan mendatangkan pemain yang cocok dengan keinginan pelatih serta mendatangkan pelatih yang bermental pemenang seperti Antonio Conte. Hasilnya mujarab. Inter dapat dikatakan tampil luar biasa musim ini, menjadi tim yang menempel ketat Juventus di pucuk klasemen hingga giornata terakhir, serta menjadi tim yang memiliki karakter tangguh dengan pertahanan yang paling solid dan penyerang yang tajam.

Internisti sudah bermimpi agar Inter menjadi scudetto musim ini, namun menurut saya terlalu premature harapan atau mimpi itu, perlu panjang sabar. Mengalahkan superioritas Juventus yang sudah meraih gelar kedelapan kali secara beruntun tentu tidak mudah. Menurut saya, Inter butuh satu musim untuk beradaptasi menjadi pemenang, lalu musim depan menjadi scudetto. Artinya musim depan Inter scudetto? Jika arah angin tak berubah, maka sangat mungkin. Cara seperti ini sebenarnya sudah coba dilakukan oleh De Laurentius, bos besar Napoli. Dia merekrut Carlo Ancelotti sebagai pelatih Napoli ketika merasa komposisi pemainnya sudah bisa bersaing dengan Juventus.

Sayang di tengah jalan, Ancelotti dan Laurentius berseteru dan akhirnya Napoli harus seperti restart dari nol lagi ketika mendatangkan Gennaro Gattuso sebagai pelatih. De Laurentius memuja muji Gatusso tapi hati kecilnya tahu, untuk bersaing dengan Juventus, itu tak cukup. Akhirnya, Inter hanya menjadi peserta Liga Eropa musim depan, dan bersiap kehilangan pemain bintang yang ingin tampil di Liga Champions seperti Koulibaly atau Arkadiuz Milik. Soal AS Roma, ini kasusnya berat. Mereka kehilangan semangat karena belum menemukan investor yang kaya seperti Inter Milan dan Juventus. Tanpa uang yang melimpah dan berharap hanya kepada pemain muda berpotensi seperti Zaniolo.

Roma tak akan bisa berbuat banyak. Kecuali, ada pengusaha China yang mau mengakuisisi Roma. Itu tentu doa utama Romanisti menyambut musim depan. Saudar sekota Roma, yakni Lazio musim depan nampaknya akan seperti musim ini. Berlari cepat, bernafsu tetapi kehabisan bensin mendekati akhir musim. Kedalaman skuad yang tak dalam memang hanya bisa membuat mereka berjalan seperti ini dan cukup mensyukuri berada di posisi keempat di bawah tim penuh kejutan musim ini, Atalanta.

Lazio nampaknya sudah cukup bersukacita ketika Ciro Immobile berhasil meraih Golden Boot Eropa, dan berharap pemain kunci mereka seperti Milinkovic Savic, Luis Alberto tidak tergoda untuk keluar dari klub atau mengikuti jejak Immobile yang diincar Everton dengan Carlo Ancelotti-nya. Jika para pemain bintang ini hengkan, elang biru tidak akan terbang jauh lagi musim depan. Apakah ini berarti jika hal-hal yang menjadi kelemahan klub pesaing mampu diperbaiki, maka Juventus tidak akan menjadi scudetto lagi.

Ahaa, ini pertanyaan yang sulit, sangat sulit. Andrea Agnelli, presiden Juventus nampaknya bukan orang yang cepat puas, nafsunya tinggi–mungkin karena masih muda. Bagi Agnelli, scudetto sedari awal sudah masuk dalam prioritas utama, setara dengan target untuk kembali menjadi juara Liga Champions. Makanya ketika Juventus menang atas Sampdoria dan memastikan meraih gelar Scudetto mereka, Agnelli nampak melompat kegirangan dan memeluk erat direktu Pavel Nedved dan juru transfer, Fabio Paratici.

Artinya, jika masih sehaus sekarang untuk Scudetto yang sebenarnya sudah kekenyangan, Juventus tentu akan terus mengejar gelar juara dan memperkuat skuad mereka. Kecuali, jika akhirnya Agnelli musim depan menempatkan Seri A sebagai prioritas kedua, dan mengutamakan Liga Champions, artinya dia akan menginstruksikan secara khusus untuk melepas Seri A demi gelar Eropa.

Seri A musim depan patut ditunggu. Prediksi saya kompetisi akan semakin seru. Inter Milan tetap akan menjadi pesaing utama Juventus dengan gangguan signifikan dari klub seperti Napoli, Lazio dan Roma. Oh, bagaimana Atalanta? Klub ini spesial, tapi bukan klub besar. Perlu ditunggu konsistensinya di kompetisi panjang seperti Seri A, baru dapat diperhitungkan lagi.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020 – Jujur saja pertandingan ini berjalan unik. Meski tetap menyajikan kualitas, namun di beberapa momen terlihat seperti drama Korea. Dimulai dari Arsenal yang kebobolan terlebih dahulu lewat kombinasi ciamik Olivier Giroud dan Christian Pulisic. Nama terakhir berhasil menjebol gawang Emiliano Martinez. Menariknya, laga ini menjadi duel head to head antara dua penjaga gawang beda generasi dari negara yang sama, Argentina. Mereka adalah Martinez dan William Caballero.

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Seperti Drakor Arteta Antarkan Arsenal Juarai Piala FA 2020

Arsenal memasang Martinez, karena kiper utama mereka Bernd Leno cedera. Sedangkan Chelsea memasang Willy Caballero, karena kiper utama mereka Kepa Arrizabalaga seperti sedang mendapatkan mosi tidak percaya. Bukannya tanpa respek, namun keberadaan Caballero juga tak sepenuhnya akan menjamin ketenangan. Caballero terkadang terlalu irit dalam bergerak dan kurang cepat dalam merespon tendangan lawan. Namun, ada satu hal kelebihan Caballero sebagai kiper senior di Premier League, yaitu kemampuannya mengalirkan bola dari belakang ke depan. Hal ini juga diperlihatkan pada final di Wembley.

Hanya, sayangnya lini depan Chelsea kurang bagus dalam bertransisi. Termasuk kurang efektif dalam berupaya menyerang balik ke pertahanan Arsenal. Selain duel kedua kiper itu, laga ini juga dihiasi dengan duel “sang mantan”. Menariknya, dua pemain yang dimaksud juga sering berduel hingga di area tengah lapangan. Mereka adalah David Luiz dan Olivier Giroud. David Luiz adalah mantan bek andalan Chelsea yang harus tersisih dari skuad The Blues, karena faktor umur. Sedangkan Giroud tersisih karena Arsenal berhasil mendatangkan Pierre-Emerick Aubameyang.

Meski sama-sama berawal dari kisah terbuang, namun keduanya mampu memperlihatkan tren performa yang bagus menjelang akhir musim 2019/20. Giroud sering mencetak gol ketika menjadi starting eleven, sedangkan Luiz mulai mampu menjaga pertahanan Arsenal dengan lebih baik. Hasilnya pun cukup oke, karena Giroud mencetak asis sedangkan Luiz mampu mempertahankan skor tetap 2-1 sampai dirinya ditarik keluar pada menit 80-an. Secara kolektif pun Luiz dapat keluar dari Wembley Stadium dengan senyum gembira.

Juaranya Arsenal di Piala FA memang bisa dikatakan cukup mengejutkan. Karena secara statistik, performa mereka baik di liga dan Piala FA tidak begitu bagus jika dibandingkan Chelsea. Bahkan, aura kemenangan Chelsea sudah cukup terasa ketika skuad asal London Barat itu mampu memulai pertandingan dengan baik. Ditambah dengan adanya gol cepat Pulisic sebagai penegas. Hanya, yang membuat Chelsea menjadi tidak lebih baik dari Arsenal adalah mereka mudah terbawa ritme permainan lawan. Mereka tidak mampu membuat tekanan yang sama seperti yang dilakukan di 10 menit awal.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa momen ketika Arsenal keluar menyerang dan menguasai bola. Barisan pemain Chelsea menjaga pertahanan terlalu dalam, sedangkan mereka tidak memasang pemain cepat di depan. Jika dibandingkan, antara pemain Arsenal dengan Chelsea memiliki karakteristik berbeda. Arsenal memasang tiga pemain cepat dan penuh akselerasi di depan, yaitu Aubameyang, Alexandre Lacazette, dan Nicolas Pepe. Sedangkan Chelsea menaruh dua pemain cepat dengan adanya Pulisic dan Mason Mount. Namun, secara akselerasi dan intensitas, hanya Pulisic yang dapat diandalkan.

Sedangkan Mount lebih ke pengisi ruang di sayap agar dapat membongkar trio Rob Holding, Luiz, dan Kieran Tierney. Jika strategi ini berjalan lancar, maka situasinya akan menguntungkan bagi Giroud, karena ia akan hanya bertarung dengan satu atau dua pemain saja di dalam kotak penalti. Gambarannya kurang lebih seperti ketika Chelsea bisa mencetak gol. Namun, pasca Arsenal menemukan ritme, ditambah dengan keberhasilan mereka mencetak gol penyama kedudukan lewat eksekusi penalti Aubameyang. Chelsea seperti belum bisa bangkit.

Nahasnya, drama kembali muncul bagi Chelsea ketika sang kapten, Cesar Azpilicueta harus keluar karena cedera hamstring. Keluarnya sang kapten seperti membuat Chelsea bermain seperti kurang jelas, antara yakin menguasai permainan atau fokus bertahan. Mereka kurang pasokan pemain berpengalaman di posisi yang sedang ditempati oleh kekuatan terbaik Arsenal, yaitu sisi kiri lapangan. Sisi itu diisi Maitland-Niles, Kieran Tierney, dan Aubameyang. Keluarnya Azpilicueta membuat Chelsea perlu segera kembali menyerang khususnya ketika babak kedua dimulai. Namun, kesialan kembali menimpa Chelsea karena Pulisic harus mengalami nasib yang persis dengan Azpilicueta.

Cedera hamstring menimpa pemain asal Amerika Serikat itu karena diduga dia terlalu cepat untuk berakselerasi ketika otot-ototnya belum kembali siap pasca jeda babak pertama. Musibah ini jelas mengubah peruntungan bagi kedua tim, dan Arsenal menjadi semakin percaya diri. Skuad asuhan Mikel Arteta memang tidak sepenuhnya dominan, namun mereka cukup mampu memanfaatkan momen-momen tertentu untuk menjadi keuntungan. Satu hal yang paling penting untuk menjadi sorotan dari permainan Arsenal adalah kengototan saat membangun serangan.

Mereka benar-benar seperti badai yang cepat meruntuhkan pertahanan Chelsea yang sedang galau karena kehilangan figur leader. Praktis, pemain yang paling berusaha mengambil tanggung jawab di lini belakang adalah Andreas Christensen. Pemain yang masuk menggantikan Azpilicueta itu terus berupaya menghalau serangan sporadis Arsenal. Salah satunya adalah ketika serangan cepat The Gunners diprakarsai oleh Hector Bellerin. Pemain asal Spanyol itu berhasil menerobos pertahanan Chelsea dan membuat Christensen harus menyapu laju Bellerin. Bola sebenarnya berhasil disentuh oleh kakinya, namun bola itu masih dijangkau oleh pemain Arsenal dan sampai pula ke kaki Aubameyang.

Lewat sedikit tekukan, Auba berhasil mencetak gol keduanya sekaligus membawa Arsenal berbalik unggul. Sungguh mengecewakan bagi penggemar Chelsea jika melihat timnya terpedaya oleh strategi permainan pragmatis Arsenal. Namun, begitulah sepak bola, mereka juga memiliki dramanya di atas lapangan. Termasuk dengan adanya kartu merah yang keluar dari saku wasit Anthony Taylor. Kartu merah itu menjadi penyebab keempat bagi kenahasan Chelsea selain cederanya Azpilicueta, Pulisic, dan taktik Arsenal. Ketika kartu kuning kedua diterima Mateo Kovacic, praktis Chelsea harus mengambil banyak risiko, dan itu memang dilakukan Frank Lampard.

Manajer asal Inggris itu memasukkan banyak pemain bertipikal menyerang dengan adanya Pedro, Hudson-Odoi, Ross Barkley, dan Tammy Abraham. Namun, sayangnya Pedro juga harus mengalami cedera. Pemain asal Spanyol itu sebenarnya mampu membuat Chelsea menaruh harapan. Ditambah dengan posisi bermainnya yang cederung fleksibel, maka pemain Arsenal akan sulit menaruh fokus pada pergerakan Pedro. Walau demikian, di balik kemenangan mereka, Arsenal tetap harus sadar bahwa mereka tidak sepenuhnya bagus dalam mengorganisir permainan. Dalam beberapa momen, terlihat mereka masih kurang efektif dalam menyerang, termasuk masih adanya kegugupan ketika menguasai bola di area pertahanan sendiri.

Beruntung, mereka menghadapi Chelsea yang kurang total dalam bermain, akibat kurangnya plan termasuk ketidakberuntungan yang di luar prediksi Lampard tentunya. Namun, dengan hasil ini Arsenal berhak kembali ke pentas Liga Eropa musim depan dan berharap dapat mencapai hasil yang lebih baik dari musim ini. Sedangkan bagi Chelsea, kekalahan ini tidak sepenuhnya buruk untuk reputasi mereka dan Frank Lampard. Mereka masih mampu menguasai permainan, bahkan tidak terbantai meski kehilangan 2 pemain di lapangan.

Itu artinya jika terjadi duel di musim depan antara Lampard dengan Arteta, bisa saja hasilnya dapat berbeda. Jadi, tetap semangat Chelsea! Coba lagi musim depan. Untuk Arsenal, selamat ya sudah menyelamatkan musim yang penuh drama ini dengan trofi Piala FA yang juga diraih dengan banyak drama. Semoga musim depan bisa lebih baik lagi.

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang – Liga Spanyol musim 2019/20 sudah menyelesaikan seluruh tugasnya. Liga Santander menghasilkan Real Madrid sebagai juaranya. Ini adalah gelar ke 34 kali yang dicapai tim yang yang dijuluki Los Blancos itu di Liga Spanyol. Pasukan Zinedine Zidane itu pada akhirnya mengumpulkan 87 poin. Sedangkan tiga tim harus turun kasta ke Segunda Division yaitu Leganes, Real Mallorca, dan Espanyol.

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

3 Sinar Asia di Liga Spanyol Musim ini Ada Wonderkid Jepang

Tuntasnya perhelatan itu meninggalkan sejumlah catatan menarik, di antaranya dari kiprah para pemain Asia yang berlaga di Liga Spanyol. La Liga diisi oleh sejumlah pemain “top” seperti Lionel Messi, Luis Suarez, Karim Benzema, dsb. Tiga pesepakbola yang berasal dari Asia di Liga Santander musim ini, mereka diwajibkan bersaing dengan deretan para pemain hebat tersebut. Mereka adalah Takefusa Kubo (19 tahun) yang bermain untuk RCD Mallorca, sebagai status pinjaman dari Real Madrid.

Pemain yang dijuluki “Messi Jepang” ini sebenarnya mendapatkan gemblengan di masa yuniornya di Akademi La Masia milik Barcelona pada 2011-2015. Sempat membela Barca yunior, karena aturan FIFA, Kubo tidak bisa melanjutkan kariernya di Blaugrana. Dia pun pulang ke negaranya dan bergabung dengan FC Tokyo. Sejak kecil di negeri Matador, Kubo menjadi fasih berbahasa Spanyol. Pada awal musim tahun lalu, Real Madrid membeli Kubo dan mengontraknya lima tahun.

Belum sempat bermain untuk Los Blancos, “Messi Jepang” dipinjamkan ke Real Mallorca. Di sinilah Kubo memulai debut perdananya di level senior Liga Spanyol. Messi Jepang mencetak 4 gol dan 5 assist dari 35 kali penampilan. Namun performanya yang cukup mengesankan, tak mampu menolong tim yang dibelanya. Mallorca bertengger di posisi ke 19 klasemen akhir La Liga dan degradasi ke Segunda Division. Pemain Jepang lainnya yang bermain di La Liga (Smart Bank) adalah Shinji Okazaki (34 tahun).

Okazaki sebenarnya adalah milik Leicester City. Okazaki merupakan bagian penting dari tim Liga Inggris itu ketika pada musim 2015/16, mereka secara mengejutkan keluar sebagai juara Premier League. Dari 36 kali main bersama “Si Rubah”, Okazaki mencetak lima gol. Di saat itulah, namanya muncul ke permukaan. Setelah “dibuang” Leicester ke Malaga. Hanya dua bulan di klub itu, Okazaki dipinjamkan ke SD Huesca. SD Huesca merasa beruntung karena Okazaki dipinjamkan dengan status bebas transfer.

Keuntungan lain yang diperoleh Huesca adalah kini mereka untuk kedua kalinya naik lagi ke kasta tertinggi Liga Spanyol pada musim 2020/2021. Kali pertama sejak didirikan tahun 1960, Huesca bermain di Liga Santander pada musim 2017/18. Okazaki ternyata tidak mengecewakan para pendukung Huesca. Tampil impresif, dia menjadi bintang di tim itu sekaligus menjadi top skorer dengan catatan 12 gol. Dengan demikian, Huesca bukan saja promosi ke La Liga musim depan menyusul Cadiz CF yang sudah terlebih dahulu memastikan promosi. Tetapi mereka juga juara Liga Smart Bank.

Melihat penampilan Si Mesin Gol ini, tak pelak nampaknya, Huesca akan memperpanjang kontraknya. Pemain ketiga Asia yang merumput di Liga Spanyol adalah “Maradona Cina” Wu Lei. Top skorer Liga Cina baru keluar dari “sarang naga” ketika bermain untuk Espanyol. Kontribusi Wu Lei dengan status debutan di benua biru terbilang cukup baik. Sayang, penampilan impresif nya tidak menolong timnya untuk tetap berada di La Liga musim 2020/21.

Dari 49 kali penampilannya di semua kompetisi dia menjadi top skorer klub dengan 8 gol. Espanyol berada di posisi paling bawah (20) dengan perolehan 25 poin. Wu Lei menjadi sensasional ketika dia menggagalkan kemenangan Barcelona dalam putaran pertama La Liga pada 5 Januari lalu. Barcelona nampaknya saat itu bakal memetik tiga poin penuh. Mereka sudah unggul 2-1 hingga menit-menit akhir pertandingan. Akan tetapi gol dari Wu Lei di menit terakhir (88) menggagalkan kemenangan mereka. Skor akhir menjadi imbang 2-2. Laga itu digelar di Stadion Cornella El Prat.

Wu Lei terpilih menjadi punggawa terbaik di Liga Spanyol musim 2019/20. Itulah tiga punggawa terbaik Asia yang merumput di Liga Spanyol musim yang baru saja usai, yang dirilis oleh pihak La Liga. Sejauh ini AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mencatat ada 36 punggawa Asia sepanjang sejarah yang sedang atau pernah merumput di Liga Spanyol.