Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun – Setelah peluit panjang dibunyikan, Bos Juventus Andrea Agnelli langsung memeluk Pavel Nedved dan Fabio Paratici ,mereka tertawa bahagia dan sesekali menggempalkan tangan tanda lega dan puas. Di lapangan, sang Kapten Leonardo Bonnuci menginisiasi untuk membuat lingkaran, berpegangan tangan dengan pemain Juventus lainnya, bernyanyi dan melompat kegirangan. Setelah kurang lebih semenit melakukan hal itu, mereka berpelukan satu sama lain.

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Juventus Kunci Gelar Scudetto untuk Kesembilan Kali Secara Beruntun

Meski aneh karena tanpa teriakan penonton, anthem yang dinyanyikan bersama dengan puluhan ribu Juventini, namun Juventus pantas gembira. Raihan ini adalah gelar scudetto La Vechia Signora yang ke-36 dan juga adalah raihan kesembilan secara beruntun, sebuah rekor fantastis di Italia dan rasanya akan sulit dipecahkan minimal dalam satu dekade ke depan. Namun, meski mengunci gelar dengan pekan masih tersisa dua pertandingan, harus diakui jalan menuju scudetto musim ini terlihat tak mudah bagi Juventus.

Dimulai dari transisi pergantian pelatih dari Massimiliano Allegri ke Maurizio Sarri yang tak berjalan mulus. Alasan utama pergantian allenatore ini bagi bos Agnelli adalah membuat Juventus tampil lebih menghibur dengan Sarriball yang mirip gaya Pep Guardiola. Persoalan besar muncul, mulai dari pemain Juventus yang masih kaku dalam beradaptasi dengan gaya menyerang ini, yagn akhirnya menimbulkan ketidakseimbangan dalam tim. Juventus selalu kesulitan menghadapi serangan balik lawan, dan akhirnya kebobolan.

Ini tentu saja berbeda dengan gaya Max Allegri yang dapat dibilang sedikit pragamtis, bertahan tetapi lebih aman dari segi permainan. Akibatnya Juventus terengah-engah dan membuat klub rival seperti Inter Milan atau Lazio sempat mengejar dan bahkan sementara menduduki singasana klasemen.

Syukur bagi Juventus, di tengah kesulitan itu, klub rival juga mengalami masalahnya sendiri. Ketika Juventus kalah, rival juga kalah, jika Juventus seri, rival bahkan mengalami kekalahan. Ada apa dengan para rival? Antonio Conte sebagai pelatih baru Inter Milan memang mampu membuat Inter tampil lebih baik dari musim lalu, tetapi tak cukup untuk membuat Inter menjadi juara. Pemain baru, strategi baru membuat Inter juga harus beradaptasi. Inter musim ini berhasil menggantikan Napoli sebagai rival terberat Juventus, hanya seperti Napoli di era Sarri, runner-up sudah lebih dari cukup setelah penyakit lama tetap muncul terjegal kalah dari klub-klub lebih kecil.

Lazio juga demikian, meski sakitnya sedikit berbeda. Tampil apik, rehat karena Covid-19 membuat Lazio kembali seperti menjadi anak baru. Kepercayaan diri Elang Biru seperti memudar dan Inzaghi yang sempat dipuja-puji sebagai pelatih jenius juga tak mampu membuat Lazio tampil dengan energi lagi. Apalagi Lazio harus diakui tidak memiliki kedalaman skuad yang cukup seperti Inter ataupun Juventus. Jika kehilangan Immobile atau Luis Alberto, Lazio seperti ayam sakit, jalan tertatih-tatih, dan mengantuk, tanpa arah.

Berjuang, bersaing dengan Inter dan Atalanta untuk memperebutkan posisi dua adalah iklim kompetitif mereka di akhir musim. Scudetto masih hanyalah mimpi. Soal Atalanta, ya begitulah. Mimpi mereka sekarang adalah menjuarai Liga Champions, setelah energy Ajax Amsterdam musim lalu seperti pindah ke mereka musim ini. Di Seri A, sudah hebat mereka bisa tampil tajam, produktif dengan matari pemain yang kalah dair klub-klub raksasa Seri A. Napoli, AC Milan dan AS Roma dibiarkan berjarak dengan mereka. Sebuah prestasi dari anak-anak asuhan Gasperini yang tetap pantas diajukan jempol.

Kembali ke Juventus. Merayakan juara dalam sepinya stadion J Stadium ada gunanya. Yaitu, memiliki kesempatan untuk merenungkan serta mempersiapkan laga ke depan dan musim depan dengan lebih baik. Laga ke depan yang dimaksud adalah laga melawan Lyon di perdepalan final Liga Champions, dimana Juve masih ketinggalan aggregat 0-1. Euforia scudetto harus berhasil dikonversi menjadi tenaga super untuk membalikkan keadaan, jika mimpi untuk menjadi juara Eropa lagi ingin diraih.

Bukankah ini yang diharapkan Agnelli sesudah merekrut sang megabintang, Christiano Ronaldo dengan banderol mahal dan mencari pelatih berstrategi menyerang seperti Sarri untuk mendukung Ronaldo. Jalan nampak masih terjal, karena klub-klub pesaing yang hebat seperti Barcelona, Mancheter City atau PSG juga masih ada di kompetisi ini, itupun jika lolos dari Lyon. Memang tak mustahil tetapi tetap berat. Untuk musim depan, Juventus juga harus segera bergerak aktif dalam bursa transfer.

Kedatangan Arthur untuk menggantikan Miralem Pjanic yang bertukar tempat ke Barcelona bukanlah jaminan. Salah satu isu yang perlu diperhitungkan adalah apakah Ronaldo akan terus prima di usia 35 tahun lagi. Lini tengah dan lini depan harus diperbaiki, demi menopang gaya bermain Sarri yang memang mengharuskan para pemain memiliki stamina yang prima sepanjang 90 menit. Ah, lini belakang juga harus melakukan transisi dengan mulus dari Chiellini, Bonnuci ke Mathis De light dan Merih Demiral. Dua bek muda yang diharapkan menjadi bek masa depan.

Usia uzur Chiellini dan Bonnuci membuat mereka mungkin hanya bisa bertahan maksimal semusim lagi, setelah itu Juventus harus memastikan tembok mereka tetap kokoh. Kunci utama mereka dalam kejayaan mereka selama bertahun-tahun. Jika gagal dalam menyiapkan komposisi pemain yang lebih baik musim depan, maka Inter Milan, Lazio ataua bahkan Atalanta rasanya akan menyodok, menggagalkan mimpi scudetto mereka ke-10 kali secara berturut musim depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *