Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta – Manchester United (MU) gagal melanjutkan tren kemenangannya di Liga Inggris. Selasa (14/7) dini hari tadi, MU serasa “dirampok” di rumahnya sendiri oleh tamunya, Southampton. Frasa dirampok itu rasanya tidak berlebihan untuk menggambarkan pertandingan ini. Betapa tidak, kemenangan MU yang sudah di depan mata, lenyap di menit akhir.

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

Ketat Berebut Tiket ke Liga Champions Man United Dibantu Semesta

MU yang di empat laga sebelumnya menang beruntun, mendapat perlawanan ketat dari Southampton yang tampil tanpa beban karena sudah aman dari degradasi dan tidak berpeluang lolos ke kompetisi Eropa. Southampton unggul lebih dulu lewat gol Stuart Amstrong di menit ke-12. MU lantas ‘terbangun’. Hanya dalam tiga menit, MU bisa membalik skor lewat gl Marcus Rashford di menit ke-20 dan Anthony Martial di menit ke-23.

Namun, petaka dialami MU di menit ke-96. Berawal dari sepak pojok, Michael Obafemi yang baru masuk ke lapangan tiga menit sebelum laga usai, berhasil meneruskan bola ke gawang MU. Laga pun berakhir 2-2. MU pun kehilangan dua poin. Hanya bisa menambah satu poin dari kemungkinan mendapat tiga poin (bila menang). Dan itu bisa jadi masalah bagi upaya mereka untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Mungkinkah pemain-pemain MU mulai merasakan ketegangan dari imbas dicabutnya sanksi Manchester City perihal larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim ke depan. Petang kemarin, media-media di Inggris kompak memberitakan kabar itu. Bahwa, sanksi UEFA untuk Manchester City dicabut setelah banding mereka dikabulkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

City ban lifted.

Begitu pengumuman yang diposting akun Instagram Sky Sports, petang kemarin. Dengan begitu, maka Manchester City dipastikan akan tampil di Liga Champions musim depan. Nah, dicabutnya sanksi untuk City itu membuat Liga Inggris semakin memanas. Perebutan empat tiket ke Liga Champions kini semakin sengit ketika Premier League tinggal menyisakan tiga pertandingan.

Gambaran panasnya begini. Sebelumnya, ketika City diasumsikan diskorsing, tim peringkat 5 bisa lolos ke Liga Champions musim depan karena menggantikan posisi City. Kini, dengan Liverpool dan City sudah pasti lolos ke Liga Champions musim depan, maka ’empat tiket’ itu kini tersisa dua. Dan itu hanya untuk tim peringkat 3-4. Sementara, sedikitnya masih ada lima (5) tim yang secara hitung-hitungan di atas kertas, masih berpeluang untuk lolos

Dari Chelsea (60 poin/peringkat 3), Leicester City (59 poin/4), Manchester United (59/4), Wolverhampton (55/6), dan Sheffield United (54/7). Mereka bakal saling “baku hantam” di tiga pertandingan terakhir. Semesta mendukung MU Merujuk gambaran tersebut, MU pasti sangat menyesali hasil imbang atas Southampton. Sebab, andai menang, Bruno Fernandes dkk pasti sudah ada di peringkat 3 dengan 61 poin.

Toh, hasil melawan The Saints–julukan Southampton itu tidak perlu terlalu diratapi. MU masih bisa move on. Terlebih, fenomena yang terlihat, semesta seolah mendukung Tim Setan Merah untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Ya, semesta seperti merestui harapan besar MU untuk kembali tampil di Liga Champions, kompetisi yang telah mereka menangi tiga kali, setelah hanya jadi penonton di musim 2019/20 ini.

Merujuk pada ujaran novelis asal Brasil, Paulo Coelho di buku The Alchemist yang terkenal itu. When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benarkah semesta memang telah ‘berkonspirasi’ membantu Manchester United untuk kembali tampil di Liga Champions musim 2020/21 depan. Bahwa, bantuan semesta itu bisa berbentuk “pertolongan” dari tim-tim lain. Bantuan semesta itu juga bisa berbentuk penampilan buruk dari tim-tim pesaing pemburu tiket ke Liga Champions.

Kekalahan bersamaan yang dialami Chelsea dan Leicester City–dua pesaing utama MU–pada akhir pekan kemarin, menjadi tanda-tanda kesekian kalinya bahwa semesta membantu Tim Setan Merah untuk mengakhiri kompetisi sebagai juara. Ya, siapa sangka, Chelsea, yang sebelumnya meraih kemenangan beruntun, malah babak belur di markas Sheffield United

Sehari kemudian, MU kembali mendapat kabar bagus ketika Leicester City justru hancur lebur di markas Bournemouth. Ya, Leicester yang sempat unggul lebih dulu, justru kalah 4-1 dari tim ‘pejuang degradasi’ itu. Padahal, sebelum laga, Leicester diprediksi akan menang di markas Bournemouth. Begitu juga Chelsea yang diyakini bisa setidaknya mendapatkan poin di markas Sheffield. Yang terjadi, semesta rupanya tidak menghendaki prediksi itu.

Memang, kemenangan West Ham dan Bournemouth itu sangat penting bagi diri mereka sendiri demi menjaga asa tetap bertahan di Premier League alias tidak terdegradasi. Tapi, kemenangan mereka juga menjadi pertolongan bagi MU dalam upaya lolos ke Liga Champions. Keputusan wasit yang debatable
Sebelum Chelsea dan Leicester kalah, MU lebih dulu meraih kemenangan di markas Aston Villa. MU menang 3-0 (9/7). Nah, kemenangan MU itu disorot oleh beberapa media. Termasuk Sky Sports.

Sorotan tertuju pada gol pertama MU yang dicetak Bruno Fernandes melalui titik penalti. Media menayangkan tayangan ulang ketika Bruno melakukan gerakan berputar untuk melindungi bola yang dikuasainya, tepat setelah memasuki batas di area dalam penalti Villa. Nah, yang menjadi sorotan, sebelum jatuh karena kontak dengan pemain Villa, kaki Bruno Fernandes justru menginjak kaki pemain Villa yang mengawalnya. Namun, wasit yang menengok Video Assistant Referee (VAR), tetap memutuskan penalti.

Beberapa media juga memunculkan data tentang tim-tim Liga Inggris yang mendapat penalti dan dihukum penalti. Dari data tersebut, MU menjadi tim yang paling banyak mendapatkan penalti (13 kali) di musim ini dan hanya sekali dihukum penalti. Sementara Chelsea dan Leicester sama-sama 7 kali pernah mendapat penalti. Toh, bagaimanapun, itulah dinamika yang terjadi. Dan, keputusan wasit yang debatable seperti di markas Aston Villa itu, juga bisa menjadi bagian dari ‘dukungan semesta’ untuk Manchester United.

Namun, sebanyak apapun bantuan semesta untuk Manchester United yang berwujud ‘pertolongan’ tim-tim lain, penampilan memble para pesaing, maupun keputusan wasit yang sumir, penentu akhir adalah MU sendiri. Ya, lolos tidaknya MU ke Liga Champions musim depan, akan bergantung dari hasil yang mereka raih di tiga laga terakhir. Bukan bergantung pada hasil dari tim-tim lain.

Memang, dengan hasil 2-2 melawan Southampton dini hari tadi, MU kini masih ada di peringkat 5. Tapi, kabar bagusnya bagi fans MU, jadwal ‘menguntungkan’ tim asuhan Ole Solskjaer ini. Ya, jadwal juga menjadi wujud lain bantuan semesta untuk MU. Sebab, MU masih akan bertemu langsung dengan salah satu pesaing, yakni Leicester City. Andai tidak ada lagi jadwal bertemu langsung, bila MU menang beruntun sementara pesaing mereka juga menang beruntun, bisa jadi ‘perjuangan’ MU akan sisa’-sia.

Di tiga laga terakhir, pesaing utama MU dalam perburuan tiket Liga Champions bukan lagi Chelsea. Sebab, MU tidak akan bertemu Chelsea. Apalagi, dengan Chelsea menjamu Norwich dan Wolverhampton, dan away ke Liverpool, The Blues berpeluang meraih 6 atau 7 poin tambahan. Pesaing langsung MU kini adalah Leicester City. Sebab, MU akan menjamu Leicester di Old Trafford pada pertandingan terakhir. Dan itu sangat mungkin akan menjadi penentuan ‘tiket terakhir’ menjadi milik siapa.

Bila begitu, dengan tambahan 6 poin, maka MU dan Leicester akan memiliki poin sama, 65 poin. Tinggal menunggu bagaimana pertemuan mereka di laga terakhir. Bagaimana jika ternyata Leicester City ‘tersandung’ sebelum bertemu MU di laga terakhir.

Semisal Leicester ditahan Sheffield United yang tengah on fire, atau juga kalah atau bermain imbang saat away ke markas Tottenham. Bila begitu, semesta memang sedang sangat baik membantu MU untuk lolos ke Liga Champions. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *